Selasa (12/3) para pedagang di Pasar Banyuwangi menjual komoditas tersebut seharga Rp 32.000 per kilogram (kg).
Berdasar hasil penelusuran wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa), harga telur ayam ras mengalami kenaikan sejak beberapa hari sebelum Ramadan.
Bahkan, jika dibandingkan awal bulan lalu, yakni pada 1 Februari, harga telur ayam ras naik Rp 7.500 per kg.
Sebab, kala itu harga telur ayam ras masih di kisaran Rp 24.500 per kg.
Staf Petugas Pasar Banyuwangi Arista Lila Chandra mengatakan, kenaikan harga telur ayam ras terjadi secara langsung dan sangat signifikan.
Tepatnya, dari Rp 30.000 menjadi Rp 32.000 per kg. ”Harga sekarang (kemarin) tergolong mahal. Sebelumnya Rp 30.000 per kg. Bahkan, biasanya harga telur ayam ras di bawah Rp 30.000 per kg,” tuturnya.
Meski demikian, imbuh Aris, stok telur jenis ayam ras selama Ramadan dapat dikatakan cukup aman.
Hanya saja, kenaikan harga tersebut diprediksi bakal berdampak pada jumlah pembelian stok pedagang hingga penurunan daya beli masyarakat.
”Kalau dari hasil pantauan kami stoknya cukup aman. Hanya saja diperkirakan akan ada penurunan minat beli,” imbuhnya.
Aris menambahkan, meski harga telur ayam ras naik, namun harga telur ayam kampung relatif stabil.
Hingga kemarin telur ayam kampung dibanderol Rp 2.500 sampai Rp 3.000 per butir.
Salah satu penjual sembako di Pasar Banyuwangi, Nur Inayah, mulai mengeluhkan kenaikan harga telur.
Namun, dia mengaku masih tetap menjual telur ayam ras dengan harga yang sedikit miring lantaran dirinya masih memiliki stok.
”Stok lama kebetulan masih ada, jadi saya jual pakai harga lama,” kata dia.
Inayah mengatakan, kenaikan harga telur ayam ras biasa terjadi pada bulan Ramadan.
Namun demikian, dia berharap kenaikan harga telur tidak berlanjut. ”Harapannya, kenaikannya mentok di harga sekarang saja,” tandasnya. (tar/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries