RADAR BANYUWANGI - Dalam ajaran Islam, bejana yang terkena jilatan anjing memiliki tata cara penyucian khusus. Salah satu hadis riwayat Muslim menyebutkan, bejana yang dijilat anjing dicuci tujuh kali dan salah satunya menggunakan tanah.
Di luar ketentuan agama tersebut, penggunaan tanah menarik ditinjau dari sisi sains. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tanah, terutama yang mengandung mineral lempung atau clay, memiliki sifat fisika dan kimia yang memungkinkannya berinteraksi dengan bakteri serta berbagai senyawa organik.
Namun, bukan berarti semua jenis tanah dapat membunuh bakteri. Karakter dan kemampuan setiap tanah berbeda, bergantung pada komposisi mineral hingga kondisi kimianya.
Air Liur Anjing Mengandung Beragam Bakteri
Air liur anjing bukan cairan steril. Seperti manusia dan hewan lainnya, rongga mulut anjing dihuni berbagai mikroorganisme.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Antibiotics pada 2022 menganalisis 26 data metagenom saliva anjing. Peneliti menemukan sejumlah genus bakteri, antara lain Pasteurella, Capnocytophaga, Streptococcus, Porphyromonas, Prevotella, dan Fusobacterium.
Meski demikian, keberadaan bakteri tersebut tidak berarti setiap kontak dengan air liur anjing akan menyebabkan penyakit. Risiko infeksi dipengaruhi jenis paparan, kondisi kulit, adanya luka, serta kondisi kesehatan manusia dan hewan.
Lantas, apa kaitannya dengan tanah?
Mineral Tanah Dapat Mengikat Molekul
Tanah merupakan material kompleks. Di dalamnya terdapat mineral, bahan organik, air, udara, dan mikroorganisme.
Salah satu komponen yang banyak diteliti adalah mineral lempung. Partikelnya sangat kecil dan memiliki karakteristik permukaan yang membuatnya dapat berinteraksi dengan berbagai molekul.
Salah satu proses yang dapat terjadi adalah adsorpsi. Berbeda dengan absorpsi, adsorpsi merupakan proses ketika molekul atau partikel menempel pada permukaan suatu material.
Karakter permukaan mineral lempung memungkinkan bakteri maupun senyawa organik menempel melalui interaksi fisik dan kimia. Saat permukaan kemudian dibilas, sebagian kontaminan yang telah terikat atau terlepas dapat ikut terbawa air.
Karena itu, tanah tidak tepat dibayangkan sebagai antibiotik yang langsung membunuh semua mikroorganisme.
Tidak Semua Tanah Bersifat Antibakteri
Sejumlah jenis mineral lempung memang diketahui memiliki aktivitas antibakteri.
Penelitian Shelley Haydel, Christine Remenih, dan Lynda Williams dalam Journal of Antimicrobial Chemotherapy menguji beberapa mineral lempung terhadap bakteri patogen.
Hasil penelitian menunjukkan salah satu sampel memiliki aktivitas bakterisidal terhadap sejumlah bakteri. Namun, sampel lain dengan karakter yang berbeda tidak menghasilkan efek serupa.
Penelitian lanjutan yang diterbitkan dalam Environmental Science & Technology juga menemukan bahwa aktivitas antibakteri pada jenis lempung tertentu berkaitan dengan kondisi kimia serta keberadaan besi terlarut.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan antibakteri sangat bergantung pada jenis dan komposisi mineral. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa semua tanah memiliki efek yang sama.
Penelitian di Indonesia Temukan Hasil Berbeda
Perbedaan kemampuan tanah juga ditemukan dalam penelitian di Indonesia.
Penelitian Sjamsiah dan tim dari UIN Alauddin Makassar yang diterbitkan dalam jurnal Al-Kimia pada 2019 membandingkan tanah kebun, tanah sawah, dan tanah dari wilayah perkotaan.
Ketiga sampel diuji terhadap bakteri yang berasal dari air liur anjing liar.
Hasilnya, tanah kebun menghasilkan zona hambat terbesar, sekitar 3,7 sentimeter. Tanah sawah menghasilkan zona hambat sekitar 2,86 sentimeter, sedangkan tanah perkotaan sekitar 1,6 sentimeter.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa sifat fisika dan kimia tanah berpengaruh terhadap kemampuannya menghambat bakteri.
Namun, penelitian itu dilakukan dalam kondisi laboratorium. Hasil tersebut tidak dapat diartikan bahwa tanah kebun secara umum dapat digunakan sebagai disinfektan.
Kaolin dan Bentonit Juga Diteliti
Mineral tanah seperti kaolin dan bentonit juga dikembangkan sebagai bahan pembersih.
Penelitian di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pernah menguji sabun yang mengandung bentonit dan kaolin terhadap bakteri dari saliva anjing. Dalam kondisi percobaan tersebut, penambahan mineral lempung meningkatkan kemampuan sabun menghambat pertumbuhan bakteri.
Penelitian lain juga melaporkan bahwa sabun berbahan kaolin lebih efektif menghilangkan bakteri saliva anjing dibandingkan sabun tanpa tanah dan air suling dalam kondisi pengujian yang dilakukan.
Riset serupa terus berkembang. Pada 2025, UIN Jakarta menampilkan pengembangan tablet sabun berbasis kaolin untuk penyucian najis mughallazah dalam AICIS 2025.
Sementara itu, penelitian yang terbit pada 2026 juga mengembangkan formulasi sabun cair berbasis bentonit. Studi tersebut terutama menguji karakter produk, seperti pH, viskositas, busa, dan angka lempeng total.
Bagaimana Tanah Berinteraksi dengan Bakteri?
Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia Prof. Agustino Zulys pernah menjelaskan bahwa tanah dapat melibatkan dua mekanisme utama.
Pertama, interaksi kimia. Pada mineral tertentu, ion logam dan kondisi kimia yang terbentuk ketika tanah bercampur dengan air dapat memengaruhi sel bakteri. Beberapa penelitian terhadap mineral lempung, misalnya, menemukan peran besi terlarut dalam aktivitas antibakteri.
Kedua, interaksi pada permukaan mineral. Struktur mineral lempung memungkinkan berbagai molekul dan mikroorganisme menempel pada permukaannya. Proses tersebut dapat membantu memisahkan kontaminan dari permukaan yang dibersihkan sebelum kemudian terbawa saat pembilasan.
Dengan demikian, mekanismenya bukan sekadar tanah "membunuh bakteri". Efeknya dapat melibatkan proses adsorpsi, pertukaran ion, interaksi kimia, dan pembilasan.
Berbeda dengan Penanganan Gigitan Anjing
Penggunaan tanah dalam penyucian menurut ketentuan agama harus dibedakan dari penanganan medis akibat gigitan atau cakaran anjing.
Jika seseorang digigit atau dicakar hewan yang berpotensi menularkan rabies, atau air liurnya mengenai luka terbuka maupun selaput lendir, Kementerian Kesehatan RI menganjurkan luka segera dicuci dengan sabun atau deterjen dan air mengalir selama sekitar 15 menit.
Setelah itu, korban perlu mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan untuk menentukan penanganan lebih lanjut, termasuk kebutuhan vaksin atau serum antirabies.
Artinya, penggunaan tanah dalam konteks penyucian tidak menggantikan tata laksana medis untuk luka gigitan maupun paparan rabies.
Dari sisi sains, penelitian menunjukkan bahwa mineral tanah tertentu memang dapat berinteraksi dengan bakteri dan kontaminan. Namun, kemampuan tersebut berbeda pada setiap jenis tanah.
Sains dapat membantu menjelaskan mekanisme yang mungkin terjadi ketika tanah digunakan dalam proses pembersihan. Namun, temuan tersebut belum membuktikan bahwa kemampuan antibakteri merupakan satu-satunya alasan di balik ketentuan penggunaan tanah dalam penyucian jilatan anjing.
Editor : Lugas Rumpakaadi