Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

MinyaKita Langka di Banyuwangi, Bulog Sudah Distribusikan 740 Ribu Liter tapi Langsung Ludes Diserbu Warga

Fredy Rizki Manunggal • Senin, 18 Mei 2026 | 07:00 WIB
LANGSUNG LUDES: Asosiasi Kooperasi Desa Merah Putih  melaksanakan operasi pasar MinyaKita di Banyuwangi belum lama ini. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
LANGSUNG LUDES: Asosiasi Kooperasi Desa Merah Putih melaksanakan operasi pasar MinyaKita di Banyuwangi belum lama ini. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Kelangkaan minyak goreng subsidi merek MinyaKita mulai dikeluhkan masyarakat Banyuwangi. Di sejumlah pasar tradisional, produk minyak goreng bersubsidi itu sulit ditemukan karena selalu habis hanya dalam hitungan satu hingga dua hari setelah pasokan datang. Padahal, Bulog Banyuwangi mencatat distribusi MinyaKita sepanjang Januari hingga pertengahan Mei 2026 sudah mencapai sekitar 740 ribu liter.

Tingginya permintaan yang terus meningkat sejak Ramadan hingga pasca-Idul Fitri membuat stok MinyaKita di tingkat pedagang cepat terserap pasar. Bahkan, fenomena panic buying diduga ikut memicu sulitnya masyarakat mendapatkan minyak goreng subsidi tersebut.

Kepala Bulog Cabang Banyuwangi Dwiana Puspitasari mengatakan, rata-rata distribusi MinyaKita di Banyuwangi mencapai 125 ribu hingga 150 ribu liter setiap bulan. Meski pasokan rutin dilakukan ke kios-kios pasar, tingginya permintaan membuat stok cepat habis.

“Kemungkinan ada panic buying. Karena sebenarnya kami tetap rutin menyuplai kios-kios pasar. Tapi kalau minyak datang memang langsung terserap,” ujarnya.

Menurut Dwiana, lonjakan permintaan awalnya terjadi menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Namun hingga pertengahan Mei, permintaan masyarakat masih tetap tinggi sehingga keberadaan MinyaKita di pasaran menjadi semakin sulit ditemukan.

Bulog memastikan distribusi tetap berjalan normal dan harga MinyaKita di Banyuwangi masih sesuai harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp 15.700 per liter.

Pengawasan harga dan distribusi dilakukan melalui Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Bahan Pokok (Siskaperbapo) serta pemantauan pasar melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).

“Kami berupaya menjaga supaya harga tetap sesuai HET dan distribusinya merata. Jadi semakin banyak kios terdaftar, masyarakat juga makin mudah menjangkau,” tegas Dwiana.

Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan pasokan MinyaKita masih menjadi rebutan warga. Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi di sejumlah pasar tradisional mendapati stok minyak subsidi tersebut hampir selalu kosong di tingkat pedagang.

Nur, 45, salah satu pedagang di Pasar Banyuwangi mengatakan, MinyaKita selalu habis dalam waktu singkat setelah pengiriman datang.

“Tidak pernah lama. Begitu pasokan datang paling dua hari sudah habis,” ujarnya.

Menurut Nur, dirinya bahkan kesulitan meminta tambahan stok kepada Bulog karena distribusi harus dibagi rata ke pedagang lain.

“Saya minta penambahan ke Bulog juga tidak bisa karena katanya harus dibagi dengan yang lain,” katanya.

Yang menarik, Nur mengaku sering didatangi pembeli yang ingin memborong MinyaKita dalam jumlah besar. Bahkan, sebagian pembeli rela membeli di atas harga HET asalkan mendapatkan stok banyak.

“Yang mau memborong ini ada saja. Saya juga heran mereka seperti tahu jadwal pengiriman. Tapi saya tidak kasih karena kasihan pembeli lain nanti tidak kebagian,” ungkapnya.

Fenomena pembelian dalam jumlah besar itulah yang diduga ikut mempercepat habisnya stok MinyaKita di pasar tradisional Banyuwangi.

Sementara itu, pedagang lain bernama Lia, 56, mengaku dirinya bukan mitra resmi Bulog sehingga harus mengambil stok dari pedagang lain yang sudah terdaftar sebagai mitra distribusi.

Karena membeli dari pihak kedua, Lia menjual kembali MinyaKita dengan harga Rp 17 ribu per liter atau sedikit di atas HET.

“Saya kan bukan mitra Bulog, jadi ambil untung sedikit. Tapi ya tetap langsung habis. Saya cuma stok empat liter saja,” ujarnya.

Kelangkaan MinyaKita di Banyuwangi terjadi di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap minyak goreng murah. Produk subsidi tersebut masih menjadi pilihan utama warga karena selisih harga yang cukup jauh dibanding minyak goreng nonsubsidi di pasaran.

Pemerintah dan Bulog diharapkan terus memperkuat pengawasan distribusi agar pasokan minyak goreng subsidi benar-benar tepat sasaran dan tidak diborong pihak tertentu. (fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#minyak goreng subsidi #MinyaKita Banyuwangi #panic buying MinyaKita #Bulog Banyuwangi #harga minyak goreng