Pada bulan Juni ini, pasokan gas elpiji bersubsidi di wilayah tapal kuda mencapai 275.520 tabung per hari. Sedangkan khusus untuk wilayah Banyuwangi, jumlah pasokan ditingkatkan dari 64.960 tabung menjadi 94.640 tabung per hari. Angka ini naik sekitar 29.680 tabung atau 145,7 persen dari rata-rata konsumsi harian.
Begitu juga dengan wilayah Situbondo. Awalnya pasokan untuk kabupaten berjuluk Africa van Java ini sebanyak 23.520 tabung per hari, kini ditingkatkan menjadi 34.160 tabung per hari.
Area Manager Comm, Rel, & CSR Pertamina Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan, peningkatan pasokan tersebut dilakukan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam menghadapi momen Idul Adha yang diprediksi diiringi peningkatan permintaan gas elpiji.
Tambahan pasokan tersebut diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga tidak ada celah bagi oknum yang mengambil keuntungan dengan memanfaatkan situasi.
”Sebelum dan sesudah Idul Adha kami akan banjiri tabung secara periodik melihat prediksi tingginya konsumsi serta tradisi di masing-masing daerah. Tentunya besaran tambahan di masing-masing kota/kabupaten menyesuaikan. Seperti di Madura, misalnya, frekuensinya lebih intens karena ada tradisi toron, pemudik lebih banyak dibandingkan Idul Fitri,” ujar Ahad.
Kendati demikian, masyarakat tetap diimbau untuk membeli elpiji di pangkalan Pertamina agar mendapatkan gas elpiji bersubsidi dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 16 ribu per tabung.
Saat ini tiap desa di Jawa Timur memiliki setidaknya dua sampai tiga pangkalan elpiji. Di kota/kecamatan kota minimal ada lima pangkalan elpiji per desa.
”Gampang membedakan pangkalan resmi Pertamina, kalau harganya sudah di atas Rp 16 ribu, itu sudah bukan pangkalan resmi. Boleh dibeli karena itu pilihan masyarakat. Namun, kalau sudah kelewatan ambil untungnya, ya jangan dibeli. Semakin senang oknum pengecer yang menaikkan harga kalau dibeli,” tandas Ahad. (fre/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries