RADAR BANYUWANGI - Banyak orang mengenal kucing sebagai hewan dengan tubuh lentur, kaki proporsional, dan wajah yang relatif mudah dibaca. Namun, gambaran itu langsung berubah ketika melihat Pallas’s cat atau manul (Otocolobus manul).
Kucing liar berukuran kurang lebih seperti kucing domestik tersebut memiliki tubuh pendek, gempal, kaki relatif pendek, serta kepala yang lebar. Penampilannya semakin unik karena seluruh tubuhnya diselimuti bulu panjang dan sangat rapat.
Bulu tersebut bukan sekadar membuat manul terlihat “fluffy”. Lapisan bulunya merupakan salah satu bentuk adaptasi untuk menghadapi kondisi dingin di habitat alaminya. IUCN Cat Specialist Group menyebut bahwa bulu pada bagian bawah tubuhnya bahkan hampir dua kali lebih panjang dibandingkan dengan bagian atas dan samping tubuh.
Karena bulunya sangat tebal, manul tampak jauh lebih besar dan tambun daripada ukuran tubuh sebenarnya. Bentuk demikian menjadi salah satu alasan satwa ini begitu mudah dikenali.
Ciri lain yang membuat manul berbeda ialah posisi telinganya. Telinganya berbentuk bulat dan berada cukup rendah di sisi kepala. Struktur tersebut, ditambah kepala yang lebar dan mata besar, membuat wajahnya tampak datar ketika dilihat dari depan.
Belum lagi pola bulu di bagian pipi dan dahi. Kombinasi semua karakter tersebut membuat ekspresi manul terlihat seperti sedang tidak senang, kebingungan, atau mencurigai sesuatu.
Padahal, tentu saja, ekspresi tersebut tidak berarti Manul sedang marah kepada manusia.
Smithsonian’s National Zoo bahkan menggambarkan kondisi itu dengan kalimat, “Akar wasn’t actually grumpy. That’s just how her face looks!”
Dalam bahasa sederhana, Akar sebenarnya tidak sedang galak. Memang begitu bentuk wajahnya.
Ada detail lain yang menarik perhatian. Pupil mata manul berbentuk bulat. Karakter ini berbeda dari banyak kucing domestik yang umumnya mempunyai pupil berbentuk celah vertikal ketika berhadapan dengan cahaya.
Mata yang bulat, telinga yang rendah, serta bentuk kepala yang melebar membuat sorot manul terlihat sangat khas. Tidak mengherankan apabila wajahnya kemudian sering digunakan dalam meme untuk menggambarkan seseorang yang sedang kesal, malas berkomentar, atau bingung melihat suatu keadaan.
Namun, popularitas di internet bukan gambaran keseluruhan tentang satwa ini. Di balik wajah yang terlihat lucu, manul merupakan predator liar yang hidup dalam lingkungan yang keras.
Wilayah jelajah Manul membentang luas di Asia Tengah. Satwa ini ditemukan di kawasan seperti Mongolia, Tiongkok, Tibet, Kazakhstan, Rusia, hingga sejumlah wilayah pegunungan dan stepa lainnya. Habitatnya umumnya berupa padang rumput pegunungan, stepa berbatu, semak belukar kering, serta kawasan dengan kondisi iklim yang ekstrem.
Manul juga dikenal sebagai kucing yang soliter. Ia cenderung menghabiskan banyak waktu sendirian dan memanfaatkan celah batu, liang, atau tempat berlindung lainnya untuk beristirahat maupun menghindari cuaca.
Hewan kecil seperti pika dan berbagai jenis pengerat menjadi bagian penting dari makanannya. Karena itu, keberadaan populasi mangsa ikut menentukan kondisi populasi Manul di alam. Berkurangnya mangsa akibat perubahan habitat maupun pengendalian pengerat dapat menjadi masalah tersendiri bagi satwa tersebut.
Penampilan yang menggemaskan sering membuat orang membayangkan manul sebagai kandidat hewan peliharaan. Kenyataannya jauh berbeda.
Manul tetap merupakan kucing liar dengan kebutuhan ekologis dan biologis yang spesifik. Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya kerentanan terhadap penyakit tertentu dalam kondisi penangkaran, termasuk infeksi Toxoplasma gondii. Kerentanan tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan manul di lingkungan buatan.
Karena itu, menjadikan manul sebagai “kucing rumahan” bukan perkara memberi makanan dan menyediakan kandang. Satwa ini berevolusi dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan rumah manusia.
Status konservasi manul juga perlu dilihat secara hati-hati. IUCN Red List yang diterbitkan pada 2020 menempatkan spesies ini dalam kategori Least Concern, terutama karena wilayah sebarannya luas. Namun, populasi manul tidak merata dan banyak berada dalam kondisi terfragmentasi. Sejumlah negara atau wilayah bahkan memberikan status konservasi yang lebih mengkhawatirkan.
Ancaman yang dihadapi antara lain kerusakan dan fragmentasi habitat, berkurangnya mangsa, aktivitas manusia, serta penggunaan racun untuk mengendalikan populasi pengerat.
Artinya, popularitas manul di media sosial justru bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan satwa liar tersebut kepada publik. Di balik meme tentang “kucing paling judes”, ada spesies yang hidup dengan strategi adaptasi sangat khusus dan membutuhkan habitat yang tetap terjaga.
Manul menunjukkan bahwa alam tidak selalu menghasilkan kucing dengan penampilan ramping dan anggun. Tubuh pendek, kaki mungil, bulu ekstra tebal, telinga rendah, serta wajah yang seolah tak pernah puas justru menjadi kombinasi yang membuatnya begitu ikonik.
Wajah judes manul mungkin memang lucu di layar ponsel. Namun, di habitat aslinya, ekspresi itu adalah bagian dari penampilan alami seekor predator kecil yang harus bertahan hidup di salah satu lingkungan paling keras di Asia.
Editor : Lugas Rumpakaadi