RADAR BANYUWANGI – Sebanyak 90 guru anggota Pusat Kegiatan Guru (PKG) Kecamatan Singojuruh mulai mengubah cara merancang pembelajaran. Bukan sekadar belajar menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), mereka dilatih memadukan teknologi dengan pedagogi dan potensi lokal, termasuk pertanian beras organik, untuk menyusun question prompt scaffolding worksheet yang lebih sistematis dan sesuai kebutuhan siswa.
Pelatihan tersebut berlangsung di Aula Korwilkersatdik Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Rabu (26/8/2026). Kegiatan menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan guru dalam mengintegrasikan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) sekaligus membawa potensi lingkungan sekitar ke dalam proses belajar di sekolah dasar.
Program dimulai pukul 08.00 hingga selesai. Peserta tidak hanya menerima materi melalui ceramah. Mereka juga mengikuti diskusi, workshop, dan brainstorming untuk memahami bagaimana AI dapat digunakan sebagai alat bantu dalam menyusun perangkat pembelajaran.
Program tersebut diketuai dosen Universitas Jember (Unej) Dr. Aris Singgih Budiarso, M.Pd. Pelaksanaannya didukung pendanaan skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun anggaran 2026. PKG Kecamatan Singojuruh menjadi mitra kegiatan.
Bukan Sekadar Memasukkan AI
Kebutuhan pelatihan berangkat dari persoalan yang dihadapi guru dalam menghubungkan potensi lokal dengan pembelajaran.
Pertanian beras organik, misalnya, sebenarnya dekat dengan kehidupan masyarakat dan siswa di Singojuruh. Namun, potensi tersebut belum selalu diterjemahkan menjadi bahan pembelajaran melalui pertanyaan yang tersusun bertahap.
Di sisi lain, penggunaan AI untuk merancang kegiatan belajar juga belum sepenuhnya dikuasai guru. Tantangannya bukan hanya bagaimana memberikan perintah atau prompt kepada AI, tetapi bagaimana memastikan hasilnya sesuai dengan kemampuan siswa, tujuan pembelajaran, kurikulum, dan kondisi sekolah.
Karena itu, pelatihan tidak menempatkan AI sebagai pengganti guru.
Sebaliknya, AI diposisikan sebagai alat bantu untuk mempercepat proses perancangan. Guru tetap menjadi pihak yang menentukan apakah materi, pertanyaan, dan aktivitas yang dihasilkan benar-benar layak digunakan di kelas.
Ketua PKG Kecamatan Singojuruh Eko Sulistyono, S.Pd. menyebut workshop tersebut sebagai salah satu alternatif untuk membantu guru menghadapi perubahan, terutama perkembangan teknologi.
“Workshop ini sebagai alternatif solusi guru dalam menghadapi perubahan khususnya terkait teknologi,” ujarnya.
Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah Kecamatan Singojuruh Khoirul Anwar, S.Pd. juga menekankan pentingnya kemampuan guru menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan belajar siswa.
Sementara itu, Korwilkersatdik Kecamatan Singojuruh Supriyadi, M.Pd. menyoroti penguasaan TPACK sebagai fondasi bagi guru untuk terus berinovasi di era abad ke-21.
Pertanyaan Disusun Bertahap
Salah satu inti pelatihan adalah mengenalkan question prompt scaffolding.
Konsep tersebut menempatkan pertanyaan sebagai tangga yang membantu siswa memahami persoalan secara bertahap. Siswa tidak langsung diarahkan menuju jawaban akhir, melainkan dibimbing dari pemahaman awal menuju proses berpikir yang lebih mandiri.
Dr. Aris Singgih Budiarso, M.Pd. mengawali materi dengan membahas growth mindset bagi guru. Cara pandang tersebut penting agar guru tidak berhenti pada perangkat pembelajaran yang sudah ada, tetapi terus terbuka untuk mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki metode belajar.
Konsep itu kemudian dihubungkan dengan question prompt scaffolding.
Dalam praktiknya, guru dapat menyusun pertanyaan dari tingkat yang lebih sederhana menuju pertanyaan yang membutuhkan penalaran lebih kompleks. Pola tersebut memungkinkan worksheet tidak hanya menjadi lembar tugas, tetapi menjadi alat bantu untuk membangun proses berpikir siswa.
TPACK Menjadi Penyaring Penggunaan AI
Materi berikutnya disampaikan Naomi Dias Laksita Dewi, M.Pd., dosen Universitas Jember.
Ia membahas TPACK sebagai kerangka untuk menggabungkan tiga unsur penting dalam pembelajaran: teknologi, pedagogi, dan materi atau isi pelajaran.
Kerangka tersebut menjadi penting ketika guru mulai menggunakan AI.
Sebab, penggunaan teknologi dalam pembelajaran tidak otomatis membuat kegiatan belajar menjadi lebih baik. Guru perlu mempertimbangkan apakah teknologi yang digunakan memang mendukung tujuan pembelajaran dan strategi pedagogis yang dipilih.
Dengan pendekatan tersebut, AI tidak sekadar dipakai untuk menghasilkan soal atau lembar kerja dalam waktu singkat.
Guru tetap perlu memeriksa hasilnya, menyaring informasi, memperbaiki bahasa, menyesuaikan tingkat kesulitan, serta memastikan materi sesuai dengan kurikulum dan karakteristik siswa.
Beras Organik Jadi Sumber Belajar
Potensi lokal kemudian masuk dalam materi yang disampaikan Halil, S.Pd., M.ST., dosen Poliwangi.
Pertanian dapat menjadi sumber belajar yang dekat dengan kehidupan siswa. Salah satunya adalah beras organik yang dapat digunakan sebagai konteks pembelajaran.
Topik tersebut bisa dikembangkan menjadi bahan bacaan, objek pengamatan, maupun sumber pertanyaan dalam worksheet.
Misalnya, guru dapat mengajak siswa mengamati proses pertanian, mengenali perbedaan sistem pertanian, menghitung kebutuhan produksi, atau mendiskusikan lingkungan berdasarkan konteks yang mereka temui sehari-hari.
Dengan cara itu, materi yang dipelajari di ruang kelas tidak terasa terpisah dari kehidupan siswa.
Potensi lokal menjadi pintu masuk untuk memahami konsep pembelajaran tanpa menghilangkan tujuan akademik yang harus dicapai.
Guru Mulai Merasakan Manfaat AI
Dari sisi praktik, Guru Penggerak Eko Subiantoro, S.Pd., Gr. membagikan pengalaman menyusun question prompt scaffolding worksheet berbantuan AI.
Penggunaan AI diarahkan untuk membantu membuat rancangan awal, mengembangkan urutan pertanyaan, serta memperbaiki struktur worksheet.
Namun, satu prinsip tetap ditekankan: hasil AI bukan produk akhir.
Guru harus melakukan seleksi dan penyuntingan sebelum worksheet digunakan. Penyesuaian dengan kurikulum, kemampuan siswa, dan konteks sekolah menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari proses tersebut.
Ade Irma Suryani dari SDN 2 Padang mengaku sebelumnya sudah membuat worksheet atau LKPD. Namun, ia belum memahami secara mendalam konsep penyusunan lembar kerja berbasis scaffolding.
Pemanfaatan AI juga masih terbatas.
“Saya belajar memanfaatkan AI untuk membantu menyusun worksheet yang lebih menarik dan sistematis. Pelatihan ini juga menambah keterampilan saya membuat prompt yang sesuai dengan kebutuhan,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Frizha Martyan Susanto, S.Pd., dari SD Negeri 2 Cantuk.
Sebelum mengikuti pelatihan, ia menyusun lembar kerja secara konvensional dan belum menggunakan AI. Proses tersebut membutuhkan waktu cukup lama. Selain itu, materi yang disusun terkadang belum memiliki tahapan yang jelas.
Setelah mengikuti workshop, ia mulai memahami prinsip menyusun materi dari mudah menuju sulit, memberikan bimbingan secara bertahap, serta menyesuaikan hasil AI dengan kurikulum dan kemampuan siswa.
Ia berharap keterampilan tersebut tidak berhenti pada dirinya, tetapi dapat dibagikan kepada guru lain di sekolah. Ia juga berharap terdapat kegiatan lanjutan untuk memperdalam kemampuan yang telah diperoleh.
Dari Sawah ke Worksheet
Pelatihan di Singojuruh pada akhirnya tidak semata-mata berbicara tentang kecanggihan AI.
Ada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana teknologi membantu guru membuat pembelajaran yang lebih dekat, terarah, dan bermakna bagi siswa.
Beras organik menjadi salah satu contoh bagaimana lingkungan sekitar dapat diubah menjadi sumber belajar. Sementara AI menjadi alat untuk membantu guru merancang pertanyaan dan aktivitas secara lebih cepat.
Di antara keduanya, guru tetap memegang peran utama.
Capaian awal kegiatan menunjukkan bertambahnya pengetahuan guru mengenai TPACK, integrasi potensi lokal, growth mindset, serta keterampilan menyusun scaffolding worksheet berbantuan AI.
Dengan demikian, tujuan pelatihan bukan sekadar membuat guru mampu menggunakan AI, melainkan membuat mereka lebih mampu menentukan kapan, bagaimana, dan untuk apa AI digunakan dalam pembelajaran. Dari potensi sawah di Singojuruh, guru mencoba membawanya masuk ke ruang kelas melalui pertanyaan yang menuntun siswa berpikir. (*)
Editor : Ali Sodiqin