Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Gagal Jadi Sukses! Zafir Coffee Kalibaru Raup Omzet Rp30 Juta dan Berdayakan Petani

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Kamis, 4 September 2025 | 11:45 WIB
Rizal Dhofir (kanan), alumni Jagoan Tani 2023 sedang menyortir kopi saat pembelajaran pengolahan kopi pada anak-anak putus sekolah di Zafir Coffee Kalibaru.
Rizal Dhofir (kanan), alumni Jagoan Tani 2023 sedang menyortir kopi saat pembelajaran pengolahan kopi pada anak-anak putus sekolah di Zafir Coffee Kalibaru.

RADARBANYUWANGI.ID - Zafir Coffee, usaha milik Rizal Dhofir, 36, di Kalibaru, Banyuwangi, lahir dari kegiatan PKBM Mittaun Najjah yang membina anak putus sekolah lewat edukasi kopi.

Berawal dari modal kecil, Zafir Coffe sempat gagal di Jagoan Tani 2022, namun bangkit dan meraih Juara Harapan II pada 2023.

Usaha yang ditekuni Dhofir  kini berkembang dengan berbagai produk, koperasi petani, serta kafe beromzet belasan juta per bulan yang juga menjadi ruang edukasi kopi bagi masyarakat. Kesuksesan tersebut berawal pada 2020.

Kala itu  Dhofir merupakan anggota dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mittaun Najjah, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang berfokus pada pemberantasan anak putus sekolah di Kalibaru. Lembaga ini sekaligus untuk pemberdayaan keterampilan berbasis potensi lokal.

Bersama 34 tenaga pengajar PKBM, Dhofir  tidak hanya mengajari membaca dan menulis, tetapi juga membekali keterampilan hidup. Salah satunya, mengolah kopi.  

“Kalibaru ini kopi yang paling terkenal, namun petani di sini masih terbelakang, terutama pada fase pascapanen. Kami berpikir kenapa tidak kami kembangkan menjadi usaha edukasi juga?. Dari situ kami akhirnya membuat edukasi ke petani kopi sekaligus membantu pemasaran hasil panen mereka,” ungkapnya.

Zafir Coffee pun akhirnya berdiri di Jalan Malangsari Nomor 28, Desa Kalibaru Kulon, Kalibaru. Berdirinya Zahir Coffe sekaligus menyalakan harapan baru bagi anak-anak putus sekolah dan petani kopi di Kalibaru.

Perjalanan Dhofir tidak selalu mulus. Pada 2022, ia memberanikan diri mengikuti program Jagoan Tani, ajang pencarian sociopreneur muda di Banyuwangi.

Ia dan tim sempat masuk tahap akhir, namun gagal meraih gelar juara. Tantangan terbesarnya adalah modal.

“Kopi itu butuh biaya besar. Satu kwintal saja bisa sampai Rp 7 juta. Berat sekali kalau jalan sendiri,” katanya.

Kegagalan itu tidak menyurutkan langkahnya. Ia kembali mencoba di 2023. Kali ini, usahanya berbuah manis, Dhofir berhasil menyabet Juara Harapan II. Sejak saat itu, kiprahnya semakin dikenal.

Ia tak hanya menjual kopi dalam bentuk bubuk dan biji sangrai (roasted coffee)  dari petani, tetapi juga membuka kafe edukasi kopi.

“Kafe yang kami bangun dirancang nyaman dan cocok untuk rapat komunitas hingga sering kami adakan pelatihan bisnis kopi,’’ ujarnya.

Tidak berhenti di situ, Dhofir bersama para petani membentuk koperasi kopi di Kalibaru yang bernama Koperasi Bumi Kopi Kalibaru. Mereka belajar bersama meningkatkan kualitas pascapanen, agar hasil panen lebih bernilai.

“Kalau hanya jual bahan baku, harganya rendah. Karena itu kami olah, simpan stok, dan pasarkan setelah panen selesai,” jelasnya.

Lewat jejaring Jagoan Tani, Dhofir juga semakin aktif berbagi dan berkolaborasi dengan pegiat kopi lainnya. Dari sana lahir banyak peluang, mulai dari edukasi bisnis hingga program pelatihan bagi anak muda.

“Dari relasi yang kami dapat ini kami sering mengirim kopi hingga ke Surabaya dan sekitarnya. Selain itu kami juga juga bisa memasok bahan baku kopi untuk wilayah Banyuwangi dan sekitarnnya,’’ paparnya. 

Dari usaha ini, dulunya omzet kurang dari Rp 10 juta. Setelah ikut Jagoan Tani, omzetnya kini stabil di kisaran Rp 20 sampai Rp 30 juta per bulan melalui pengembangan dari Jagoan Tani.

Kini, PKBM  masih mendampingi 17 anak yang menjalani pendidikan Paket C, sekaligus belajar memberdayakan kopi lokal, khususnya wilayah Kalibaru.

Bagi Dhofir, kopi bukan sekadar bisnis. Ia adalah medium pemberdayaan. Anak-anak petani yang putus sekolah bisa belajar langsung, dari roasting hingga menyajikan kopi di kafe. Mereka diajak percaya diri, mandiri, dan mengenal dunia usaha sejak dini.

Berbagai varian produk kopi kini lahir dari tangan Dhofir dan timnya. Bahkan mereka membuka paket edukasi bagi siapa saja yang ingin belajar kopi, mulai dari teknik penyeduhan hingga manajemen usaha kafe.

”Kalau bisa, jangan lagi minum kopi saset. Nikmati kopi asli dari petani kita. Dari sana kita ikut menjaga kualitas, sekaligus memberi nilai lebih bagi petani lokal,’’ pesannya bagi para penikmat kopi. (Dalila Adinda/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#jagoan bisnis #Jagoan Digital #kopi kalibaru #jagoan banyuwangi #jagoan tani #coffee