Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kenapa Hari Tasyrik Dilarang Puasa? Ini Asal Usul dan Hadis Nabi Muhammad SAW

Ali Sodiqin • Selasa, 26 Mei 2026 | 20:00 WIB
Hari Tasyrik 2026 lengkap dengan asal-usul, larangan puasa, bacaan takbir Arab, hadis, dan amalan sunnah setelah Idul Adha. (Radar Solo)
Hari Tasyrik 2026 lengkap dengan asal-usul, larangan puasa, bacaan takbir Arab, hadis, dan amalan sunnah setelah Idul Adha. (Radar Solo)

RADARBANYUWANGI.ID – Banyak umat Islam mengenal Hari Tasyrik hanya sebatas tiga hari setelah Idul Adha. Namun di balik itu, Hari Tasyrik ternyata menyimpan makna mendalam dalam sejarah Islam, mulai dari tradisi penyimpanan daging kurban hingga larangan puasa yang masih sering dilupakan masyarakat.

Hari Tasyrik berlangsung pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Ketiga hari tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah Idul Adha karena umat Islam masih diperbolehkan menyembelih hewan kurban pada waktu itu.

Tak hanya identik dengan penyembelihan kurban, Hari Tasyrik juga dikenal sebagai hari makan, minum, zikir, dan memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT.

Karena itu, para ulama menyebut Hari Tasyrik sebagai momen penuh keberkahan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam.

Apa Itu Hari Tasyrik?

Secara bahasa, kata tasyrik berasal dari bahasa Arab “tasyriq” yang merupakan bentuk masdar dari kata “syarraqa”.

Maknanya berkaitan dengan matahari terbit atau aktivitas menjemur sesuatu di bawah sinar matahari.

Karena itu, Hari Tasyrik erat dikaitkan dengan tradisi masyarakat Arab pada masa lampau yang menjemur daging kurban agar lebih tahan lama.

Tradisi tersebut dilakukan jauh sebelum adanya teknologi pendingin seperti kulkas.

Asal Usul Penamaan Hari Tasyrik

Ulama besar Ibnu Manzur dalam kitab Lisan al-Arab menjelaskan adanya dua pendapat terkait asal-usul nama Tasyrik.

1. Hari Menjemur Daging Kurban

Pendapat pertama menyebut Hari Tasyrik dinamai demikian karena masyarakat Arab dahulu menjemur daging kurban untuk dijadikan dendeng.

Saat Idul Adha, jumlah daging kurban sangat melimpah sehingga perlu diawetkan agar dapat dikonsumsi dalam waktu panjang.

Karena proses penjemuran dilakukan di bawah sinar matahari, maka muncul istilah “Tasyrik”.

2. Penyembelihan Setelah Matahari Terbit

Pendapat kedua menyebut penamaan Tasyrik berkaitan dengan waktu penyembelihan hewan kurban yang dilakukan setelah matahari terbit.

Makna ini juga masih berkaitan dengan kata syarraqa yang identik dengan cahaya matahari.

Mengapa Dilarang Puasa di Hari Tasyrik?

Salah satu hukum penting dalam Hari Tasyrik adalah larangan berpuasa.

Para ulama menjelaskan bahwa Hari Tasyrik merupakan hari makan dan minum sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah SWT.

Karena itu, umat Islam dianjurkan menikmati hidangan, terutama olahan daging kurban.

Larangan puasa tersebut didasarkan pada hadis riwayat Imam Bukhari berikut:

Teks Arab

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ

Artinya

“Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, keduanya berkata: ‘Tidak diperkenankan berpuasa pada hari Tasyrik kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hewan kurban ketika berhaji.’” (HR Bukhari No. 1859)

Hari Tasyrik Disebut Hari Makan dan Minum

Selain larangan puasa, Rasulullah SAW juga secara khusus menyebut Hari Tasyrik sebagai hari makan dan minum.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i:

Teks Arab

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Artinya

“Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah SAW bersabda: ‘Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Tasyrik adalah hari raya bagi umat Islam dan merupakan hari-hari makan serta minum.’” (HR An-Nasa’i No. 2954)

Amalan Sunnah di Hari Tasyrik

Selain menyembelih hewan kurban, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah selama Hari Tasyrik.

Di antaranya:

Anjuran berkurban sendiri termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 2.

Teks Arab

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Latin

Fa shalli lirabbika wanhar

Artinya

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Takbir Masih Dianjurkan Selama Hari Tasyrik

Banyak umat Islam mengira takbir hanya dikumandangkan pada malam Idul Adha.

Padahal, gema takbir masih sangat dianjurkan selama Hari Tasyrik berlangsung.

Takbir tersebut dikenal sebagai takbir muqayyad yang dibaca setelah salat fardu mulai Subuh 9 Dzulhijjah hingga Ashar 13 Dzulhijjah.

Bacaan Takbir Hari Tasyrik

Teks Arab

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Latin

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamd.

Artinya

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”

Momentum Memperkuat Syukur dan Kepedulian

Hari Tasyrik bukan sekadar tradisi tahunan setelah Idul Adha.

Momentum ini menjadi pengingat penting tentang rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

Melalui pembagian daging kurban, umat Islam diajak berbagi kebahagiaan dengan masyarakat yang membutuhkan.

Karena itu, Hari Tasyrik menjadi salah satu syiar Islam yang sarat nilai spiritual sekaligus sosial. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Idul Adha 2026 #Larangan puasa Hari Tasyrik #Bacaan takbir Hari Tasyrik #Hadis Hari Tasyrik #hari tasyrik