KAI Investasi Hampir Rp15 Triliun untuk Kereta Baru, Ini Daftar Sarana yang Disiapkan bagi Penumpang

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 06:13 WIB
KAI Group menginvestasikan hingga Rp14,88 triliun bersama INKA. (Antara)
KAI Group menginvestasikan hingga Rp14,88 triliun bersama INKA. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Group menggelontorkan investasi sekitar Rp14,68 triliun hingga Rp14,88 triliun untuk mempercepat modernisasi sarana perkeretaapian nasional. Investasi jumbo tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan PT Industri Kereta Api (INKA) untuk pengadaan kereta antarkota, Commuter Line, LRT Jabodebek, kereta luxury, hingga gerbong angkutan barang.

Langkah itu menjadi salah satu proyek pengadaan sarana perkeretaapian terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Selain meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan, investasi tersebut juga diharapkan memperkuat daya saing industri manufaktur kereta api nasional sekaligus mendukung kebutuhan transportasi publik dan logistik.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, kesinambungan pengadaan sarana memberikan kepastian pasar bagi industri perkeretaapian nasional. Kondisi tersebut membuka ruang bagi peningkatan kapasitas produksi, kompetensi sumber daya manusia, kualitas produk, hingga penguatan layanan purnajual.

"Pengadaan sarana membutuhkan perencanaan jangka panjang, kualitas yang konsisten, dan ketepatan penyelesaian. KAI Group mendorong kolaborasi profesional dengan INKA agar kebutuhan operasional dapat dipenuhi sekaligus memperkuat kemampuan industri perkeretaapian nasional," ujarnya, dikutip Antara.

Nilai investasi KAI bersama INKA meliputi:

Pada program replacement sarana periode 2023–2027, KAI memesan 612 unit kereta Stainless Steel New Generation produksi INKA. Seluruh kereta tersebut akan dirangkai menjadi 56 rangkaian dengan nilai kontrak mencapai Rp5,5 triliun.

Hingga saat ini, sebanyak 40 rangkaian telah diserahterimakan kepada KAI. Sebanyak 39 rangkaian sudah beroperasi melayani pelanggan, sedangkan satu rangkaian lainnya masih menjalani tahapan persiapan operasional.

Pengadaan kereta baru KAI tersebut dilakukan untuk menggantikan armada yang telah memasuki masa pembaruan. Kehadiran kereta Stainless Steel New Generation diharapkan meningkatkan keandalan perjalanan, menyeragamkan standar fasilitas, sekaligus memberikan kenyamanan yang lebih baik bagi pelanggan kereta api antarkota.

"Sebanyak 39 rangkaian Stainless Steel New Generation produksi INKA telah digunakan dalam pelayanan. Pembaruan ini dilakukan secara bertahap agar kualitas perjalanan dan kesiapan sarana dapat terus terjaga," kata Anne.

Modernisasi juga dilakukan pada layanan Commuter Line Jabodetabek. KAI Group mengalokasikan investasi sekitar Rp4,07 triliun untuk pengadaan rangkaian baru dan program retrofit.

Dari nilai tersebut, hampir Rp3,83 triliun digunakan untuk membeli 16 rangkaian atau 192 kereta Commuter Line baru. Sementara lebih dari Rp238,63 miliar dialokasikan untuk retrofit dua rangkaian.

Saat ini, tujuh rangkaian atau 84 kereta telah beroperasi melayani masyarakat. Sembilan rangkaian lainnya masih menjalani proses produksi, pengujian, sertifikasi, hingga persiapan operasional.

Sebelum digunakan dalam pelayanan, setiap rangkaian wajib melewati serangkaian pemeriksaan dan pengujian untuk memastikan seluruh sarana memenuhi standar keselamatan, keandalan, dan kebutuhan operasional Commuter Line.

Kolaborasi KAI dan INKA juga diwujudkan melalui pengadaan 31 rangkaian LRT Jabodebek atau sebanyak 186 kereta dengan nilai kontrak sekitar Rp3,9 triliun hingga Rp4,1 triliun.

Seluruh rangkaian LRT Jabodebek produksi INKA menggunakan teknologi otomatis Grade of Automation 3 (GoA3), yang memungkinkan pengoperasian kereta secara otomatis dengan pengawasan petugas.

Modernisasi tersebut sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat menggunakan transportasi berbasis rel. Sepanjang Semester I 2026, LRT Jabodebek melayani 16.018.911 pelanggan atau naik 22,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan jumlah pengguna tersebut menjadi indikator semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi perkotaan yang cepat, aman, dan efisien. Di sisi lain, keberhasilan pengoperasian LRT Jabodebek memperlihatkan kemampuan industri nasional dalam memproduksi sarana transportasi massal berteknologi otomatis.

KAI juga mengembangkan layanan premium melalui pengadaan 10 unit kereta luxury yang masing-masing berkapasitas 26 kursi. Satu unit tambahan disiapkan sebagai armada cadangan untuk menjaga kesinambungan pelayanan saat kereta menjalani perawatan berkala.

Total nilai kontrak pengadaan kereta luxury mencapai Rp161,16 miliar. Kehadiran armada tersebut diharapkan memberikan lebih banyak pilihan layanan bagi pelanggan yang menginginkan tingkat kenyamanan lebih tinggi.

Pada sektor logistik, KAI bersama INKA mengadakan 1.125 unit gerbong datar BM 54 ton dengan nilai kontrak Rp1,05 triliun. Gerbong tersebut dipersiapkan untuk meningkatkan kapasitas angkutan barang di Sumatra Selatan, terutama batu bara yang menjadi salah satu penopang pasokan energi listrik nasional.

Anne menilai besarnya nilai investasi tersebut menunjukkan pasar sarana perkeretaapian Indonesia masih memiliki prospek yang sangat besar. Karena itu, peningkatan kapasitas produksi, penguatan rantai pasok, konsistensi mutu, ketepatan penyelesaian proyek, serta layanan purnajual menjadi faktor penting yang harus terus diperkuat.

"Kepercayaan kepada industri nasional dibangun melalui kualitas produk dan konsistensi dalam memenuhi komitmen. KAI Group berharap kolaborasi bersama INKA terus menghasilkan sarana yang aman, andal, serta mampu mendukung peningkatan pelayanan transportasi publik dan logistik nasional," tuturnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
KAI Group lrt jabodebek inka