RADAR BANYUWANGI – Mendidik anak bukan hanya soal memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membentuk karakter yang akan dibawanya hingga dewasa. Sayangnya, sejumlah kebiasaan orang tua yang dianggap sepele—mulai dari terlalu sering mengkritik, membandingkan anak, tidak konsisten membuat aturan, hingga mempermalukannya—justru dapat membuat proses pengasuhan menjadi tidak sehat.
Menjadi orang tua memang bukan pekerjaan sederhana. Ada tuntutan untuk melindungi, mendidik, mendisiplinkan, sekaligus memberi ruang kepada anak agar tumbuh mandiri.
Dalam praktiknya, kesalahan pengasuhan bisa terjadi tanpa disadari.
Orang tua mungkin merasa sedang memotivasi anak ketika membandingkannya dengan teman. Ada pula yang menganggap bentakan sebagai cara cepat agar anak menurut. Padahal, cara tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri dan hubungan anak dengan orang tuanya.
Karena itu, mengenali kesalahan dalam mendidik anak menjadi langkah penting agar pola asuh dapat diperbaiki.
1. Tidak Menjadi Panutan yang Baik
Anak belajar banyak hal dari perilaku orang-orang terdekatnya.
Orang tua merupakan salah satu panutan utama. Karena itu, sulit meminta anak bersikap tenang jika orang tua sendiri terbiasa berteriak ketika marah.
Begitu pula ketika orang tua ingin anak disiplin, tetapi dirinya sendiri sering mengabaikan aturan yang dibuat.
Kebiasaan seperti membentak, membanting barang saat emosi, berkata kasar, atau membuang sampah sembarangan dapat ditiru anak.
Karena itu, perubahan perilaku sebaiknya dimulai dari orang tua sendiri. Tunjukkan sikap yang ingin dilihat pada anak.
2. Terlalu Sering Mengkritik
Kritik memang diperlukan ketika anak melakukan kesalahan. Namun, kritik yang diberikan terus-menerus dapat membuat anak merasa tidak pernah cukup baik.
Alih-alih hanya menunjukkan kesalahan, orang tua dapat menjelaskan perilaku mana yang perlu diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya.
Gunakan bahasa yang tidak merendahkan.
Anak perlu memahami bahwa yang dikoreksi adalah perilakunya, bukan harga dirinya sebagai pribadi.
3. Membandingkan Anak dengan Orang Lain
"Kenapa kamu tidak seperti temanmu?"
Kalimat semacam itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa membuat anak merasa dirinya tidak berharga.
Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain dengan tujuan memotivasi justru dapat menurunkan rasa percaya dirinya.
Setiap anak memiliki kemampuan dan kecepatan perkembangan yang berbeda.
Daripada membandingkan, orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha dan perkembangan anak sendiri. Fokus pada proses dapat membantu anak membangun motivasi yang lebih sehat.
4. Menetapkan Ekspektasi Terlalu Tinggi
Orang tua tentu ingin melihat anaknya berhasil.
Namun, keinginan tersebut bisa berubah menjadi tekanan ketika orang tua menetapkan target yang tidak sesuai dengan usia, kemampuan, atau kondisi anak.
Misalnya, menuntut anak selalu menjadi juara kelas, harus memenangkan perlombaan, atau menguasai keterampilan tertentu lebih cepat daripada anak seusianya.
Ekspektasi yang terlalu tinggi dapat membuat anak merasa gagal ketika tidak mampu memenuhi harapan orang tua.
Karena itu, kenali kemampuan anak dan berikan target yang realistis.
5. Tidak Konsisten dan Tidak Memiliki Batasan
Aturan yang berubah-ubah dapat membuat anak bingung.
Hari ini anak dilarang bermain gadget terlalu lama, tetapi keesokan harinya aturan tersebut dibiarkan begitu saja. Situasi seperti ini membuat anak kesulitan memahami batas yang sebenarnya.
Sebaliknya, orang tua perlu menetapkan aturan yang jelas dan konsisten.
Batasan dapat diterapkan pada berbagai aktivitas, seperti waktu bermain, penggunaan gadget, menonton televisi, tidur, hingga kebiasaan makan.
Konsistensi membantu anak memahami bahwa setiap aturan memiliki alasan dan konsekuensi.
6. Terjebak Adu Mulut dengan Anak
Ketika anak membantah, orang tua mungkin ikut terpancing.
Percakapan yang awalnya bertujuan mendisiplinkan anak kemudian berubah menjadi adu argumen. Suasana pun semakin panas dan tidak ada pihak yang benar-benar belajar dari situasi tersebut.
Ketika emosi meningkat, orang tua sebaiknya menjaga respons tetap tenang.
Berikan instruksi yang singkat, jelas, dan tegas. Jika diperlukan, beri waktu bagi anak maupun orang tua untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan.
Tujuannya bukan memenangkan perdebatan, melainkan membantu anak memahami perilaku yang benar.
7. Kurang Memberikan Perhatian
Kesibukan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari terkadang membuat orang tua tidak memiliki cukup waktu bersama anak.
Masalahnya, perhatian bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi.
Anak juga membutuhkan kesempatan untuk bercerita, bermain, didengarkan, dan merasa bahwa dirinya penting bagi orang tua.
Kurangnya perhatian dapat membuat anak merasa diabaikan. Pada sebagian anak, perilaku negatif bahkan dapat muncul sebagai cara mendapatkan perhatian.
Karena itu, luangkan waktu berkualitas bersama anak meski tidak selalu dalam durasi panjang.
8. Terlalu Otoriter
Orang tua tentu memiliki tanggung jawab untuk memberikan arahan. Namun, menjadi terlalu otoriter berarti hampir seluruh keputusan anak dikendalikan tanpa memberikan ruang untuk belajar.
Anak yang terus-menerus dikontrol dapat kehilangan kesempatan untuk belajar mengambil keputusan dan memahami konsekuensi dari pilihannya.
Orang tua tetap perlu menetapkan batas, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan keamanan dan kesehatan.
Namun, pada hal yang sesuai dengan usia anak, berikan ruang untuk memilih dan belajar dari pengalaman.
9. Terlalu Memanjakan
Kasih sayang merupakan kebutuhan penting bagi anak. Tetapi, kasih sayang tidak sama dengan memenuhi semua keinginan.
Ketika anak terlalu sering dibantu, dilindungi, atau mendapatkan apa pun yang diminta, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri.
Anak perlu diberi tanggung jawab sesuai usianya.
Mulai dari membereskan mainan, menyiapkan barang sendiri, hingga belajar menyelesaikan masalah sederhana dapat menjadi latihan kemandirian.
Orang tua tetap berada di belakang anak sebagai pendamping, bukan selalu mengambil alih semua persoalan.
10. Ayah dan Ibu Tidak Kompak
Perbedaan pendapat antara ayah dan ibu dalam pengasuhan merupakan hal yang mungkin terjadi.
Namun, jika aturan yang diberikan bertolak belakang tanpa komunikasi yang jelas, anak bisa kebingungan mengenai batas yang harus diikuti.
Misalnya, ayah melarang penggunaan gadget pada malam hari, tetapi ibu justru membolehkan tanpa kesepakatan.
Karena itu, orang tua perlu mendiskusikan aturan pengasuhan bersama.
Perbedaan pendapat sebaiknya diselesaikan antara orang dewasa dan tidak menjadikan anak sebagai pihak yang harus memilih salah satu orang tua.
11. Mempermalukan Anak
Mempermalukan anak, baik di depan orang lain maupun di ruang publik, bukan cara yang sehat untuk membuatnya berhenti melakukan kesalahan.
Ancaman seperti meninggalkan anak, memperolok perilakunya, atau menceritakan kesalahannya kepada orang lain dapat membuat anak merasa tidak aman dan kehilangan kepercayaan.
Ketika anak melakukan kesalahan, cari tahu terlebih dahulu penyebab perilakunya.
Setelah itu, jelaskan dengan tenang apa yang salah dan bantu anak memahami cara memperbaikinya.
Disiplin tetap bisa diberikan tanpa merendahkan martabat anak.
Kesalahan Pengasuhan Bisa Diperbaiki
Tidak ada orang tua yang selalu benar.
Kesalahan dalam mendidik anak bisa terjadi karena kelelahan, tekanan pekerjaan, kurangnya pengetahuan, atau situasi tertentu di rumah.
Yang penting adalah kemauan untuk mengevaluasi pola pengasuhan dan memperbaiki cara berkomunikasi dengan anak.
Orang tua juga perlu mengingat bahwa tujuan disiplin bukan sekadar membuat anak patuh. Lebih jauh, pengasuhan bertujuan membantu anak memahami aturan, bertanggung jawab, mengelola emosi, menghargai orang lain, dan menjadi pribadi yang mandiri.
Karena itu, hindari 11 kesalahan dalam mendidik anak tersebut mulai dari sekarang. Menjadi panutan, mengurangi kritik, tidak membandingkan, menetapkan aturan yang konsisten, memberikan perhatian, serta memberi ruang bagi anak untuk belajar merupakan bagian penting dari pola asuh yang sehat.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang mau belajar, mendengarkan, memperbaiki kesalahan, dan hadir dalam proses tumbuh kembang mereka. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : hellosehat.com