Bukan Waktunya yang Berubah, Ini Alasan Menunggu Terasa Lebih Lama daripada Bersenang-senang

Desila Aini Hidayah • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:49 WIB
Asyik berbincang dan menikmati kegiatan membuat waktu sering terasa berlalu lebih cepat, meski durasinya tetap sama. (ChatGPT)
Asyik berbincang dan menikmati kegiatan membuat waktu sering terasa berlalu lebih cepat, meski durasinya tetap sama. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pernah merasa waktu berlalu begitu cepat ketika sedang menikmati kebersamaan dengan teman, menonton film, bermain, berjalan-jalan, atau menjalani hobi?

Baru merasa sebentar melakukan aktivitas, tetapi ketika melihat jam, ternyata waktu sudah berjalan berjam-jam.

Hal yang berlawanan kerap muncul ketika seseorang sedang menunggu.

Menanti teman datang, makanan dihidangkan, jemputan tiba, atau waktu pulang bisa membuat beberapa menit terasa begitu panjang.

Padahal, tidak ada perubahan pada waktu yang sebenarnya.

“Satu jam tetap terdiri dari enam puluh menit."

Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa waktu secara objektif tetap berjalan dengan durasi yang sama.

Yang berubah justru pengalaman manusia ketika menjalani rentang waktu tersebut.

Ketika melakukan kegiatan yang menyenangkan, perhatian biasanya lebih banyak tertuju pada aktivitas yang sedang berlangsung.

Seseorang sibuk berbicara, tertawa, bermain, menikmati tontonan, atau mengerjakan sesuatu yang disukai. Perhatian terhadap jam pun berkurang.

Dalam situasi seperti itu, waktu sering kali baru disadari setelah kegiatan hampir selesai.

Saat berkumpul bersama teman, misalnya, seseorang mungkin semula berencana hanya duduk sebentar.

Namun, percakapan yang menarik dan suasana yang menyenangkan membuat pertemuan terasa singkat.

Tanpa terasa, sore berubah menjadi malam.

Pengalaman serupa dapat terjadi ketika menonton film atau bermain gim.

Cerita yang menarik atau permainan yang membuat penasaran mampu membuat seseorang tenggelam dalam aktivitas.

Karena perhatian tidak terus-menerus diarahkan pada perjalanan waktu, durasi yang panjang bisa terasa lebih pendek.

Sebaliknya, situasi menunggu membuat perhatian seseorang lebih mudah beralih ke waktu.

Ketika tidak ada kegiatan yang cukup menarik, orang cenderung mengecek jam berulang kali.

Pertanyaan seperti “sudah berapa menit?” atau “kapan datang?” muncul berkali-kali.

Kebiasaan melihat jam setiap beberapa menit justru dapat membuat waktu terasa semakin lambat.

Lima menit yang secara objektif tetap lima menit bisa terasa jauh lebih panjang ketika seseorang sedang bosan, tidak sabar, atau sangat menantikan sesuatu.

Menunggu jemputan merupakan salah satu contoh yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Jika seseorang hanya duduk sambil memperhatikan jam, perjalanan waktu dapat terasa melelahkan.

Namun, ketika waktu tunggu diisi dengan mendengarkan musik, membaca, berbincang, atau melakukan aktivitas sederhana lainnya, perhatian tidak lagi sepenuhnya tertuju pada lamanya menunggu.

Suasana hati juga ikut berperan.

Ketika sedang senang, orang cenderung lebih menikmati apa yang ada di hadapannya sehingga waktu tidak menjadi perhatian utama.

Sebaliknya, rasa bosan dan tidak sabar dapat membuat seseorang lebih peka terhadap setiap menit yang berlalu.

Karena itu, pengalaman terhadap waktu tidak selalu sama dengan ukuran waktu yang sebenarnya.

Beberapa jam dapat terasa sebentar ketika seseorang sedang menikmati aktivitas.

Pada kondisi lain, beberapa menit dapat terasa panjang karena perhatian terus diarahkan pada kapan sesuatu akan berakhir.

Bagi siapa saja yang sedang menghadapi waktu tunggu, mengalihkan perhatian dapat menjadi cara sederhana agar durasi terasa lebih ringan.

Musik, bacaan, percakapan, atau aktivitas lain yang menyenangkan dapat membantu mengurangi fokus pada jam.

Editor : Lugas Rumpakaadi
waktu terasa cepat waktu terasa lambat persepsi waktu aktivitas menyenangkan suasana hati