Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Telur dan Ayam Ras di Banyuwangi Anjlok, Ini Penyebab Utamanya

Salis Ali Muhyidin • Kamis, 25 Juni 2026 | 00:00 WIB
Arif Kurniawan melakukan pemantauan harga komoditas di Pasar Genteng I pada Selasa (23/6). (Arif for Radar Banyuwangi)
Arif Kurniawan melakukan pemantauan harga komoditas di Pasar Genteng I pada Selasa (23/6). (Arif for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Setelah berbulan-bulan bertahan pada level tinggi, harga telur ayam ras dan daging ayam broiler di Banyuwangi akhirnya mengalami penurunan cukup tajam. Dalam sepekan terakhir, dua komoditas pangan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat itu merosot hingga puluhan persen akibat melimpahnya pasokan di pasaran dan melemahnya serapan pembeli.

Pantauan di Pasar Genteng I pada Selasa (23/6) menunjukkan harga telur ayam ras kini berada di angka Rp 21 ribu per kilogram (kg). Sementara harga daging ayam broiler atau ayam potong turun menjadi Rp 24 ribu per kg.

Penurunan tersebut menjadi kabar baik bagi konsumen. Namun di sisi lain, kondisi itu memunculkan kekhawatiran bagi pedagang karena berpotensi memengaruhi stabilitas omzet dan keuntungan usaha.

Petugas Pasar Genteng I Arif Kurniawan membenarkan tren penurunan harga yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan hasil pemantauan rutin, harga kedua komoditas tersebut turun secara bertahap sebelum akhirnya mencapai titik terendah dalam pekan ini.

“Harga telur ayam ras yang sebelumnya sempat menyentuh Rp 25 ribu per kilogram, saat ini turun cukup jauh menjadi Rp 21 ribu per kilogram,” ujarnya.

Penurunan serupa juga terjadi pada daging ayam broiler. Komoditas yang sebelumnya diperdagangkan hingga Rp 30 ribu per kg kini hanya berada di kisaran Rp 24 ribu per kg.

“Penurunan terbilang cepat dalam pekan ini,” tambah Arif.

Fenomena tersebut turut dirasakan para pedagang di dalam pasar. Salah satunya Ida Utami, pedagang daging ayam ras yang mengaku harga jual turun karena pasokan barang jauh lebih banyak dibanding jumlah pembeli.

Menurut Ida, salah satu faktor yang memicu kondisi itu adalah berhentinya sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah. Saat program berlangsung, kebutuhan telur dan daging ayam cukup tinggi karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta program.

Ketika kegiatan MBG dihentikan sementara, sebagian besar pasokan yang biasanya terserap oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali masuk ke pasar umum. Akibatnya, stok di tingkat pedagang meningkat tajam.

“Karena barang di pasar melimpah sedangkan pembeli cenderung berkurang, harganya langsung turun drastis,” kata Ida.

Melimpahnya pasokan di tengah permintaan yang menurun menciptakan ketidakseimbangan pasar. Kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan harga agar barang dagangan tetap terserap konsumen.

Meski penurunan harga menguntungkan pembeli, para pedagang berharap harga segera kembali stabil pada level yang lebih ideal. Sebab, fluktuasi yang terlalu cepat dapat menyulitkan perencanaan usaha dan memengaruhi perputaran modal.

“Penurunan harga yang terlalu drastis dan mendadak terkadang membuat omzet ikut tidak stabil,” pungkasnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Pasar Genteng #Ayam Broiler #harga telur #Stok Melimpah #program mbg