RADARBANYUWANGI.ID – Sektor perhotelan di Banyuwangi mengalami penurunan tingkat penghunian kamar (TPK) atau okupansi selama Februari lalu.
Meski mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, tingkat keterisian kamar hotel di Bumi Blambangan masih tercatat lebih baik dibandingkan rata-rata okupansi hotel di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Data tersebut dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi melalui laporan resmi statistik terbaru.
Dalam laporan itu disebutkan, TPK hotel di Banyuwangi pada Februari mencapai 31,56 persen. Angka tersebut mengalami penurunan 5,32 poin dibandingkan Januari yang saat itu tercatat sebesar 36,88 persen.
Penurunan ini menunjukkan adanya perlambatan aktivitas hunian hotel setelah periode awal tahun, yang umumnya dipengaruhi pergerakan wisatawan maupun aktivitas perjalanan bisnis.
Meski turun, angka okupansi hotel Banyuwangi masih berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur.
BPS mencatat, tingkat penghunian kamar hotel di Banyuwangi pada Februari 1,79 poin lebih tinggi dibanding okupansi hotel di Jawa Timur yang tercatat 29,78 persen.
Hal ini menjadi indikator bahwa daya tarik Banyuwangi sebagai destinasi wisata dan pusat kegiatan regional masih cukup kuat.
Khusus untuk kategori hotel berbintang, tingkat okupansi pada Februari tercatat sebesar 38,08 persen.
Angka ini turun 5,6 poin dibanding Januari yang mencapai 43,68 persen.
Meski masih berada di level yang cukup baik, TPK hotel berbintang Banyuwangi ternyata masih berada di bawah capaian tingkat provinsi maupun nasional.
BPS mencatat, okupansi hotel berbintang Banyuwangi pada Februari 4,98 poin lebih rendah dibanding hotel berbintang di Jawa Timur yang mencapai 43,06 persen.
Bahkan, dibandingkan tingkat nasional, selisihnya mencapai 6,82 poin, karena secara nasional okupansi hotel berbintang tercatat 44,89 persen.
Sementara itu, untuk kategori hotel non bintang dan jasa akomodasi lainnya, tingkat penghunian kamar pada Februari berada di angka 25,43 persen.
Artinya, dari setiap 100 kamar yang tersedia, rata-rata 25 hingga 26 kamar terisi tamu setiap malam.
Kepala BPS Banyuwangi, Abdus Salam, menyampaikan penjelasan tersebut melalui Berita Resmi Statistik Nomor 60/04/Th. XII.
“Artinya, dari 100 kamar yang disediakan oleh hotel non bintang dan jasa akomodasi lainnya di Banyuwangi, setiap malam sebanyak 25 hingga 26 kamar di antaranya terisi pengunjung,” ujarnya.
TPK hotel non bintang juga mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya.
Pada Januari, tingkat penghunian hotel non bintang dan akomodasi lainnya masih berada di angka 30,42 persen.
Dengan demikian, pada Februari terjadi penurunan sebesar 4,99 poin.
Penurunan okupansi ini diperkirakan berkaitan dengan menurunnya mobilitas wisatawan pasca momentum libur panjang awal tahun.
Meski demikian, pelaku sektor pariwisata dan perhotelan masih optimistis angka okupansi akan kembali meningkat memasuki musim libur dan agenda wisata daerah dalam beberapa bulan mendatang.
Banyuwangi sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur dengan berbagai agenda festival, wisata alam, serta akses transportasi yang terus berkembang.
Karena itu, tren okupansi hotel pada bulan-bulan berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin