RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus mempercepat langkah transformasi di tengah lonjakan mobilitas masyarakat yang kian masif. Menghadapi kompleksitas operasional yang meningkat, KAI menggandeng lembaga inspeksi global asal Jerman, TÜV Rheinland, untuk melakukan asesmen teknis menyeluruh terhadap sistem perkeretaapian nasional.
Kolaborasi strategis tersebut diformalkan melalui agenda Workshop Executive Session: Technical Audit & Comprehensive RAMS Assessment Project yang digelar di Jakarta Railway Center, Kamis (23/4/2026). Audit difokuskan pada evaluasi sarana, infrastruktur, hingga manajemen operasional dan keselamatan.
Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menegaskan bahwa penguatan sistem menjadi kebutuhan mutlak seiring lonjakan signifikan jumlah pengguna jasa kereta api.
“Ketika lebih dari 500 juta perjalanan terjadi dalam satu tahun, sistem harus bekerja dengan presisi. Setiap proses perlu terukur, terintegrasi, dan mampu merespons risiko dengan cepat,” ujarnya, dikutip Antara.
Data terbaru menunjukkan volume penumpang KAI melonjak tajam, dari 154,5 juta pada 2021 menjadi 503,6 juta perjalanan pada akhir 2025. Lonjakan tersebut diiringi dengan kompleksitas pengelolaan aset yang tidak kecil.
Saat ini, KAI mengelola jaringan rel sepanjang 8.178 kilometer serta hampir 11.000 unit sarana. Sekitar 35 persen di antaranya diproyeksikan memasuki fase peremajaan dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini menuntut evaluasi detail agar transisi teknologi tetap menjamin keandalan layanan.
Dalam proses audit, TÜV Rheinland menerapkan metodologi RAMS (Reliability, Availability, Maintainability, Safety). Pendekatan ini mengombinasikan analisis data historis dengan inspeksi fisik di lapangan, termasuk pengecekan intensif struktur jembatan dan jalur rel.
Project Manager TÜV Rheinland, Brian Wong, menjelaskan bahwa metode tersebut memungkinkan deteksi dini terhadap potensi gangguan.
“Pendekatan RAMS membantu mengidentifikasi potensi risiko sejak awal dan memberikan rekomendasi berbasis data yang bisa segera diterapkan untuk menjaga keandalan sistem,” ungkapnya.
Kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya KAI memitigasi gangguan di perlintasan sebidang serta menjaga tren positif penurunan angka kecelakaan. Menurut I Gede, kepercayaan publik merupakan fondasi utama yang harus dijaga melalui sistem yang transparan dan disiplin.
“Kepercayaan publik lahir dari sistem yang berjalan disiplin dan dapat dipantau kinerjanya. Karena itu, penguatan dilakukan dari sisi pemeliharaan sarana, prasarana, hingga pengelolaan operasi berbasis data,” tegasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi