RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Hingga pukul 11.02 WIB, rupiah melemah 60 poin atau 0,34 persen menjadi Rp17.728 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.668 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Konflik di Timur Tengah yang belum mereda dinilai mulai merembet ke berbagai sektor ekonomi, terutama harga minyak mentah dan ekspektasi inflasi Amerika Serikat (AS).
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra mengatakan pasar masih dibayangi euforia konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi dunia.
“Ini masih euforia konflik Timur Tengah yang merembet kemana-mana seperti kenaikan harga minyak mentah dan inflasi,” ujarnya, Selasa (19/5/026), dikutip Antara.
Menurut Ariston, meningkatnya ekspektasi inflasi AS membuat tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS ikut melonjak. Yield obligasi tenor 2 tahun tercatat berada di level 4,105 persen, tenor 10 tahun sebesar 4,631 persen, dan tenor 30 tahun mencapai 5,159 persen. Angka tersebut menjadi level tertinggi baru sepanjang 2026.
Kondisi itu membuat dolar AS semakin perkasa terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah. Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar AS yang dinilai lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi.
Dari dalam negeri, tekanan tambahan datang dari lonjakan harga minyak mentah yang telah berada di atas 100 dolar AS per barel. Situasi tersebut berdampak pada kenaikan biaya impor energi dan memperbesar kebutuhan valuta asing di pasar domestik.
Baca Juga: Usai Sukses di Banyuwangi, Perlinsos Digital Diperluas ke 42 Kabupaten/Kota, Jangkau 36 Juta Jiwa
Selain faktor energi, musim pembagian dividen perusahaan juga ikut meningkatkan permintaan dolar AS. Repatriasi dividen ke luar negeri membuat arus keluar valas meningkat sehingga memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.
“Selain itu, ini lagi bulan dividen, repatriasi dividen keluar negeri yang meningkatkan permintaan dolar AS juga menekan rupiah,” kata Ariston.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik geopolitik serta arah kebijakan moneter AS yang diperkirakan masih akan memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Editor : Lugas Rumpakaadi