RADARBANYUWANGI.ID - Para ilmuwan akhirnya berhasil memecahkan salah satu teka-teki lama dalam dunia persepsi visual manusia: bagaimana otak memahami warna. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa persepsi terhadap hue, saturasi, dan tingkat terang warna ternyata dapat dijelaskan melalui pendekatan geometri matematis.
Riset tersebut dipimpin ilmuwan dari Los Alamos National Laboratory, Roxana Bujack. Tim peneliti menggunakan pendekatan geometri untuk memetakan bagaimana manusia membedakan warna berdasarkan persepsi visual. Temuan itu sekaligus memperkuat teori fisikawan legendaris Erwin Schrödinger yang pertama kali diajukan hampir satu abad lalu.
Dalam keterangannya, Bujack menjelaskan bahwa kualitas warna tidak semata-mata dibentuk oleh pengalaman budaya atau proses belajar manusia.
“Kami menyimpulkan bahwa kualitas warna ini bukan muncul dari konstruksi eksternal tambahan seperti budaya atau pengalaman belajar, melainkan mencerminkan sifat intrinsik dari metrik warna itu sendiri,” ujar Roxana Bujack, dikutip SciTechDaily.
Ia menambahkan, sistem geometris tersebut merepresentasikan jarak persepsi antarwarna, yakni seberapa berbeda dua warna terlihat di mata manusia.
Penelitian ini dipresentasikan dalam Eurographics Conference on Visualization dan menjadi bagian dari proyek besar mengenai persepsi warna yang sebelumnya juga menghasilkan publikasi penting pada 2022 di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Baca Juga: NASA Selangkah Lagi Selamatkan Swift Observatory, Wahana Robotik LINK Rampungkan Uji Lingkungan
Secara biologis, mata manusia memiliki tiga jenis sel kerucut yang sensitif terhadap cahaya merah, hijau, dan biru. Kombinasi ketiganya membentuk apa yang dikenal sebagai “ruang warna” tiga dimensi.
Pada abad ke-19, matematikawan Bernhard Riemann mengusulkan bahwa ruang persepsi tersebut kemungkinan memiliki bentuk melengkung, bukan datar. Gagasan itu kemudian dikembangkan Schrödinger pada 1920-an melalui model matematika berbasis geometri Riemannian untuk menjelaskan hue, saturasi, dan tingkat terang warna.
Namun, selama beberapa dekade, teori tersebut menyisakan celah matematis yang belum terselesaikan. Salah satunya terkait “sumbu netral”, yakni garis gradasi abu-abu dari hitam ke putih.
Dalam model Schrödinger, posisi warna terhadap sumbu netral sangat penting. Masalahnya, sumbu tersebut tidak pernah didefinisikan secara matematis.
Tim Los Alamos akhirnya berhasil mendefinisikan sumbu netral sepenuhnya melalui geometri metrik warna. Untuk mencapai hasil itu, mereka melampaui kerangka Riemannian tradisional dan menggunakan pendekatan non-Riemannian.
Penelitian ini juga memperbaiki dua persoalan klasik lain dalam persepsi warna. Salah satunya adalah efek Bezold-Brücke, yakni fenomena ketika perubahan intensitas cahaya membuat warna tampak berubah.
Alih-alih menggunakan pendekatan garis lurus seperti model lama, para peneliti menerapkan konsep “jalur terpendek” di dalam ruang persepsi warna. Pendekatan serupa juga dipakai untuk menjelaskan fenomena menurunnya sensitivitas manusia terhadap perbedaan warna yang semakin besar.
Dengan kata lain, semakin jauh perbedaan dua warna, manusia justru makin sulit membedakannya secara akurat.
Pemahaman yang lebih presisi mengenai persepsi warna diyakini akan berdampak luas pada berbagai bidang teknologi. Mulai dari fotografi, video, pencitraan ilmiah, hingga analisis data visual.
Model warna yang lebih akurat juga dapat membantu ilmuwan membaca informasi kompleks secara lebih efektif, termasuk untuk kebutuhan simulasi canggih dan riset keamanan nasional.
Temuan terbaru ini sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan model persepsi warna generasi berikutnya berbasis ruang non-Riemannian.
Editor : Lugas Rumpakaadi