RADARBANYUWANGI.ID - Sejarah berdirinya Kabupaten Banyuwangi tidak dapat dipisahkan dari perjuangan Pangeran Rempeg Jogopati. Sosok panglima perang Blambangan ini menjadi tokoh sentral dalam perlawanan rakyat menghadapi agresi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda pada Perang Bayu atau Puputan Bayu yang mencapai puncaknya pada 18 Desember 1771.
Peristiwa heroik tersebut kemudian dikenang sebagai tonggak sejarah lahirnya Banyuwangi. Hingga kini, tanggal 18 Desember diperingati setiap tahun sebagai Hari Jadi Banyuwangi berdasarkan penetapan resmi pemerintah daerah.
Berdasarkan catatan sejarah resmi Kabupaten Banyuwangi, Rempeg Jogopati atau yang akrab disapa Mas Rempeg memiliki garis keturunan bangsawan Blambangan. Ia merupakan putra Mas Bagus Puri yang masih memiliki hubungan darah dengan penguasa legendaris Blambangan, Prabu Tawang Alun II.
Namun, karena lahir dari seorang ibu selir, Mas Rempeg tidak dibesarkan di lingkungan istana. Ia tumbuh di pedesaan Pakis, Kecamatan Songgon. Kehidupan bersama masyarakat membuatnya memahami secara langsung penderitaan rakyat yang harus menghadapi kerja paksa serta monopoli pangan yang diterapkan VOC.
Kedekatan dengan masyarakat menjadi modal utama Mas Rempeg dalam membangun kekuatan perlawanan. Dari kawasan Hutan Bayu, ia berhasil menyatukan laskar rakyat dan membangun benteng pertahanan yang sulit ditembus pasukan kolonial.
Pengaruhnya bahkan membuat VOC menjulukinya sebagai Pseudo Wilis, atau titisan Wong Agung Wilis, tokoh pejuang Blambangan yang sebelumnya dikenal sebagai ancaman besar bagi kekuasaan Belanda.
Di bawah kepemimpinan Rempeg Jogopati, laskar rakyat menerapkan strategi perang gerilya dengan memanfaatkan kondisi alam berupa hutan lebat dan rawa-rawa. Selain itu, mereka juga membangun sistem logistik mandiri agar mampu bertahan dalam situasi pengepungan berkepanjangan.
Perlawanan mencapai puncaknya pada pertengahan Desember 1771 ketika Rempeg Jogopati berhadapan langsung dengan komandan laskar sekutu VOC dalam sebuah duel. Meski berhasil memenangkan pertarungan tersebut, ia mengalami luka yang sangat berat.
Sebelum mengembuskan napas terakhir pada 19 Desember 1771 di dalam benteng pertahanan, Rempeg Jogopati terlebih dahulu menyerahkan mandat kepada para pengikutnya untuk melanjutkan perjuangan melawan penjajah.
Gugurnya sang panglima tidak menghentikan semangat perlawanan rakyat Blambangan. Nilai kepahlawanan, keberanian, dan pengorbanan yang diwariskannya terus menjadi bagian penting dalam sejarah Banyuwangi.
Pengakuan atas jasa Rempeg Jogopati diwujudkan melalui sidang aklamasi DPRD Kabupaten Banyuwangi pada 9 Mei 1995. Dalam keputusan tersebut, tanggal 18 Desember 1771, yang menandai pecahnya pertempuran besar Perang Bayu, ditetapkan sebagai Hari Jadi Banyuwangi.
Warisan sejarah Rempeg Jogopati juga masih dapat dijumpai hingga sekarang. Makamnya yang berada di Dusun Tosari, Desa Macanputih, Kecamatan Kabat telah dipugar dan dirawat oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagai situs cagar budaya sekaligus destinasi wisata sejarah.
Keberadaan situs tersebut menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal perjalanan panjang perjuangan rakyat Blambangan dalam mempertahankan tanah kelahirannya. Melalui keteladanan Pangeran Rempeg Jogopati, semangat patriotisme dan kecintaan terhadap daerah diharapkan terus terpelihara dari generasi ke generasi.
Editor : Lugas Rumpakaadi