RADARBANYUWANGI.ID - Tanaman padi umumnya tumbuh optimal saat musim penghujan karena kadar air tanah mencukupi dan suhu udara tidak terlalu panas.
Namun, di Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, hasil panen justru lebih tinggi saat musim kemarau basah.
Wilayah Kecamatan Singojuruh memiliki lahan pertanian seluas 3.334 hektare, dan sebagian besar petaninya menanam padi.
“Palawija juga ada, tapi tidak terlalu banyak,” kata Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Singojuruh, Eko Prasetyo.
Eko menjelaskan, pada musim penghujan yang berlangsung Januari hingga April 2025 (musim tanam satu), hasil panen petani rata-rata mencapai 69,40 kuintal per hektare.
Sedangkan pada musim kemarau basah, yang berlangsung Mei hingga Agustus, produktivitasnya sedikit meningkat menjadi 69,51 kuintal per hektare. “Saat kemarau basah malah meningkat hasil panennya,” ujarnya.
Padahal secara teori, kata Eko, panen di musim penghujan seharusnya lebih melimpah karena suplai air lebih stabil dan suhu cenderung ideal bagi pertumbuhan padi.
“Namun di musim hujan, serangan hama justru tinggi, terutama tikus dan penyakit tanaman, sehingga hasilnya berkurang,” jelasnya.
Menurutnya, pada musim kemarau basah ini petani sudah lebih siap mengantisipasi hama, sehingga produktivitas meningkat.
“Petani kini sudah bisa mengendalikan hama dengan metode yang lebih baik, jadi panen lebih maksimal,” imbuhnya.
Hal itu dibenarkan oleh Abdulloh (48), petani asal Dusun Krangasem, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. Ia mengaku pada awal 2025 banyak tanaman padinya rusak akibat serangan tikus.
“Banyak tikus memakan padi yang sudah siap panen, jadi hasilnya sedikit,” ujarnya.
Kini, kondisi sawah lebih aman karena populasi hama menurun drastis. “Kalau dulu satu hektare hanya bisa panen empat sampai lima ton, sekarang bisa sampai lima hingga tujuh ton,” ucapnya.
Eko berharap tren ini bisa terus dijaga dengan manajemen air dan pengendalian hama yang lebih baik, agar produksi padi di Singojuruh tetap stabil sepanjang tahun.
Editor : Agung Sedana