RADAR BANYUWANGI – Cara mendidik anak dalam parenting Islami tidak berhenti pada mengajarkan anak berbuat baik, tetapi dimulai dari membangun hubungan hatinya dengan Allah, lalu menerjemahkannya dalam akhlak, ibadah, sikap hormat, amanah, sabar, percaya diri, dan pantang menyerah. Orang tua menjadi teladan utama karena anak belajar bukan hanya dari nasihat, melainkan juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.
Mendidik anak merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, perhatian, dan keteladanan. Dalam perspektif parenting Islami, pendidikan anak dapat dimulai sejak usia dini dengan mengenalkan nilai tauhid sekaligus membiasakan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuannya bukan sekadar membuat anak patuh kepada orang tua. Lebih jauh, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki iman, akhlak, tanggung jawab, rasa hormat, serta kemampuan menghadapi berbagai situasi dengan sikap yang baik.
1. Hubungkan Hati Anak dengan Allah
Salah satu fondasi penting dalam parenting Islami adalah menanamkan nilai tauhid sedini mungkin. Anak perlu dikenalkan kepada Allah melalui cara yang sederhana dan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Orang tua dapat mengajak anak mengenal nama dan sifat Allah melalui Asmaul Husna, sekaligus mengenalkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Pengenalan tersebut dapat dilakukan melalui percakapan sehari-hari. Misalnya, mengajak anak bersyukur atas makanan, kesehatan, keluarga, atau alam yang mereka lihat.
Dengan cara sederhana itu, anak perlahan memahami bahwa kehidupan memiliki hubungan dengan Sang Pencipta.
2. Tanamkan Kecintaan terhadap Al-Qur'an
Al-Qur'an juga dapat diperkenalkan kepada anak sejak dini melalui suasana yang menyenangkan.
Orang tua dapat membiasakan anak mendengarkan lantunan ayat suci, mengenalkan etika membaca Al-Qur'an, serta mengajarkan adab seperti membaca ta'awwudz dan basmalah.
Anak juga perlu dikenalkan untuk menghormati dan memuliakan mushaf Al-Qur'an. Ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten, kecintaan terhadap Al-Qur'an dapat tumbuh secara bertahap.
Yang tak kalah penting, orang tua sebaiknya menunjukkan contoh secara langsung. Anak akan lebih mudah meniru kebiasaan yang mereka lihat dibandingkan hanya menerima perintah.
3. Ajarkan Dzikir dan Etika Nabi
Mengajarkan dzikir dan etika Nabi Muhammad SAW menjadi bagian lain dari pendidikan karakter dalam parenting Islami.
Dzikir dapat dibiasakan dalam berbagai aktivitas sederhana, seperti sebelum makan, setelah makan, sebelum tidur, atau ketika bangun tidur.
Kebiasaan tersebut membantu anak mengenal nilai mengingat Allah dalam aktivitas sehari-hari. Bersamaan dengan itu, orang tua dapat mengenalkan akhlak Nabi, seperti berkata jujur, menyayangi sesama, menjaga kebersihan, dan menghormati orang lain.
4. Biasakan Anak Melaksanakan Salat
Salat sebaiknya dikenalkan kepada anak secara bertahap dan penuh pendampingan.
Ketika anak mulai mendekati usia 7 tahun, orang tua dapat semakin membiasakan anak bersiap ketika azan berkumandang. Misalnya, mengingatkan anak untuk mengambil wudu dan menyiapkan perlengkapan salat.
Kuncinya bukan hanya menyuruh, tetapi mendampingi. Orang tua dapat memberikan contoh dengan melaksanakan salat tepat waktu dan mengajak anak ikut dalam suasana ibadah keluarga.
Pendekatan seperti ini membuat salat tidak hanya dipahami sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai kebiasaan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
5. Ajarkan Anak Menghormati dan Menghargai Orang Tua
Mengajarkan rasa hormat kepada orang tua akan lebih efektif jika dibarengi dengan keteladanan.
Luangkan waktu untuk berkumpul dan berbicara bersama anak. Dengarkan ceritanya, berikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, dan ajak berdiskusi ketika menghadapi persoalan sederhana.
Satu kebiasaan kecil yang dapat memberikan pesan besar adalah meletakkan ponsel ketika berbicara dengan anak.
Perhatian penuh membuat anak merasa didengar dan dihargai. Dari hubungan yang terbuka inilah rasa hormat dapat tumbuh secara alami.
6. Ajarkan Arti Amanah dan Menghormati Hak Orang Lain
Sikap amanah dapat diajarkan melalui hal-hal sederhana, termasuk menghormati barang milik anak.
Orang tua sebaiknya mengajarkan bahwa setiap orang memiliki hak atas barang miliknya. Anak pun perlu memahami bahwa mengambil atau menggunakan barang orang lain harus dengan izin.
Ketika anak menggunakan barang milik orang lain tanpa izin, hindari langsung melabelinya sebagai pencuri atau mempermalukannya.
Alih-alih membentak, orang tua dapat memanfaatkan momen tersebut untuk menjelaskan mengapa tindakan itu tidak tepat dan bagaimana cara memperbaikinya.
Cara menyampaikan nasihat menjadi bagian penting dalam pendidikan anak. Teguran yang membuat anak merasa dihargai cenderung lebih mudah diterima dibandingkan kata-kata yang membuatnya merasa direndahkan.
7. Latih Kesabaran Anak dari Hal Sederhana
Kesabaran bukan sesuatu yang selalu muncul dengan sendirinya. Anak perlu belajar menunggu dan memahami bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi saat itu juga.
Latihan sederhana dapat dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.
Misalnya, ketika anak meminta makanan sementara orang tua sedang memasak, orang tua dapat mengatakan dengan lembut, "Sabar ya, Nak. Ibu masak dulu. Tunggu sebentar."
Dari situ anak belajar bahwa menunggu merupakan bagian dari kehidupan.
Namun, orang tua juga perlu menjadi contoh. Anak akan sulit belajar sabar jika setiap menghadapi masalah justru melihat orang tuanya mudah marah atau kehilangan kendali.
8. Tumbuhkan Semangat dan Pantang Menyerah
Sikap pantang menyerah dapat diperkenalkan sejak anak masih kecil.
Salah satu cara yang menyenangkan adalah melalui dongeng atau cerita sebelum tidur. Pilih cerita yang menggambarkan tokoh menghadapi kesulitan, berusaha kembali setelah gagal, dan akhirnya mendapatkan hasil dari kerja kerasnya.
Ketika anak mengalami kegagalan, orang tua juga dapat menghindari respons yang terlalu cepat menyalahkan.
Sebaliknya, bantu anak memahami bahwa gagal merupakan bagian dari proses belajar. Dengan demikian, anak tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
9. Bangun Rasa Percaya Diri Anak
Anak membutuhkan rasa dicintai sekaligus kepercayaan dari orang tua untuk membangun kepercayaan dirinya.
Panggilan kesayangan, pelukan, pujian atas usaha, serta dukungan ketika anak mencoba sesuatu yang baru dapat menjadi bentuk kasih sayang yang sederhana tetapi berarti.
Orang tua juga dapat memberikan pilihan yang sesuai dengan usia anak.
Misalnya ketika membeli pakaian, anak dapat diberi kesempatan memilih baju yang disukainya dari beberapa pilihan yang tersedia.
Kebiasaan memberikan pilihan membuat anak belajar mengambil keputusan sekaligus memahami konsekuensi sederhana dari pilihannya.
Parenting Islami Dimulai dari Keteladanan Orang Tua
Pada akhirnya, cara mendidik anak menurut parenting Islami tidak hanya berbicara tentang apa yang harus diajarkan kepada anak. Cara orang tua bersikap justru menjadi bagian terpenting dari pendidikan itu sendiri.
Anak melihat bagaimana orang tua berbicara, memperlakukan orang lain, mengendalikan emosi, menjalankan ibadah, meminta maaf, hingga menghadapi masalah.
Karena itu, membangun iman, akhlak, kesabaran, rasa hormat, amanah, semangat, dan percaya diri pada anak perlu dimulai dari lingkungan rumah.
Orang tua tidak harus menjadi sempurna. Yang terpenting adalah terus memberikan contoh, mendampingi proses tumbuh kembang anak, serta memperbaiki pola pengasuhan ketika menemukan kekurangan.
Dengan pendekatan tersebut, parenting Islami dapat menjadi proses membangun karakter anak secara bertahap—bukan melalui tekanan, tetapi melalui iman, keteladanan, kasih sayang, kebiasaan, dan pendampingan. (*)
Editor : Ali Sodiqin