Semangat Kemerdekaan Tak Cukup Berhenti di Upacara, Perpenas Banyuwangi Dorong Generasi Adaptif

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 15:41 WIB
Ketua Perpenas Banyuwangi Yunita Illiana saat memimpin upacara HUT ke 81 Peringatan Kemerdekaan RI, Senin (17/8). (istimewa)
Ketua Perpenas Banyuwangi Yunita Illiana saat memimpin upacara HUT ke-81 Peringatan Kemerdekaan RI, Senin (17/8). (istimewa)

RADAR BANYUWANGI - Semangat kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni upacara setiap 17 Agustus. Bagi keluarga besar dunia pendidikan, peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia harus menjadi momentum untuk terus belajar, berkarya, sekaligus menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Perpenas Banyuwangi, Yunita Iliana, saat menjadi pembina upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di lingkungan Perpenas Banyuwangi, Senin (17/8). Upacara diikuti keluarga besar Perpenas dari berbagai jenjang pendidikan, mulai KB-TK Askara, TK Siwi Peni 1 Banyuwangi, TK Siwi Peni 2 Banyuwangi, SMK Sritanjung, hingga Untag Banyuwangi.

Yunita menegaskan, upacara kemerdekaan bukan sekadar agenda tahunan. Kegiatan tersebut merupakan wujud penghormatan kepada para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan dengan pengorbanan besar.

Makna itu, menurut Yunita, terasa semakin kuat bagi keluarga besar Perpenas. Sebab, nama lembaga tersebut menggunakan momentum bersejarah bangsa, yakni 17 Agustus 1945.

“Nama lembaga kita adalah 17 Agustus 1945. Ini bukan nama sembarangan. Tanggal ini sangat sakral dalam sejarah bangsa kita. Jadi, 17 Agustus bukan hanya tanggal merah di kalender, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kita,” ujar Yunita.

Karena itu, dia mengajak seluruh keluarga besar Perpenas menjadi teladan dalam menjaga semangat cinta tanah air. Nilai tersebut harus diwujudkan sesuai peran masing-masing, baik sebagai siswa, mahasiswa, guru, dosen maupun tenaga kependidikan.

Bukan sekadar menghafal sejarah, semangat nasionalisme juga perlu diterjemahkan melalui tindakan nyata di lingkungan pendidikan. Salah satunya adalah membangun budaya belajar, meningkatkan kompetensi, serta berani menghadapi tantangan baru.

Yunita juga menyoroti perubahan besar dalam dunia pendidikan seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut dia, kemudahan teknologi telah mengubah tantangan yang dihadapi guru dan dosen.

“Dulu kalau tidak tahu jawaban ujian, kita bertanya kepada teman. Sekarang anak-anak bisa bertanya kepada aplikasi AI dan jawabannya muncul dalam hitungan detik. Tugas pendidik bukan lagi sekadar memberikan jawaban, tetapi mengajarkan cara berpikir, memilah mana yang benar, dan tetap memiliki karakter di tengah kemudahan teknologi,” tegasnya.

Perubahan tersebut menuntut lembaga pendidikan untuk tidak berhenti pada pola pembelajaran yang bersifat konvensional. Guru dan dosen perlu terus menyesuaikan diri agar peserta didik memiliki bekal yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Menurut Yunita, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu kunci agar generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna teknologi. Mereka juga perlu memiliki daya kritis, keterampilan, serta karakter yang kuat untuk memanfaatkan perkembangan teknologi secara bertanggung jawab.

“Sebagai keluarga besar pendidikan, cara terbaik mengisi kemerdekaan adalah terus belajar dan berkarya sebaik-baiknya. Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari rasa malas belajar, minder untuk bermimpi besar, dan sikap menyerah sebelum mencoba,” pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
pendidikan Banyuwangi Perpenas Banyuwangi HUT ke-81 Kemerdekaan RI semangat kemerdekaan kecerdasan buatan