Benarkah Makan Kacang Bikin Jerawatan? Ini yang Perlu Diperhatikan

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 14:18 WIB
Kacang belum terbukti menjadi penyebab langsung jerawat. Bentuk olahan, bahan tambahan, porsi, dan pola makan secara keseluruhan perlu diperhatikan. (ChatGPT)
Kacang belum terbukti menjadi penyebab langsung jerawat. Bentuk olahan, bahan tambahan, porsi, dan pola makan secara keseluruhan perlu diperhatikan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Kacang selama ini kerap dituding sebagai salah satu makanan penyebab jerawat. Anggapan tersebut membuat sebagian orang memilih menghindari kacang tanah, kacang mede, hingga berbagai makanan berbahan kacang ketika jerawat mulai muncul di wajah.

Namun, benarkah kacang secara langsung menyebabkan jerawat? Penjelasannya ternyata tidak sesederhana itu. Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa konsumsi kacang secara langsung menjadi penyebab jerawat. Bentuk olahan dan pola makan secara keseluruhan justru menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Kacang Bukan Penyebab Langsung Jerawat

Jerawat merupakan masalah kulit yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Produksi minyak berlebih, penyumbatan pori-pori, bakteri Cutibacterium acnes, serta peradangan merupakan beberapa faktor yang berperan dalam munculnya jerawat.

Hubungan antara makanan dan jerawat juga tidak dapat dilihat hanya dari satu jenis makanan. Dalam sebuah video singkat yang diunggah melalui kanal YouTube dr. Anita, dijelaskan bahwa belum terdapat penelitian yang menunjukkan hubungan langsung antara konsumsi kacang dan munculnya jerawat.

“Sampai saat ini belum ada penelitian yang mengatakan hubungan langsung antara makan kacang dan timbulnya jerawat… Kalau kita bicara penyebab jerawat yang berhubungan dengan makanan, itu akan merujuk pada indeks glikemik yang tinggi.”

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa orang yang mengalami jerawat tidak serta-merta harus menghapus kacang dari menu. Yang perlu dilihat adalah keseluruhan makanan yang dikonsumsi, termasuk bahan tambahan dan cara pengolahannya.

Justru Olahan Kacang yang Perlu Diperhatikan

Kacang yang dikonsumsi dalam bentuk sederhana, seperti dipanggang atau disangrai tanpa banyak tambahan gula dan minyak, berbeda dengan makanan yang menggunakan kacang sekaligus mengandung banyak bahan tambahan.

Contohnya dapat ditemukan pada kacang telur, kacang bersalut tepung, selai kacang dengan tambahan gula, serta peyek kacang yang digoreng.

Pada makanan tersebut, konsumen tidak hanya mendapatkan kandungan dari kacang. Ada pula bahan lain seperti gula, tepung, minyak, dan bahan tambahan lainnya yang perlu diperhitungkan dalam pola makan sehari-hari.

Bagi masyarakat Banyuwangi yang terbiasa menikmati beragam camilan berbahan kacang, termasuk peyek atau makanan ringan lainnya, hal ini menjadi alasan untuk tidak terburu-buru menyalahkan kacang ketika jerawat muncul.

Perhatian sebaiknya diarahkan pada komposisi makanan secara keseluruhan.

Dr. Anita juga mengingatkan pentingnya mengevaluasi makanan yang dikonsumsi bersama kacang.

“Kacang yang kamu makan bisa aja menimbulkan jerawat kalau misalnya kacangnya udah kamu olah: misal jadi selai kacang, bumbu kacang, kacang telur, atau peyek kacang yang digoreng. Jadi kalau muncul jerawat, coba dievaluasi lagi, kamu makannya pakai apa?”

Apa Hubungan Indeks Glikemik dengan Jerawat?

Salah satu aspek pola makan yang banyak dibahas dalam kaitannya dengan jerawat adalah konsumsi makanan dengan indeks atau beban glikemik tinggi.

Makanan yang cepat meningkatkan kadar gula darah dapat memengaruhi kadar insulin dan jalur hormon seperti IGF-1. Perubahan tersebut diduga berkaitan dengan proses yang memengaruhi produksi sebum dan mekanisme terbentuknya jerawat.

Karena itu, konsumsi kacang bersama makanan tinggi gula atau karbohidrat olahan perlu dibedakan dengan konsumsi kacang dalam bentuk yang lebih sederhana.

Dengan kata lain, ketika seseorang merasa jerawat muncul setelah mengonsumsi makanan berbahan kacang, bukan berarti kacangnya otomatis menjadi penyebab. Bahan lain dalam makanan tersebut serta pola makan secara keseluruhan juga perlu diperhatikan.

Jadi, Bolehkah Makan Kacang Saat Berjerawat?

Boleh. Kacang tetap dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang. Bahan pangan ini mengandung protein, serat, vitamin, mineral, serta lemak tak jenuh.

Pilihan konsumsinya menjadi hal yang penting. Kacang panggang atau sangrai dengan sedikit tambahan gula dan minyak tentu berbeda dengan kacang yang dilapisi tepung, diberi gula, atau digoreng.

Porsi juga tetap perlu diperhatikan. Mengonsumsi satu jenis makanan secara berlebihan tidak ideal, terlepas dari apakah makanan tersebut berkaitan dengan jerawat atau tidak.

Jika seseorang merasa kondisi kulit memburuk setelah mengonsumsi makanan tertentu, langkah yang dapat dilakukan adalah memperhatikan pola makan selama beberapa waktu. Catat jenis makanan yang dikonsumsi dan lihat apakah terdapat pola yang berulang.

Namun, kemunculan jerawat tidak bisa dipastikan hanya berdasarkan satu makanan. Faktor lain seperti kondisi kulit, hormon, produksi minyak, kebiasaan perawatan kulit, dan faktor individu juga dapat berperan.

Jangan Hanya Menyalahkan Kacangnya

Anggapan bahwa makan banyak kacang pasti membuat seseorang jerawatan tidak sepenuhnya tepat. Belum ada bukti yang menunjukkan hubungan langsung antara konsumsi kacang dan munculnya jerawat.

Yang lebih penting adalah melihat makanan secara utuh: bagaimana kacang tersebut diolah, apa saja bahan tambahannya, berapa banyak yang dikonsumsi, serta bagaimana pola makan sehari-hari.

Jadi, bagi yang sedang mengalami jerawat, tidak perlu buru-buru menghindari semua jenis kacang. Evaluasi pola makan secara keseluruhan lebih masuk akal daripada langsung menyimpulkan bahwa kacang adalah penyebabnya.

Jika jerawat terus muncul, semakin berat, atau mengganggu, evaluasi pola makan sebaiknya tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga medis. Jerawat memiliki banyak faktor yang dapat berperan sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kacang dan jerawat penyebab jerawat makanan pemicu jerawat indeks glikemik kesehatan kulit