RADARBANYUWANGI.ID – Lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai memukul pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banyuwangi. Kenaikan biaya kemasan tersebut membuat para pelaku usaha berada dalam posisi sulit, antara menaikkan harga jual atau mempertahankan pelanggan.
Sejumlah pelaku UMKM mengaku dilema menghadapi kondisi tersebut. Di satu sisi, biaya produksi terus meningkat akibat mahalnya harga plastik. Namun di sisi lain, mereka khawatir kehilangan pelanggan jika harga produk ikut dinaikkan.
Salah satu pelaku UMKM, Rizkiana (20), mengungkapkan bahwa harga gelas plastik yang digunakan untuk berjualan jus mengalami kenaikan signifikan. Ia yang berjualan di Jalan Raya Kalisetail, Desa/Kecamatan Sempu, kini harus menanggung beban biaya kemasan yang hampir dua kali lipat.
“Dari sebelumnya Rp 6.300 per kemasan kini menjadi Rp 9.700 per kemasan,” ujarnya.
Menurut Rizkiana, seluruh produknya dijual dalam bentuk take away karena tidak menyediakan fasilitas makan di tempat. Hal itu membuat penggunaan gelas plastik menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa dihindari.
Meski demikian, ia mengaku masih bertahan dengan harga jual lama, yakni Rp 10 ribu per gelas. Keputusan tersebut diambil demi menjaga loyalitas pelanggan di tengah persaingan usaha yang ketat.
“Tidak berani mau ubah harga. Kalau langsung dinaikkan, takutnya pelanggan kabur. Makanya masih bertahan di harga lama,” katanya.
Namun, ia tidak menutup kemungkinan akan menyesuaikan harga jika kondisi kenaikan biaya produksi terus berlanjut. Rizkiana berharap harga plastik bisa segera kembali stabil agar pelaku UMKM tidak semakin terbebani.
“Mudah-mudahan tidak naik terus. Semoga bisa turun lagi,” harapnya.
Hal serupa juga dirasakan pelaku usaha lainnya, Mujiono (46). Ia menyebut, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga pada bahan baku utama seperti tepung dan mi.
“Yang naik bukan hanya plastik, tetapi juga mi dan tepung,” ujarnya.
Untuk menyiasati kenaikan biaya tersebut, Mujiono memilih tidak menaikkan harga jual. Sebagai gantinya, ia mengurangi jumlah isi dalam setiap porsi yang dijual kepada konsumen.
“Satu kurangi satu cilok. Kalau orang beli Rp 5.000, misalnya, pentolnya saya kurangi satu. Hitung-hitung itu buat beli plastik,” jelasnya.
Fenomena ini mencerminkan tekanan berlapis yang dihadapi pelaku UMKM, mulai dari kenaikan harga bahan baku hingga biaya kemasan. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan berdampak pada daya beli masyarakat maupun keberlangsungan usaha kecil di daerah.
Para pelaku UMKM berharap adanya stabilisasi harga bahan baku, khususnya plastik, agar mereka bisa tetap bertahan tanpa harus mengorbankan kualitas maupun jumlah produk yang dijual. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin