RADARBANYUWANGI.ID – PT Industri Kereta Api (INKA) mulai mempercepat transformasi fasilitas produksinya melalui dukungan Penyertaan Modal Negara (PMN) Tahun 2025. Sebanyak Rp473 miliar dialokasikan untuk memodernisasi pabrik di Banyuwangi dan Madiun, sekaligus meningkatkan kemampuan industri perkeretaapian nasional dalam memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu pusat produksi kereta berpenggerak paling modern di Indonesia. Berbagai fasilitas baru, jalur produksi tambahan, hingga teknologi manufaktur berbasis robotik mulai disiapkan secara bertahap hingga 2027.
Direktur Utama PT INKA Eko Purwanto menjelaskan, PMN 2025 difokuskan pada pengembangan fasilitas produksi, peningkatan kapasitas manufaktur bogie, pengembangan sistem propulsi, serta penyempurnaan fasilitas produksi dan pengujian.
"Kami akan membagi fokus produk. Untuk Madiun akan difokuskan pada kereta yang tidak berpenggerak," ujarnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, dikutip Antara.
Dengan skema tersebut, pabrik Madiun akan menjadi pusat produksi kereta penumpang konvensional, gerbong barang, lokomotif, bogie, hingga pengembangan sistem propulsi. Sejumlah fasilitas produksi juga akan diperbarui, mulai area surface treatment, mesin milling, mesin press, hingga berbagai peralatan manufaktur lainnya.
Banyuwangi Disiapkan Produksi KRL hingga Kereta Cepat
Sementara itu, pabrik INKA Banyuwangi akan difokuskan sebagai pusat produksi sarana perkeretaapian berpenggerak. Produk yang akan dikerjakan meliputi kereta rel listrik (KRL), light rail transit (LRT), mass rapid transit (MRT), kereta cepat, hingga kereta rel diesel elektrik (KRDE).
Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 83,49 hektare tersebut saat ini telah beroperasi secara terbatas dengan satu jalur produksi. Namun, melalui dukungan PMN, perusahaan akan melengkapi berbagai fasilitas strategis agar operasional dapat berjalan lebih optimal.
Salah satu proyek utama yang akan dilakukan adalah pembangunan jalur produksi kedua beserta fasilitas pengujian. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mempercepat proses manufaktur berbagai jenis kereta modern.
Bagi Banyuwangi, pengembangan pabrik ini tidak hanya berdampak pada sektor industri. Kehadiran fasilitas produksi yang lebih besar juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penyerapan tenaga kerja, penguatan industri pendukung, serta peningkatan aktivitas logistik dan jasa penunjang manufaktur.
Teknologi Robotik Mulai Diterapkan
Selain memperluas kapasitas, INKA juga mulai mengadopsi teknologi manufaktur yang lebih modern. Salah satunya melalui penggantian sistem pengelasan konvensional menjadi robotic welding.
Teknologi tersebut diyakini mampu meningkatkan presisi, kualitas hasil produksi, serta produktivitas manufaktur secara keseluruhan. Modernisasi ini menjadi bagian penting dalam upaya perusahaan meningkatkan daya saing di tengah perkembangan teknologi industri perkeretaapian global.
"Dari mesin-mesin welding yang sekarang masih konvensional akan kami tingkatkan menjadi mesin-mesin robotik," kata Eko.
Investasi Ratusan Miliar Rupiah
Untuk mendukung pengembangan fasilitas produksi, INKA mengalokasikan dana sebesar Rp440 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk pengadaan mesin cutting, milling, press, robotic welding, fasilitas pengujian propulsi, warehouse, hingga pembangunan fasilitas penunjang produksi lainnya.
Selain itu, perusahaan mengalokasikan Rp33 miliar untuk pembangunan fasilitas pendukung seperti gedung pemeliharaan, transverser, dan digitalisasi operasional.
Hingga Mei 2026, realisasi penggunaan PMN tercatat sekitar 13 persen dan diproyeksikan meningkat menjadi 35 persen pada Juni 2026. Perusahaan menargetkan proses pengadaan fasilitas selesai pada triwulan III 2026.
Adapun penyelesaian proyek dilakukan secara bertahap hingga triwulan III 2027. Sebagian peralatan yang dibeli merupakan perangkat khusus atau customized sehingga membutuhkan waktu produksi yang lebih panjang.
Perkuat Industri Kereta Nasional
Menurut Eko, pengembangan fasilitas melalui PMN 2025 tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi perusahaan. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri perkeretaapian nasional serta meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada berbagai produk yang dihasilkan.
Langkah ini dinilai penting seiring meningkatnya kebutuhan sarana transportasi berbasis rel di Indonesia. Berbagai proyek KRL, LRT, MRT, hingga pengembangan jaringan kereta antarkota membutuhkan dukungan industri manufaktur dalam negeri yang kuat dan berdaya saing.
Banyuwangi berpeluang mengambil peran lebih besar dalam perkembangan industri perkeretaapian nasional melalui modernisasi fasilitas yang sedang berjalan. Tak hanya sebagai lokasi produksi, tetapi juga sebagai salah satu pusat pengembangan teknologi manufaktur kereta modern di Indonesia.
Editor : Lugas Rumpakaadi