Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bedah Buku Man Nahnu 6 Gairahkan Literasi Guru Banyuwangi, 200 Pendidik Diajak Lawan “Alzheimer Sosial”

Fredy Rizki Manunggal • Kamis, 21 Mei 2026 | 04:30 WIB
PENULIS BUKU: Samsudin Adlawi menjelaskan secara detail isi buku Man Nahnu 6 yang diterbitkan setiap hari Rabu di Radar Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
PENULIS BUKU: Samsudin Adlawi menjelaskan secara detail isi buku Man Nahnu 6 yang diterbitkan setiap hari Rabu di Radar Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Karya Samsudin Adlawi Jadi Arsip Psikologis Banyuwangi, Guru dan Kepala Sekolah Menambah Wawasan Keilmuan Lewat Bedah Buku

RADARBANYUWANGI.ID – Upaya memperkuat budaya literasi di kalangan pendidik terus digencarkan di Banyuwangi. Sebanyak 200 guru dan kepala SMP negeri mengikuti bedah buku Man Nahnu 6 karya Samsudin Adlawi bertajuk Dari Banyuwangi Menyala Harapan Ibu Pertiwi di Aula Dinas Pendidikan Banyuwangi, Rabu (20/5).

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi forum diskusi buku, tetapi juga ruang refleksi intelektual yang mendorong para guru lebih dekat dengan tradisi membaca, berpikir kritis, hingga berani menulis karya sendiri.

Bedah buku menghadirkan dua narasumber utama, yakni Rektor Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba) Banyuwangi Profesor Agus Trihartono dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Banyuwangi Dr Alfian MPd. Acara dibuka oleh Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Banyuwangi Muisman.

Dalam forum tersebut, buku Man Nahnu 6 dinilai bukan sekadar kumpulan tulisan jurnalistik, melainkan rekaman sosial budaya Banyuwangi yang merekam perubahan zaman melalui sudut pandang reflektif seorang jurnalis.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Banyuwangi Alfian mengatakan, karya Samsudin Adlawi berhasil memotret Banyuwangi dalam fragmen-fragmen waktu yang penuh makna.

SALAM LITERASI: Guru dan kepala SMPN berfoto bersama dengan Profesor Agus Trihantono, Dr Alfian, dan penulis buku Man Nahnu 6 Samsudin Adlawi usai bedah buku di aula Dispendik Banyuwangi, Rabu (20/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
SALAM LITERASI: Guru dan kepala SMPN berfoto bersama dengan Profesor Agus Trihantono, Dr Alfian, dan penulis buku Man Nahnu 6 Samsudin Adlawi usai bedah buku di aula Dispendik Banyuwangi, Rabu (20/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Menurutnya, Banyuwangi saat ini merupakan ruang hidup yang terus bergerak dan berubah sehingga membutuhkan dokumentasi yang mampu menangkap denyut sosial masyarakat dari waktu ke waktu.

“Banyuwangi saat ini merupakan ruang hidup yang terus bergerak dan berubah, sehingga membutuhkan dokumentasi yang mampu menangkap denyut sosial masyarakat dari waktu ke waktu,” kata Alfian.

Ia mengapresiasi konsistensi Samsudin yang sejak 2015 terus menuangkan gagasan dan refleksi sosial dalam bentuk tulisan. Catatan-catatan tersebut kemudian dihimpun menjadi seri buku Man Nahnu jilid 1 hingga 6.

Menurut Alfian, karya tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga menjadi rekaman reflektif atas perkembangan sosial, budaya, pendidikan, hingga dinamika masyarakat Banyuwangi selama beberapa tahun terakhir.

“Man Nahnu lahir dari kebiasaan membuat catatan harian dan refleksi atas berbagai peristiwa aktual yang terjadi di sekitar masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Cordoba Banyuwangi Prof Agus Trihartono menegaskan bahwa menulis merupakan “batu peradaban” yang akan terus hidup melampaui zaman.

Guru Besar bidang Diplomasi pada Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember itu menyoroti paradoks era digital yang dipenuhi konten viral tetapi cepat dilupakan.

Menurutnya, sesuatu yang viral belum tentu memiliki nilai jangka panjang, berbeda dengan karya-karya tokoh besar dunia yang tetap hidup melalui tulisan mereka.

“Hal-hal yang viral hari ini belum tentu bernilai. Sesuatu yang bernilai justru tumbuh perlahan,” ujarnya.

Agus menjelaskan, tulisan bukan sekadar alat komunikasi, melainkan teknologi peradaban yang menjaga pengetahuan manusia tetap hidup lintas generasi.

Ia mencontohkan bagaimana hukum, ilmu pengetahuan, hingga warisan agama dapat bertahan karena dituliskan dan didokumentasikan dengan baik.

Menurut dia, tradisi lisan memang penting, tetapi sangat rentan berubah dan hilang seiring waktu. Karena itu, budaya menulis menjadi cara paling kuat menjaga ingatan kolektif sebuah masyarakat.

Dalam pandangannya, buku Man Nahnu memiliki nilai penting sebagai arsip psikologis Banyuwangi yang merekam denyut sosial budaya masyarakatnya.

“Tanpa narasi, sebuah daerah hanya menjadi titik koordinat. Dengan narasi, ia menjadi ruang yang memiliki makna hidup,” tegasnya.

Agus bahkan menyebut karya tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap “alzheimer sosial”, yaitu kondisi ketika masyarakat perlahan mulai melupakan identitas dan sejarahnya sendiri.

Sementara itu, penulis Man Nahnu 6, Samsudin Adlawi mengatakan, Banyuwangi saat ini berkembang sangat cepat di berbagai sektor sehingga seluruh dinamika tersebut perlu direkam dan dibaca secara kritis oleh masyarakat.

Di hadapan ratusan guru SMP negeri, Direktur Radar Banyuwangi itu berharap bukunya dapat menjadi ruang refleksi bersama untuk memahami perjalanan Banyuwangi dari masa ke masa.

“Buku ini layak dibedah di berbagai tempat, terutama di lingkungan Pemkab Banyuwangi, karena isinya berbicara tentang perkembangan daerah yang perlu dipahami bersama,” ujarnya.

Sebagai seorang jurnalis, Samsudin mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga tradisi jurnalistik melalui karya tulis yang terdokumentasi dengan baik.

Ia memastikan seluruh isi buku disusun berdasarkan kaidah dan standar jurnalistik yang selama ini menjadi pijakan profesinya.

Menurut Samsudin, seri Man Nahnu bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi dokumentasi perjalanan Banyuwangi sejak 2015 hingga sekarang.

“Siapa pun yang ingin memahami dinamika perkembangan Banyuwangi selama periode tersebut dapat menelusurinya melalui seri Man Nahnu jilid 1 hingga 6,” katanya.

Dalam pemaparannya, Samsudin juga menyinggung pentingnya tradisi dokumentasi dalam sejarah peradaban manusia. Ia mencontohkan proses standarisasi Al-Qur’an pada masa Khalifah Utsman bin Affan hingga kodifikasi hadis oleh Ibnu Syihab az-Zuhri dan Abdullah bin Amr bin Ash sebagai bukti pentingnya budaya menulis.

Mantan Komisioner Baznas Banyuwangi itu berharap budaya menulis mulai dibiasakan kepada para siswa sejak dini, minimal dengan menuliskan pengalaman dan peristiwa sehari-hari yang mereka lihat.

“Saya berharap budaya menulis dapat mulai dibiasakan kepada para siswa, setidaknya dengan menuliskan apa yang mereka lihat dan alami sehari-hari,” pungkasnya.

Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, para peserta tampak antusias mengulas berbagai tema dalam buku Man Nahnu 6, mulai budaya, pendidikan, politik, olahraga, ekonomi hingga isu-isu aktual lokal maupun nasional.

Kepala SMPN 1 Glagah, Dardiri mengaku terkesan dengan gaya penulisan Samsudin yang dinilai khas dan mengalir.

“Tulisan Samsudin Adlawi sangat khas dan mengalir. Enak dibaca. Pilihan katanya sangat beragam. Ini menandakan penulis sangat menguasai persoalan,” ujarnya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Man Nahnu 6 #bedah buku Banyuwangi #literasi guru SMP #budaya menulis Banyuwangi #samsudin adlawi