RADARBANYUWANGI.ID - Hidup tak selalu berjalan mulus. Kadang, satu kejadian bisa mengubah segalanya. Hal itulah yang dialami Feri Anwar.
Pada usia 22 tahun, dia mengalami kecelakaan kerja yang membuatnya harus kehilangan satu kaki.
Alih-alih larut dalam kesedihan. Dia memilih bangkit dan sukses membangun bisnis olahan hasil laut.
Perjalanan Feri sebagai wirausahawan dimulai pada tahun 2021, ketika pandemi COVID-19 melanda.
Kala itu, ia bersama dua saudaranya mencoba peruntungan dengan membuat sambal. Sayangnya, usaha tersebut tidak berjalan mulus.
Peminatnya sedikit. Produk mereka sulit bersaing dengan merek sambal lain yang sudah lebih dulu populer di pasaran.
Namun Feri tidak menyerah. Laki-laki asal Desa Tegalyasan, Kecamatan Sempu, ini lantas mencoba membuat produk lain.
“Kami coba inovasi membuat rambak dari hasil laut yang jarang dibuat kerupuk, salah satunya cumi-cumi,” ujar laki-laki berusia 38 tahun tersebut.
Keputusan untuk beralih ke produk olahan laut ternyata juga bukan tanpa tantangan. Kerupuk cumi-cumi dengan merek “Pawon Koe” yang mereka tawarkan masih terdengar asing bagi banyak orang.
Pemasaran pun dilakukan secara dari rumah ke rumah (door to door) yang tidak selalu berbuah manis.
“Bahkan dulu sering tester kami ditolak karena orang mengira pasti rasanya kurang enak dan takut kolesterol,” tuturnya.
Meski sering mendapat penolakan, Feri dan timnya tak mudah menyerah. Penolakan demi penolakan itu justru ia jadikan penyemangat untuk terus berinovasi.
Proses trial and error dilakukan berulang kali hingga akhirnya mereka menemukan formula terbaik untuk produk mereka.
Perlahan, kerupuk cumi-cumi dan olahan hasil laut lain yang diproduksi Pawon Koe mulai diterima masyarakat. Pasarnya tumbuh mulai lingkup lokal Banyuwangi.
Tahun 2024 menjadi momentum penting dalam perjalanan bisnis Feri. Ia memutuskan mengikuti program Jagoan Tani, ajang yang melahirkan wirausahawan muda kreatif.
Dari ratusan peserta, Feri berhasil masuk dalam lima besar terbaik. Capaian itu menjadi titik balik. Melalui program ini, ia mendapatkan banyak relasi baru, memperluas wawasan bisnis, dan yang terpenting, membuka jalan bagi produknya ke pasar mancanegara.
“Kami sekarang di Jepang buka maklon, jadi kami yang buat produknya dan mereka yang ngemas,” katanya bangga.
Keikutsertaan dalam Jagoan Tani juga membawa dampak signifikan pada sisi finansial. Sebelum mengikuti program tersebut, omzet bulanan Pawon Koe hanya berkisar Rp 25 juta.
Setelahnya, angka itu melonjak drastis, bahkan bisa menembus Rp 40 juta per bulan. “Omzet paling sepi minimal Rp 30 juta lebih sedikit,” ungkap Feri.
Bisnisnya kini terus berkembang. Dari usaha ultramikro yang dulu dijalankan bertiga bersama saudara, kini Feri sudah mampu membuka lapangan pekerjaan.
Tercatat ada tujuh karyawan yang ikut membantunya memproduksi dan memasarkan produk-produk olahan hasil laut.
Kehadiran karyawan bukan hanya meringankan beban kerja, tetapi juga menambah rasa syukur Feri karena usahanya bisa memberi manfaat bagi orang lain.
Namun, bagi Feri, pencapaian terbesarnya bukan hanya soal angka dan jumlah pekerja. Ia menemukan lingkungan yang benar-benar membangun.
“Saya tidak merasakan ada diskriminasi sama sekali di Jagoan Tani. Bahkan mereka semua sangat merangkul kebutuhan saya,” ucapnya.
Sebagai penyandang disabilitas yang kehilangan kaki, Feri sempat dihantui rasa minder. Namun, pengalaman bersama para mentor dan peserta lain membuatnya sadar bahwa ia memiliki kesempatan yang sama.
“Tak ada rasa saya minder karena teman-teman dan mentor tidak membedakan dan tidak mengucilkan. Sehingga di Jagoan Tani ini saya merasa bahwa saya memiliki kesempatan yang sama,” katanya sembari tersenyum.
Kini, Feri menatap masa depan dengan penuh optimisme. Ia bertekad untuk mengembangkan usahanya lebih jauh, salah satunya dengan mengejar sertifikasi SNI agar produknya bisa lebih kuat bersaing di pasar nasional maupun internasional. “Saya berharap ke depannya bisa SNI,” ujarnya.
Lebih dari sekadar cita-cita bisnis, Feri juga ingin menjadi inspirasi bagi teman-teman penyandang disabilitas lainnya.
Ia berharap kisah hidupnya bisa menyalakan semangat agar mereka berani mengejar mimpi meski dengan segala keterbatasan.
“Saya ingin memberi semangat agar mereka tidak takut mengejar mimpi,” tambahnya.
Perjalanan Feri adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak membatasi membatasi tekad seseorang.
Dari kehilangan kaki di usia muda, kini ia menjadi pengusaha sukses dengan tujuh karyawan, omzet puluhan juta, dan produk yang merambah pasar dunia. (Dalila Adinda/sgt)
Editor : Ali Sodiqin