RADAR BANYUWANGI - Komitmen menghadirkan pendidikan yang ramah bagi semua anak terus diperkuat Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi. Jumat (31/7), Kemenag Banyuwangi resmi meluncurkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai upaya memperluas akses pendidikan inklusif di lingkungan madrasah sekaligus memastikan peserta didik berkebutuhan khusus memperoleh layanan yang setara, aman, dan nyaman.
Peresmian Unit Layanan Disabilitas berlangsung di Kantor Kemenag Banyuwangi dan dihadiri Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar, Kepala Kemenag Banyuwangi Chaironi Hidayat, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Banyuwangi sekaligus Bunda Inklusi Siti Qudsiyah, serta para guru yang mendampingi siswa berkebutuhan khusus.
Kepala Kemenag Banyuwangi Chaironi Hidayat mengatakan, pembentukan ULD merupakan hasil kolaborasi antara Tim Unit Layanan Disabilitas Seksi Pendidikan Madrasah (Pendma) dengan para guru yang selama ini terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif.
Menurutnya, sinergi tersebut menjadi fondasi penting untuk memperkuat layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus di Banyuwangi.
"Unit Layanan Disabilitas ini lahir dari kerja sama yang kuat antara tim Pendma dan para guru di lapangan. Kolaborasi ini menjadi energi untuk terus menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif," ujarnya.
Chaironi menjelaskan, penyelenggaraan madrasah inklusi di Banyuwangi selama ini berjalan cukup baik. Karena itu, pihaknya berharap proses perizinan Madrasah Aliyah (MA) penyelenggara pendidikan inklusif yang masih berlangsung dapat segera diselesaikan agar layanan semakin optimal.
"Kami berharap izin MA inklusi yang masih berproses dapat segera terbit sehingga layanan pendidikan inklusif semakin optimal," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar memberikan apresiasi atas peluncuran Unit Layanan Disabilitas di Banyuwangi. Menurutnya, keberadaan ULD merupakan bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam menghadirkan layanan publik yang inklusif dan berpihak kepada seluruh lapisan masyarakat.
"Fasilitas yang diluncurkan ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama. Layanan yang memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat harus terus kita tingkatkan," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kualitas pelayanan publik tidak cukup hanya diukur dari keberadaan fasilitas, tetapi juga dari kepuasan masyarakat sebagai penerima manfaat.
Menurut Akhmad, evaluasi terhadap layanan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan masukan.
"Penilai layanan adalah masyarakat. Karena itu, penting untuk terus melakukan evaluasi dengan mendengarkan masukan pengguna layanan," pesannya.
Peluncuran Unit Layanan Disabilitas diharapkan menjadi tonggak penguatan pendidikan inklusif di Banyuwangi. Dengan adanya layanan khusus tersebut, madrasah di bawah naungan Kemenag diharapkan semakin siap memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus sekaligus mewujudkan akses pendidikan yang setara tanpa diskriminasi. (ray/sgt)
Meta Deskripsi (150 karakter)
Editor : Ali Sodiqin