Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Jeruk Anjlok, Petani di Banyuwangi Bersiap Merugi! Nekat Melapak di Pasar Demi Bayar Iuran Agustusan

Zamrozi Wahyu • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 13:10 WIB

 

Salah satu pedagang jeruk sedang menyortir buah jeruk hasil panenan petani di Bangorejo Banyuwangi.
Salah satu pedagang jeruk sedang menyortir buah jeruk hasil panenan petani di Bangorejo Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID - Para petani jeruk kini tengah kelimpungan. Harga jual di tingkat petani anjlok drastis, hanya mencapai Rp5.000 per kilogram. Kondisi ini membuat para petani terancam bangkrut.

Salah satu petani jeruk, Siswanto (55), warga Dusun Tamansuruh, Desa/Kecamatan Bangorejo, mengungkapkan bahwa harga jeruk mulai turun sejak dua pekan terakhir dan menyebabkan kerugian besar bagi petani. “Sekarang harga jeruk murah,” katanya.

Sebelumnya, harga jeruk sempat stabil di kisaran Rp6.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Namun saat ini, buah yang sudah matang hanya laku dijual Rp5.000 per kilogram.

“Harga jeruk murah sekali. Jeruk yang sudah siap panen pun dihargai sangat rendah,” keluhnya.

Dengan kondisi ini, harapan petani seolah pupus. Menurut Siswanto, seharusnya bulan Agustus menjadi masa panen yang menguntungkan.

Tapi kenyataannya, harga malah terjun bebas. “Padahal bulan Agustus banyak tanggungan, seperti iuran kegiatan desa dan kebutuhan lain karena musim becekan mulai datang,” ujarnya.

Siswanto menduga, turunnya harga jeruk disebabkan oleh penutupan Jalur Gumitir dan kemacetan yang sering terjadi di Pelabuhan Ketapang.

Kondisi ini membuat banyak pengepul enggan mengirim jeruk ke luar daerah. “Pedagang jarang yang mau beli. Sekalinya beli, harganya murah,” katanya.

Sujari (59), seorang pedagang jeruk, juga menyebut harga terus menurun sejak terjadi kemacetan di Ketapang beberapa waktu lalu.

Saat ini, harga jeruk di pasaran hanya Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram.

“Dengan harga segitu, sulit dapat untung. Paling cuma cukup untuk menutup biaya operasional saja,” jelasnya.

Jeruk yang dipanen di wilayah Kecamatan Bangorejo sebenarnya memiliki kualitas cukup baik.

Namun kualitas panen tidak mampu menahan jatuhnya harga. “Untuk jeruk asal Bangorejo, biasanya saya kirim ke Bali,” terang Sujari.

Menurutnya, tren penurunan harga jeruk memang kerap terjadi saat memasuki bulan Agustus.

Namun, kemacetan di Ketapang dan penutupan Jalur Gumitir memperparah situasi.

“Kalau seperti ini terus, buah-buahan akan murah karena sulit keluar dari daerah,” ujarnya.

Editor : Agung Sedana
#ketapang macet #Harga jeruk anjlok #banyuwangi