Bahasa Oseng Tak Boleh Hilang, 400 Pelajar Banyuwangi Berebut Juara Festival Literasi

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 05:30 WIB
Sekitar 400 pelajar SD-SMP mengikuti Festival Literasi Oseng Banyuwangi. Mereka berkarya sekaligus menjaga bahasa daerah sebagai identitas budaya. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Sekitar 400 pelajar SD-SMP mengikuti Festival Literasi Oseng Banyuwangi. Mereka berkarya sekaligus menjaga bahasa daerah sebagai identitas budaya. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Sekitar 400 pelajar SD dan SMP dari seluruh kecamatan di Banyuwangi berkumpul untuk satu tujuan: menjaga bahasa Oseng tetap hidup di tengah generasi muda. Melalui Festival Literasi Oseng yang digelar kemarin (5/9), bahasa asli Bumi Blambangan tidak sekadar dipelajari, tetapi diolah menjadi puisi, cerita, pidato, lagu, hingga pertunjukan.

Festival yang digelar Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi itu menjadi ruang bagi siswa untuk mengasah kemampuan literasi sekaligus mengenal bahasa daerah sebagai bagian dari identitas mereka.

Sebanyak sembilan kategori perlombaan disiapkan. Mulai geguritan atau puisi Oseng, ngewer atau komedi tunggal, menulis cerita Oseng, menulis aksara Oseng, mendongeng, menyanyi lagu Oseng, pidato bahasa Oseng, memengan sandiwara, hingga mocoan lontar.

Pelaksanaan lomba dipusatkan di dua lokasi, yakni SDN Kepatihan dan area Creative Space di kawasan Lapangan Taman Blambangan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, festival tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengenalkan sekaligus menanamkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa Oseng.

“Kita ingin anak-anak kita memahami, mengetahui, bahkan melestarikan bahasa Oseng di Banyuwangi,” ujarnya saat membuka Festival Literasi Oseng.

Ketika Bahasa Daerah Menjadi Karya

Bagi Pemkab Banyuwangi, pelestarian bahasa Oseng tidak cukup hanya dengan mengajarkan kosakata atau penggunaan bahasa dalam percakapan sehari-hari.

Bahasa daerah perlu diberi ruang untuk berkembang menjadi karya.

Melalui sembilan kategori lomba, para siswa didorong menuangkan gagasan dalam bahasa Oseng. Ada yang menyusun cerita, membacakan puisi, mendongeng, berpidato, hingga menampilkan sandiwara.

Dengan cara tersebut, bahasa Oseng ditempatkan bukan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai medium kreativitas generasi sekarang.

“Ini adalah bagian penting bagi kita semuanya, memfasilitasi anak-anak agar mereka tidak hanya cakap dalam literasi umum, tetapi juga mengangkat bahasa lokal kita, yaitu bahasa Oseng,” kata Ipuk.

Menurut dia, festival tersebut mempertemukan dua kekuatan penting Banyuwangi: literasi sebagai fondasi kemajuan dan budaya sebagai akar identitas masyarakat.

“Ini mempunyai makna yang strategis, dimana kita ingin mempertemukan dua kekuatan Banyuwangi, yaitu literasi sebagai pondasi kemajuan sebuah daerah dan budaya sebagai akar identitas,” jelasnya.

Ipuk menambahkan, literasi mengajarkan anak mengembangkan gagasan. Sementara bahasa Oseng memberi ruang bagi gagasan tersebut untuk dituangkan menjadi karya yang memiliki identitas lokal.

“Dari literasi kita belajar mengembangkan sebuah gagasan, dari bahasa Oseng kita bisa menciptakan sebuah karya,” tuturnya.

Bukan Sekadar Lomba

Festival Literasi Oseng juga diarahkan menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar. Pemerintah daerah ingin pelestarian bahasa dan budaya tidak berhenti di panggung perlombaan.

Orang tua, sekolah, masyarakat, dan pemerintah diharapkan ikut mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah.

Ipuk berharap kegiatan tersebut berkembang menjadi gerakan bersama yang sekaligus mendorong budaya membaca, berpikir kritis, kreativitas, dan kebanggaan terhadap identitas lokal.

“Mudah-mudahan ini menjadi gerakan bersama bagi kita semuanya, masyarakat Banyuwangi, untuk gemar membaca, kritis dalam berpikir, kreatif dalam berkarya, sekaligus bangga terhadap identitas dan budaya,” harapnya.

Bagi para pemenang, festival tersebut juga menjadi pintu menuju panggung yang lebih tinggi. Juara pertama dari masing-masing kategori nantinya akan mewakili Banyuwangi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat provinsi hingga nasional.

“Dari Banyuwangi kita membaca dunia, dengan literasi kita membuka masa depan, dengan bahasa Oseng kita menjaga jati diri,” imbuh Ipuk.

Bagian dari Revitalisasi Bahasa Daerah

Kabid SD Dispendik Banyuwangi Sutikno mengatakan, Festival Literasi Oseng merupakan bagian dari pengembangan budaya sekaligus pembelajaran bahasa Oseng di lingkungan pendidikan.

Menurut pria yang akrab disapa Tik itu, kegiatan tersebut telah digelar secara rutin setiap tahun.

“Festival Literasi Bahasa Oseng ini merupakan bagian dari pengembangan budaya serta pembelajaran bahasa Oseng di Banyuwangi,” ujarnya.

Program tersebut menjadi bagian dari pembinaan, pengembangan, pelindungan, serta revitalisasi bahasa daerah yang dilakukan Pemkab Banyuwangi melalui Dispendik.

Tik mengatakan, upaya tersebut juga mendapat apresiasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) atas respons Pemkab Banyuwangi terhadap pelestarian bahasa Oseng.

Pelaksanaan festival berlandaskan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Kegiatan itu juga menjadi bagian dari implementasi Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2017 tentang Pelestarian Budaya dan Adat Istiadat di Banyuwangi.

Menjaga Bahasa dari Ancaman Kepunahan

Pelestarian bahasa daerah memiliki tantangan tersendiri. Perubahan zaman membuat penggunaan bahasa lokal harus berhadapan dengan semakin beragamnya bahasa dan budaya yang digunakan generasi muda.

Karena itu, menurut Tik, bahasa dan sastra daerah perlu terus diperkenalkan melalui lingkungan pendidikan.

Festival Literasi Oseng diharapkan mampu menumbuhkan nilai, kebiasaan, sikap, dan perilaku positif sekaligus menjaga bahasa daerah agar terus digunakan, dikembangkan, dan dilestarikan.

“Sehingga perlu untuk menjadi gerakan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan orang tua,” jelasnya.

Selain menjaga bahasa daerah, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pendidikan karakter di sekolah. Kecintaan terhadap bahasa dan sastra daerah diharapkan tumbuh bersamaan dengan kebiasaan positif para siswa.

Tahun ini, Festival Literasi Oseng mengusung tema “Ngormati Wong Tuwak Loro lan Guru”. Pesertanya merupakan siswa SD dan SMP yang menjadi perwakilan dari masing-masing kecamatan di Banyuwangi.

Kepala SMPN 4 Banyuwangi Dardiri mengatakan, sekolahnya turut mengirimkan enam siswa untuk mengikuti sejumlah kategori perlombaan.

“Kami mengirim enam siswa yang ikut dalam perlombaan Festival Literasi Bahasa Oseng,” pungkasnya. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
literasi Banyuwangi Festival Oseng budaya oseng pelajar banyuwangi bahasa oseng