RADARBANYUWANGI.ID - Kinerja PT MRT Jakarta (Perseroda) terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, perusahaan transportasi publik tersebut membukukan pendapatan sebesar Rp1,5 triliun atau tumbuh sekitar tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Keuangan dan Manajemen PT MRT Jakarta (Perseroda) Risa Olivia menjelaskan, pertumbuhan pendapatan tersebut didorong oleh meningkatnya jumlah pengguna layanan MRT serta kontribusi dari sektor bisnis non-tiket yang terus berkembang.
Menurut dia, pendapatan dari tiket atau farebox masih menjadi salah satu penopang utama kinerja perusahaan. Bahkan, sejak 2021 hingga 2025, pendapatan tiket menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dan signifikan.
Secara keseluruhan, pendapatan MRT Jakarta pada periode 2021–2025 mencatat tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 2,3 persen. Pertumbuhan itu ditopang oleh kombinasi sumber pendapatan yang berasal dari tiket, subsidi pemerintah, dan bisnis non-farebox.
Kontribusi pendapatan tiket juga mencatat performa yang sangat kuat. Selama periode yang sama, pendapatan farebox membukukan CAGR positif sebesar 50,4 persen. Angka tersebut menjadi indikator meningkatnya kepercayaan dan minat masyarakat terhadap penggunaan transportasi publik, khususnya MRT Jakarta.
“Semakin banyak yang menggunakan MRT, nantinya pendapatan tiket bisa semakin meningkat,” ujar Risa, dikutip Antara.
Meski demikian, dukungan pemerintah melalui skema subsidi masih menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga keberlangsungan layanan. Subsidi dinilai berperan dalam memastikan standar pelayanan tetap terjaga sekaligus menjaga tarif agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
Stabilitas kinerja perusahaan juga tercermin dari capaian margin EBITDA yang berada pada kisaran 35 hingga 51 persen dalam beberapa tahun terakhir. Indikator tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjaga efisiensi operasional di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor transportasi.
“Kinerja operasional perusahaan relatif terjaga dan cukup stabil dalam jangka panjang,” kata Risa.
Dari sisi aset, MRT Jakarta mencatat total aset sekitar Rp32 triliun hingga akhir 2025. Nilai tersebut sebagian besar berasal dari investasi pembangunan infrastruktur transportasi, termasuk jalur dan stasiun MRT yang menjadi tulang punggung layanan.
Manajemen optimistis prospek pertumbuhan jangka panjang masih terbuka lebar. Selain didukung tren peningkatan pendapatan, perusahaan juga mampu mempertahankan margin EBITDA di atas 35 persen secara berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta Farchad Mahfud mengatakan pihaknya terus memperkuat sumber pendapatan non-farebox melalui pengembangan kawasan berbasis transit atau transit oriented development (TOD).
Salah satu langkah yang dilakukan adalah optimalisasi kawasan Blok M Hub yang saat ini telah menampung sekitar 375 tenant. Kawasan tersebut menjadi pusat aktivitas komersial yang diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pendapatan perusahaan.
“Kami terus mengoptimalkan area komersial dan pengembangan kawasan transit untuk memperkuat pendapatan non-tiket,” ungkap Farchad.
Ke depan, MRT Jakarta berharap strategi diversifikasi pendapatan dapat mengurangi ketergantungan terhadap subsidi pemerintah. Selain itu, penguatan bisnis non-tiket juga diharapkan menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan operasional perusahaan dalam jangka panjang.
Editor : Lugas Rumpakaadi