RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat penguatan kinerja bisnis utama sepanjang Semester I 2026. Berdasarkan laporan keuangan KAI Group (unaudited), perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp17,96 triliun atau tumbuh 6,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp16,85 triliun.
Kenaikan pendapatan tersebut diikuti peningkatan laba bruto sebesar 18,81 persen menjadi Rp6,79 triliun dari sebelumnya Rp5,72 triliun. Sementara itu, laba usaha meningkat 25,79 persen dari Rp3,71 triliun menjadi Rp4,66 triliun.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, capaian tersebut menunjukkan bisnis utama KAI Group terus bertumbuh seiring peningkatan layanan, produktivitas, pengelolaan biaya, serta sinergi seluruh entitas perusahaan.
Menurut Anne, pertumbuhan pendapatan dan laba usaha menjadi fondasi penting bagi perusahaan untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang positif juga menjadi modal dalam pengembangan layanan penumpang maupun angkutan barang.
Sepanjang Semester I 2026, KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan atau meningkat 7,55 persen dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai 240.805.920 pelanggan. Layanan tersebut mencakup kereta api berskema Public Service Obligation (PSO), KA Perintis, penugasan pemerintah, hingga layanan komersial.
Dari total pelanggan tersebut, sebanyak 235.137.908 pelanggan atau sekitar 90,79 persen berasal dari layanan yang menjalankan PSO, KA Perintis, maupun penugasan pemerintah. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya kontribusi KAI sebagai penyedia transportasi publik bagi masyarakat.
Anne menjelaskan, dukungan pemerintah melalui skema PSO, layanan perintis, dan berbagai penugasan memungkinkan masyarakat memperoleh layanan kereta api dengan tarif terjangkau sekaligus menjangkau lebih banyak wilayah.
"KAI menjaga agar layanan tersebut tetap selamat, andal, tertib, dan sesuai kebutuhan pelanggan," ujarnya, dikutip Antara.
Selain layanan penumpang, sektor angkutan barang turut menjadi penopang pertumbuhan bisnis perusahaan. Selama Semester I 2026, KAI mengangkut 32.498.043 ton barang yang terdiri atas 26.534.095 ton batu bara dan 5.963.948 ton komoditas nonbatu bara.
Layanan tersebut mendukung distribusi berbagai komoditas strategis, mulai kebutuhan energi, industri, perkebunan, peti kemas, semen, bahan bakar, hingga berbagai kebutuhan logistik nasional. Moda kereta api dinilai mampu meningkatkan efisiensi distribusi karena memiliki kapasitas besar dan jadwal perjalanan yang terencana.
Untuk memperkuat layanan logistik, KAI menambah kapasitas angkutan barang melalui kedatangan 1.080 gerbong datar di Sumatra. Perusahaan juga mengembangkan layanan KA Brumbung Cargo dengan kapasitas hingga 800 ton dalam satu rangkaian.
Sementara itu, volume angkutan peti kemas pada Semester I 2026 mencapai sekitar 2,62 juta ton. Pengembangan tersebut ditujukan untuk memperluas pilihan distribusi berbasis rel yang berkapasitas besar, terjadwal, serta terhubung dengan pusat industri dan kawasan logistik.
Anne menegaskan, penguatan layanan barang menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas ekonomi nasional sekaligus menjaga kelancaran rantai pasok berbagai komoditas strategis.
Dari sisi keuangan, total aset KAI Group per 30 Juni 2026 mencapai Rp104,79 triliun. Total liabilitas tercatat Rp65,11 triliun atau turun dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp66,14 triliun. Sementara itu, total ekuitas meningkat menjadi Rp39,69 triliun dari sebelumnya Rp39,29 triliun.
Likuiditas perusahaan juga menunjukkan perbaikan. Aset lancar meningkat dari Rp19,40 triliun menjadi Rp21,04 triliun, sedangkan kewajiban jangka pendek turun dari Rp16,20 triliun menjadi Rp15,17 triliun. Dengan demikian, aset lancar tetap berada di atas kewajiban jangka pendek perusahaan.
Pada Semester I 2026, KAI Group membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp842,69 miliar dan laba tahun berjalan Rp314,03 miliar. Penurunan laba bersih dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya terutama dipengaruhi meningkatnya pencatatan bagian rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan, dari Rp948,20 miliar menjadi Rp3 triliun.
Meski demikian, bisnis utama perusahaan tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang tercermin dari kenaikan pendapatan, laba bruto, dan laba usaha.
Ke depan, KAI terus memperkuat transformasi perusahaan sejalan dengan agenda transformasi BUMN bersama Danantara Indonesia. Fokus transformasi diarahkan pada peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, tata kelola, modernisasi sarana dan layanan, pemanfaatan teknologi, serta penguatan sinergi dalam ekosistem BUMN.
Transformasi juga dilakukan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, meliputi kompetensi teknis, kepemimpinan, budaya keselamatan, kemampuan digital, hingga kesiapan pekerja menghadapi perkembangan industri.
Anne menilai kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting agar transformasi dapat berjalan efektif hingga tingkat operasional dan pelayanan.
"Transformasi dan sinergi bersama Danantara mendorong KAI untuk semakin disiplin dalam meningkatkan produktivitas, memperkuat tata kelola, dan mengembangkan kompetensi pekerja. Setiap penguatan kinerja perusahaan diarahkan kembali untuk menghadirkan layanan transportasi yang selamat, andal, mudah diakses, serta memberi manfaat bagi masyarakat dan perekonomian nasional," pungkasnya.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara