RADARBANYUWANGI.ID - Para astronom yang menggunakan NASA melalui James Webb Space Telescope berhasil memperoleh gambaran paling jelas sejauh ini mengenai permukaan eksoplanet berbatu bernama LHS 3844 b atau “Kua’kua”. Planet tersebut disebut sebagai dunia tandus tanpa atmosfer yang lebih menyerupai versi raksasa Merkurius dibandingkan Bumi.
Temuan itu dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pekan ini. Para peneliti menyebut LHS 3844 b kemungkinan dipenuhi batuan vulkanik gelap dan regolit kuno, yakni puing-puing batuan yang terbentuk akibat hantaman radiasi dan mikrometeorit selama miliaran tahun.
Astronom Laura Kreidberg, penulis senior studi tersebut, menggambarkan kondisi planet itu sangat ekstrem dan tidak ramah bagi kehidupan.
Baca Juga: Koper Haji Mulai Dikumpulkan, CJH Banyuwangi Kini Terima Tiga Kartu Identitas Sejak dari Daerah
“Planet ini bukanlah tempat yang menyenangkan. Ini adalah batuan tandus yang mengerikan, jauh lebih mirip Merkurius daripada Bumi,” ujar Kreidberg.
Planet tersebut berada sekitar 49 tahun cahaya dari Bumi dan mengorbit bintang katai merah kecil. LHS 3844 b menyelesaikan satu kali orbit hanya dalam waktu 11 jam. Kondisi itu membuat planet mengalami penguncian pasang surut, di mana satu sisi selalu menghadap bintangnya sementara sisi lain terus berada dalam kegelapan.
Akibatnya, perbedaan suhu di planet tersebut sangat ekstrem. Para ilmuwan mencatat sisi siang mencapai sekitar 725 derajat Celsius, sedangkan sisi malam nyaris tidak memancarkan panas yang dapat terdeteksi.
Dengan memanfaatkan instrumen inframerah milik James Webb, para astronom dapat menganalisis langsung cahaya yang berasal dari permukaan planet. Metode tersebut menjadi salah satu terobosan penting dalam penelitian eksoplanet.
Penulis utama studi, Sebastian Zieba, mengatakan setiap jenis batuan memiliki karakteristik spektral yang berbeda sehingga dapat dikenali melalui pengamatan teleskop.
“Batuan yang berbeda memiliki sidik jari spektral yang berbeda. Batuan vulkanik gelap seperti basal lebih sesuai dengan pengamatan kami dibanding batuan terang seperti granit,” kata Zieba.
Penelitian ini juga menandai fase baru dalam studi eksoplanet. Jika sebelumnya para ilmuwan lebih banyak meneliti atmosfer planet asing, kini pengamatan mulai beralih pada analisis geologi dan komposisi permukaan secara langsung.
Sejak mulai beroperasi pada 2022, James Webb telah mengubah pemahaman ilmuwan mengenai planet di luar tata surya. Teleskop tersebut membantu mengungkap komposisi atmosfer, pola cuaca, hingga karakteristik permukaan planet yang berada sangat jauh dari Bumi.
Para peneliti menegaskan, tidak adanya atmosfer di LHS 3844 b membuat planet tersebut hampir tidak memiliki perlindungan dari radiasi bintang. Kondisi itu juga memperkecil kemungkinan keberadaan air cair yang menjadi unsur penting bagi kehidupan.
“Jadi secara keseluruhan, ini hampir pasti bukan dunia yang layak huni,” tutur Zieba.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : MinaNews.net