RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena Autonomous Sensory Meridian Response (ASMR) semakin mendapat perhatian kalangan ilmuwan setelah berbagai penelitian menunjukkan adanya kaitan antara rangsangan suara tertentu dengan respons relaksasi pada sistem saraf manusia. Selama ini ASMR dikenal luas sebagai konten hiburan di berbagai platform digital, namun temuan ilmiah mengindikasikan bahwa efek yang ditimbulkan memiliki dasar fisiologis.
ASMR merujuk pada sensasi menggelitik yang biasanya bermula dari kulit kepala, kemudian menjalar ke leher hingga punggung. Sensasi tersebut dipicu oleh rangsangan atau trigger tertentu, seperti suara bisikan lembut, ketukan perlahan pada permukaan kayu, hingga gerakan jemari yang halus. Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut menghadirkan rasa nyaman sekaligus ketenangan yang mendalam.
Penelitian yang dilakukan University of Sheffield menemukan bahwa individu yang mengalami respons ASMR menunjukkan penurunan denyut jantung secara signifikan. Respons fisiologis tersebut dinilai menyerupai efek yang dihasilkan melalui meditasi maupun teknik relaksasi yang digunakan dalam dunia medis.
Temuan lain dari Northumbria University melalui ulasan pemindaian otak menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pada area otak yang berkaitan dengan emosi, empati, dan perilaku sosial ketika seseorang mendengarkan rangsangan ASMR. Aktivitas tersebut diduga mendorong pelepasan sejumlah zat kimia alami di otak, seperti oksitosin, dopamin, dan endorfin.
Ketiga senyawa tersebut memiliki peran penting dalam menciptakan rasa nyaman sekaligus membantu menekan produksi hormon stres kortisol. Kondisi inilah yang diduga menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang merasa lebih rileks setelah menikmati konten ASMR.
Sejumlah penelitian juga melaporkan manfaat ASMR dalam membantu meredakan kecemasan serta meningkatkan kualitas tidur. Karena itu, tidak sedikit orang yang memanfaatkan audio ASMR sebagai bagian dari rutinitas sebelum beristirahat pada malam hari.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa efek ASMR tidak bersifat universal. Tidak semua orang mampu merasakan sensasi menggelitik maupun ketenangan yang sama ketika menerima rangsangan serupa.
Laporan riset perilaku yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE menjelaskan bahwa respons terhadap ASMR dipengaruhi oleh perbedaan neurologis serta karakter kepribadian masing-masing individu. Orang yang memiliki tingkat keterbukaan terhadap pengalaman atau openness to experience yang tinggi diketahui cenderung lebih mudah merasakan sensasi ASMR dibandingkan individu lainnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman ASMR merupakan hasil interaksi yang kompleks antara sistem indra, fungsi otak, dan karakter psikologis seseorang. Faktor-faktor tersebut membuat pengalaman setiap individu terhadap ASMR dapat berbeda, baik dari intensitas maupun manfaat yang dirasakan.
Editor : Lugas Rumpakaadi