RADARBANYUWANGI.ID - Komitmen pemerintah menjaga keterjangkauan tarif sekaligus memperluas konektivitas transportasi berbasis rel terus menunjukkan hasil positif. Melalui skema Kewajiban Pelayanan Publik atau Public Service Obligation (PSO) serta pengoperasian Kereta Api (KA) Perintis, layanan kereta api semakin mudah diakses masyarakat di berbagai daerah.
Dukungan tersebut tercermin dari capaian KAI Group sepanjang Semester I 2026. Selama periode Januari hingga Juni 2026, perusahaan mencatat total 258.993.359 pelanggan menggunakan berbagai layanan transportasi rel. Jumlah tersebut meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 240.805.920 pelanggan.
Total pelanggan itu merupakan akumulasi pengguna layanan PSO, KA Perintis, penugasan pemerintah, hingga layanan komersial yang dioperasikan KAI Group.
Apabila dikelompokkan berdasarkan layanan yang menjalankan penugasan negara, seperti KA jarak jauh dan lokal PSO, KAI Commuter, LRT Jabodebek, sebagian layanan KA Bandara, LRT Sumatra Selatan, hingga KA Makassar–Parepare, jumlah pelanggannya mencapai 235.137.908 orang. Angka tersebut setara sekitar 90,79 persen dari total pelanggan KAI Group selama Semester I 2026.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, kebijakan subsidi melalui PSO dan pengoperasian KA Perintis menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan transportasi yang merata dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
"PSO berperan menekan tarif agar tetap ramah di kantong masyarakat, sementara KA Perintis hadir membuka rantai isolasi transportasi di daerah yang butuh dorongan pemerintah. Sinergi ini memastikan warga mendapat opsi perjalanan yang pas dengan kebutuhan mereka," ujarnya, dikutip Antara.
Pada layanan KA jarak jauh dan lokal bersubsidi, jumlah pelanggan sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 9.541.158 orang atau tumbuh 8,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, KA jarak jauh PSO melayani 5.958.724 pelanggan atau naik 4,88 persen. Sementara itu, KA lokal PSO mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 13,85 persen menjadi 3.582.434 pelanggan.
Layanan bersubsidi tersebut masih menjadi pilihan masyarakat untuk mendukung berbagai aktivitas, mulai bekerja, menempuh pendidikan, menjalankan usaha, hingga mengakses layanan publik antarkota.
Di sektor transportasi perkotaan, KAI Commuter tetap menjadi penyumbang pelanggan terbesar dengan melayani 204.151.200 pengguna atau meningkat 6,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan lebih tinggi juga dicatat LRT Jabodebek. Moda transportasi perkotaan tersebut melayani 16.018.911 pelanggan atau naik 22,84 persen, sekaligus memperkuat perannya sebagai tulang punggung mobilitas harian masyarakat di kawasan aglomerasi Jabodetabek.
Sementara itu, layanan KA Bandara bersubsidi melayani 3.048.132 pelanggan atau meningkat 3,14 persen. Kontribusi terbesar berasal dari KA Srilelawangsa relasi Medan–Kuala Bingai dengan sekitar 1,34 juta pelanggan, disusul KA Bandara YIA sebanyak 908 ribu pelanggan dan KA Srilelawangsa relasi Medan–Kualanamu sebanyak 793 ribu pelanggan. Adapun layanan komersial KA Bandara YIA Xpress secara terpisah melayani 434.765 pelanggan.
Di luar Pulau Jawa, pengembangan konektivitas melalui layanan perintis juga menunjukkan tren positif. LRT Sumatra Selatan bersama KA Makassar–Parepare melayani total 2.378.507 pelanggan sepanjang Semester I 2026. Kehadiran kedua layanan tersebut dinilai tidak hanya meningkatkan akses transportasi, tetapi juga mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi dan sosial di wilayah Sumatra Selatan serta Sulawesi Selatan.
Anne menegaskan, keberhasilan angkutan massal berbasis rel tidak terlepas dari sinergi antara pemerintah sebagai regulator, pemerintah daerah, dan operator transportasi.
"Dukungan penuh pemerintah lewat PSO dan armada perintis menjaga kereta api tetap menjadi moda yang terjangkau, aman, dan dapat diandalkan," pungkasnya.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara