Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Upah Jadi Buruh Angkut Kecil, Penambang Belerang Banyak yang Beralih Jadi Ojek Troli Angkut Wisatawan

Ayu Lestari • Rabu, 6 September 2023 | 20:00 WIB
DITIMBANG: Semakin hari pekerja angkut belerang dari kawah Ijen menuju Paltuding berkurang. Harga yang diberikan PT Candi Ngrimbi kepada penambang Rp 1.250 per kilogram belerang.
DITIMBANG: Semakin hari pekerja angkut belerang dari kawah Ijen menuju Paltuding berkurang. Harga yang diberikan PT Candi Ngrimbi kepada penambang Rp 1.250 per kilogram belerang.

RadarBanyuwangi.id – PT Candi Ngrimbi hingga kini masih kesulitan mengeluarkan puluhan ton stok belerang di Kawah Ijen lantaran jumlah penambang yang semakin berkurang.

Minimnya penambang belerang bukan tanpa alasan. Beberapa penambang beralih profesi karena insentif yang diterima dirasa kurang dari kebutuhan.

Koordinator PT Candi Ngrimbi Bambang Heri Purwanto mengatakan, saat ini diperkirakan hanya ada 10 atau hampir 20 pekerja yang biasa mengangkut belerang dari kawah menuju tempat penimbunan di Paltuding.

Dulu jumlah penambang bisa mencapai 350 pekerja. Angka tersebut terus berkurang semenjak pandemi Covid-19 menyerang.

”Tentu ini menjadi masalah penting. Itulah alasan kami harus memutar otak untuk menyelamatkan stok  belerang yang masih belum terangkut. Selain masalah SDM, kami juga kekurangan alat untuk mengangkut. Alatnya saja masih manual. Sudah lama kami memikirkan bagaimana mulai berinovasi menyediakan alat yang lebih canggih untuk mempermudah penambang. Keinginan tersebut sampai sekarang belum terealisasi,” ujarnya.

Kepala Pos Taman Wisata Alam (TWA) Ijen Sigit Haribowo mengungkapkan, rata-rata penambang  belerang saat ini berpindah haluan menjadi pendorong troli untuk mengangkut wisatawan dari bawah sampai puncak Ijen pulang pergi (PP). 

Pendapatan yang diterima dari ”ngojek” troli ini jauh lebih besar dibanding mengangkut belerang. Selain itu, tip yang didapat dari para wisatawan bisa menjadi pemasukan tambahan bagi penambang yang beralih profesi.

Saat ini BKSDA terus berupaya  membantu menstabilkan jumlah penambang agar tumpukan belerang di solfatara dapat segera terangkut.

”Kami sedang menunggu surat yang dikeluarkan oleh BKSDA terkait izin pelaku wisata. Dari surat tersebut dapat diketahui nama dan profesi pelaku wisata di kawasan TWA tersebut. Nama yang tidak tercantum sebagai pelaku wisata, segera kami kembalikan sebagai penambang seperti tatanan semula,” kata Sigit.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Andika Rahmat Hidayat mengaku dilematis terkait berkurangnya jumlah penambang belerang di Ijen.

Alasannya, wisatawan yang datang baik lokal maupun mancanegara menjadikan penambang sebagai salah satu ikon menarik saat melakukan pendakian.

Menurut Andika, pengunjung Ijen merasa lega setelah menyaksikan api biru dan berjumpa dengan para penambang belerang.

”Api biru dan pemandangan pekerja memikul belerang menjadi magnet tersendiri. Terkadang hanya sekadar berfoto saja, wisatawan mancanegara bisa memberikan tip yang cukup lumayan. Saya berharap jumlah penambang  belerang dapat ditingkatkan lagi,” kata Andika.

Ketika PT Candi Ngrimbi diminta untuk menaikkan insentif bagi para penambang, ternyata cukup  keberatan. Alasannya, stok belerang yang tertimbun masih cukup banyak dan penjualan belum stabil.

”Harga yang diberikan PT Candi Ngrimbi kepada penambang Rp 1.250 per kilogram belerang. Permasalahan ini masih sangat rumit, perlu waktu untuk membahasnya satu persatu,” jelas Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ainur Rofiq. (tar/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#belerang #wisatawan #penambang #kawah ijen #Ojek #buruh #profesi #troli