Pedagang yang terdiri dari penjual emas perhiasan, konveksi, dan peralatan olahraga sudah membongkar toko masing-masing. Seperti mencopot rolling door, pintu kayu, dan lain sebagainya.
”Sudah sejak sebelum Hari Raya Waisak kami lakukan pindahan, ini kami pindah ke ruko di barat gapura pasar. Tidak ke tempat relokasi,” ujar Ardian, salah seorang pemilik toko kain di Pasar Banyuwangi.
Alasan yang membuatnya memilih untuk menyewa ruko lain daripada ke tempat relokasi adalah masalah ukuran. Ardian menyebut, awalnya pihaknya dijanjikan lokasi dengan ukuran 4 x 4 meter.
Namun, belakangan ada pemberitahuan bahwa ukuran lapak di tempat relokasi berubah menjadi 2,5 x 2,5 meter.
Padahal, imbuh Ardian, toko kain yang selama ini ditempati berukuran 8,5 x 4 meter. ”Setelah saya tahu ukurannya, saya pikir mau meletakkan barang di mana? Daripada ribet, saya putuskan sewa saja,” tegasnya.
Tak hanya dirinya, Ardian mengaku beberapa pemilik toko lainnya juga ikut menyewa ruko. Mulai pemilik toko kain maupun toko emas. Pertimbangannya pun sama dengan Ardian.
Mereka menilai tempat berjualan di tempat relokasi tidak memenuhi syarat untuk dijadikan toko emas. Karena itu, mereka memilih untuk menyewa toko dengan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan bangunan sebelumnya.
Namun, ada juga pemilik toko di dalam area pasar yang menunggu tempat relokasi siap untuk pindah. Sebab, mereka tak punya pilihan lain selain menggunakan fasilitas relokasi yang disediakan oleh pemerintah.
”Saya sewa Rp 50 juta untuk setahun. Lokasinya sedikit lebih kecil, tapi cukup untuk menyimpan barang. Ini sudah habis 15 pikap untuk pindahan. Di belakang (dalam pasar) saudara saya masih belum pindah karena menunggu tempat relokasi siap,” terang Ardian.
Tak hanya pemilik toko, beberapa pedagang kaki lima juga sudah ada yang berencana untuk menyewa tempat di Pasar Blambangan daripada pindah ke tempat relokasi.
Mereka beranggapan, banyak pembeli yang enggan turun dari kendaraan sehingga mencari tempat yang ada di pinggir jalan. ”Pembeli banyak yang tidak mau turun dari motor. Kalau di Gedung Wanita, mereka harus turun. Jadi ada beberapa yang menyewa di Pasar Blambangan. Yang penting bisa di pinggir jalan,” tandas Ardian. (fre/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries