Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Digital Mission Race sebagai Model Literasi Digital

T
Oleh: Alfian, Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi
Oleh: Alfian, Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi

Advertisement

RADAR BANYUWANGI - Anak-anak SMP hari ini tumbuh sebagai generasi digital. Smartphone dan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Persoalannya bukan lagi apakah anak harus dijauhkan dari teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut diarahkan menjadi instrumen pendidikan.

Di sinilah pendidikan menghadapi tantangan sekaligus peluang. Gawai yang sama dapat digunakan untuk bermain berjam-jam, tetapi gawai itu pula dapat menjadi alat untuk mencari informasi, membaca, memverifikasi fakta, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan menghasilkan karya.

Teknologi pada akhirnya hanyalah alat. Nilai pendidikannya ditentukan oleh bagaimana manusia menggunakannya. Dalam konteks inilah kegiatan Digital Mission Race (DMR) yang diselenggarakan Radar Banyuwangi bagi siswa SMP menarik untuk dilihat. Bukan sekedar lomba, tetapi sebagai sebuah pengalaman belajar yang kontekstual.

Advertisement

Selama ini pendidikan sering dipahami dalam ruang yang relatif sempit. Guru, papan tulis, buku, tugas, dan ujian. Padahal lingkungan sekitar adalah sumber belajar yang tidak pernah habis. Destinasi wisata Banyuwangi memiliki sejarah, budaya, lingkungan, ekonomi, masyarakat, dan berbagai informasi yang dapat menjadi bahan pembelajaran. Melalui DMR, anak tidak hanya datang ke sebuah tempat untuk melihat pemandangan. Mereka diberikan misi.

Mereka harus membaca petunjuk, mencari informasi, memahami konteks, berdiskusi dengan teman, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tantangan. Dengan demikian, destinasi wisata berubah menjadi kelas terbuka.

Salah satu persoalan literasi digital adalah anak sering kali berhenti pada kemampuan mencari informasi. Padahal kemampuan mencari belum menunjukkan kemampuan literasi. Anak perlu belajar mencari informasi, membaca informasi, memeriksa kebenarannya, memikirkan maknanya, dan memecahkan persoalan.

Advertisement

Inilah yang membuat DMR menarik dari perspektif pendidikan. Anak tidak hanya dituntut “menemukan jawaban”, tetapi juga belajar bagaimana memperoleh jawaban tersebut.

Pembelajaran digital terkadang menghadirkan paradoks. Anak semakin lama berada di depan layar, tetapi semakin jauh dari lingkungan nyata. DMR justru membalik keadaan tersebut. Gawai digunakan untuk membawa anak keluar dari layar menuju realitas. Anak menggunakan teknologi untuk mengenali tempat yang mereka kunjungi, memahami sejarahnya, mencari informasi tentang budaya dan lingkungannya, kemudian menghubungkan informasi digital dengan pengalaman langsung. Di sinilah teknologi menjadi jembatan antara dunia virtual dan dunia nyata.

Kegiatan ini juga memiliki dimensi penting dalam pengembangan keterampilan sosial. Siswa bekerja dalam kelompok. Ada yang lebih cepat mencari informasi. Ada yang lebih teliti membaca petunjuk. Ada yang kuat dalam logika. Ada yang komunikatif. Ada yang mampu mengambil keputusan. Perbedaan kemampuan justru menjadi kekuatan kelompok.

Ini mengajarkan sebuah pelajaran penting. Sekolah tidak hanya mempersiapkan anak untuk mampu menjawab soal secara individual, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk mampu menyelesaikan persoalan bersama. Karena kehidupan nyata hampir selalu membutuhkan kolaborasi.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Digital Mission Race 2026 Uji Kepedulian Lingkungan, Peserta Masih Keliru Bedakan Jenis Sampah

Digital Mission Race 2026 Uji Kepedulian Lingkungan, Peserta Masih Keliru Bedakan Jenis Sampah

Radar Banyuwangi Digital Mission Race 2026 menguji kemampuan peserta memilah sampah organik dan anorganik. Hasil penilaian menunjukkan banyak regu masih keliru, sehingga edukasi lingkungan perlu terus diperkuat.

Polresta Banyuwangi Perluas Program Paham AI, 300 Siswa MAN 1 Dibekali Literasi Digital

Polresta Banyuwangi Perluas Program Paham AI, 300 Siswa MAN 1 Dibekali Literasi Digital

Polresta Banyuwangi memperluas Program Paham AI di MAN 1 Banyuwangi dengan membekali 300 siswa soal literasi, etika, prompt, dan verifikasi informasi agar pelajar bijak serta kritis menghadapi hoaks dan teknologi.

Gandeng Bank Jatim, Radar Digital Mission Race 2026 Padukan QRIS, Kuliner, dan Edukasi Sampah

Gandeng Bank Jatim, Radar Digital Mission Race 2026 Padukan QRIS, Kuliner, dan Edukasi Sampah

Radar Digital Mission Race 2026 di Banyuwangi menggandeng Bank Jatim dalam tantangan QRIS, kuliner, dan pemilahan sampah. Peserta belajar bertransaksi digital sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer