Salah satunya dengan memberikan layanan uji tanah untuk pemupukan tepat dosis berbasis internet of things (IoT).
Para petani di seantero kabupaten ujung timur Pulau Jawa bisa memanfaatkan layanan yang menggunakan alat uji tanah, yakni Jinawi tersebut. Jinawi merupakan sistem pintar rekomendasi pemupukan berbasis IoT.
Dengan memanfaatkan alat ini petani mampu melihat kualitas unsur hara makro di dalam tanah secara cepat dan real time, seperti unsur Nitrogen (N), forfor (P), Kalium (K), serta pH tanah.
Bupati Ipuk Fiestandani mengatakan, alat ini bisa dimanfaatkan petani untuk mengetahui berapa jumlah pupuk yang dibutuhkan.
“Dengan uji tanah ini petani bisa mengetahui kebutuhan pupuk secara tepat sesuai kebutuhan. Sehingga pupuk yang digunakan tidak berlebihan. Dengan demikian kuota pupuk subsidi bisa digunakan secara optimal,” ujarnya Jumat (8/3).
Bupati Ipuk sempat mencoba langsung alat Jinawi pada lahan padi milik kelompok tani Tangkai Rotan, Desa Wringin Agung, Kecamatan Gambiran. Tepatnya dalam rangkaian kegiatan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) pada akhir Februari lalu (28/2).
Setelah kualitas tanah diketahui maka dapat ditentukan rekomendasi pemupukan yang sesuai (presisi). Dengan mengetahui berapa pupuk yang dibutuhkan, harapannya produktivitas tanaman dapat ditingkatkan.
“Silakan petani memanfaatkan layanan uji lahan ini sehingga tahu berapa kebutuhan pupuk yang dibutuhkan. Agar tidak membeli pupuk berlebihan, tetapi sesuai kebutuhan,” imbuh Bupati Ipuk.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi Arief Setiawan menambahkan, layanan ini bisa diakses petani di Banyuwangi.
“Layanan ini tidak dipungut biaya. Petani cukup datang ke kantor balai penyuluh pertanian (BPP) untuk mengajukan layanan. Nanti kami (pihak Dispertan) yang datang ke sana sesuai jadwal,” kata dia.
Cara penggunaan alat uji tanah ini dengan ditancapkan ke tanah. Setelah itu muncul hasil analisa kondisi tanah serta rekomendasi pupuk utama yang diperlukan.
“Dengan alat ini pupuk yang diberikan bisa lebih presisi, sesuai dosis. Jadi beli pupuknya sesuai kebutuhan saja, rekomendasi dari Jinawi,” kata Arief.
Arief menambahkan, layanan ini adalah upaya untuk menjaga kualitas tanah. Berdasar data Dispertan, rata-rata kesuburan tanah di Banyuwangi mulai menurun dengan kadar karbon organik berada di bawah 2 persen.
Salah satunya disebabkan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dalam waktu lama.
"Kami juga terus mendorong petani mulai beralih ke pertanian organik. Selain lebih ramah lingkungan, produk hasil pertanian organik memiliki daya jual tinggi,” ujarnya.
Guna mendukung pertanian organik, pemkab telah melakukan berbagai program. Di antaranya mengadakan pelatihan pembuatan pupuk organik, agen hayati, demplot pertanian organik, hingga memberikan bantuan pupuk organik cair kepada petani.
“Hingga saat ini pupuk organik cair yang kita bagikan mencapai 466.636 liter. Jumlah ini bisa meng-cover lahan seluas 83.524 hektare (Ha),” tutup Arief. (sgt)
Editor : Niklaas Andries