RADARBANYUWANGI.ID - Sekitar 232 juta tahun lalu, Bumi mengalami salah satu perubahan iklim paling ekstrem dalam sejarah geologi. Selama lebih dari satu juta tahun, curah hujan meningkat drastis di berbagai wilayah dunia. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Peristiwa Pluvial Karnia atau Carnian Pluvial Episode, fase penting pada akhir periode Trias yang mengubah ekosistem global dan menjadi titik awal kebangkitan dinosaurus.
Mengutip Mongabay.co.id, sebelum fase ini terjadi, hampir seluruh daratan Bumi masih menyatu dalam superkontinen raksasa Pangea. Kondisi tersebut membuat sebagian besar wilayah pedalaman mengalami iklim sangat panas dan kering. Gurun mendominasi bentang alam, terutama di area yang jauh dari pengaruh laut.
Penelitian terhadap batuan sedimen dari periode Trias menunjukkan banyak wilayah kala itu dipenuhi endapan gurun dan mineral evaporit, tanda bahwa curah hujan sangat rendah selama jutaan tahun. Tumbuhan dan hewan yang hidup pada masa tersebut harus beradaptasi dengan lingkungan keras dan kekurangan air.
Namun kondisi itu berubah drastis sekitar 232 juta tahun lalu. Catatan geologi dari berbagai belahan dunia menunjukkan transisi cepat dari lingkungan kering menuju kondisi jauh lebih basah. Lapisan batuan gurun mulai tergantikan oleh endapan sungai, rawa, dan lumpur kaya bahan organik.
Perubahan tersebut ditemukan di Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika Utara, hingga Asia. Hal itu menjadi bukti bahwa fenomena tersebut berlangsung dalam skala global.
“Curah hujan meningkat selama ratusan ribu hingga lebih dari satu juta tahun, mengubah wilayah tandus menjadi habitat yang dipenuhi vegetasi,” demikian kesimpulan sejumlah penelitian paleoklimatologi mengenai periode Karnia.
Dampaknya sangat besar terhadap bentang alam Bumi purba. Sungai baru terbentuk dalam jumlah besar, banjir lebih sering terjadi, dan erosi mengubah bentuk lembah serta wilayah pesisir. Danau juga meluas hingga ke pedalaman benua.
Para ilmuwan menemukan bukti tambahan berupa perubahan isotop karbon pada lapisan batuan dari periode tersebut. Temuan itu menunjukkan adanya gangguan besar pada siklus karbon global yang diduga dipicu pelepasan gas rumah kaca dalam jumlah masif ke atmosfer.
Penyebab utama Peristiwa Pluvial Karnia diyakini berasal dari aktivitas vulkanik raksasa di kawasan Wrangellia Large Igneous Province, wilayah vulkanik purba yang kini berada di sekitar Alaska dan Kanada bagian barat. Sistem letusan lava berskala besar itu berlangsung selama jutaan tahun dan melepaskan karbon dioksida dalam jumlah sangat besar.
Kenaikan kadar karbon dioksida memicu pemanasan global. Laut menjadi lebih hangat, tingkat penguapan meningkat tajam, dan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air. Kondisi tersebut kemudian menghasilkan curah hujan jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Selain karbon dioksida, aktivitas vulkanik juga melepaskan sulfur dan aerosol yang memengaruhi sistem iklim global. Sejumlah penelitian menyebut fase Karnia kemungkinan diwarnai periode pemanasan dan pendinginan singkat yang terjadi berulang.
Bentuk superkontinen Pangea turut memperburuk situasi. Perbedaan suhu besar antara daratan dan lautan menciptakan sistem monsun purba yang jauh lebih kuat dibanding monsun modern. Kelembapan terdorong jauh ke pedalaman benua dan menghasilkan hujan berkepanjangan.
Perubahan iklim tersebut memicu reorganisasi besar pada ekosistem daratan. Vegetasi yang cocok di lingkungan kering mulai berkurang dan digantikan tumbuhan penyuka kelembapan. Hutan konifer meluas, sementara paku-pakuan dan tumbuhan rawa mendominasi lanskap baru yang lebih basah.
Lingkungan lembap memberi keuntungan besar bagi amfibi purba. Beberapa spesies temnospondyl bahkan tumbuh hingga ukuran raksasa dan menjadi predator utama di rawa serta sungai. Habitat air tawar yang semakin luas juga mendorong diversifikasi ikan dan reptil semiakuatik.
Namun perubahan ini menjadi bencana bagi banyak spesies lain. Kelompok reptil archosaur non-dinosaurus yang sebelumnya mendominasi mulai mengalami penurunan populasi besar karena gagal beradaptasi terhadap perubahan suhu, kelembapan, dan vegetasi.
Dampak besar juga terjadi di lautan. Aliran air tawar dalam jumlah masif mengubah tingkat salinitas di wilayah pesisir. Pada saat yang sama, tingginya karbon dioksida membuat laut semakin asam sehingga membahayakan organisme bercangkang seperti karang dan moluska.
“Perubahan iklim global pada periode Karnia menyebabkan kepunahan sejumlah spesies, tetapi pada saat yang sama membuka relung ekologi baru bagi kelompok hewan lain untuk berkembang,” tulis sejumlah paleontolog dalam kajian mengenai akhir periode Trias.
Salah satu kelompok yang paling diuntungkan adalah dinosaurus awal. Sebelum Peristiwa Pluvial Karnia, dinosaurus masih merupakan kelompok kecil yang hidup berdampingan dengan reptil purba lain yang lebih dominan.
Ketika banyak pesaing mereka melemah akibat perubahan lingkungan global, dinosaurus mulai berkembang lebih cepat. Beberapa ilmuwan menduga dinosaurus memiliki sistem pernapasan lebih efisien dan postur tubuh tegak yang membuat mereka bergerak lebih hemat energi.
Dalam beberapa juta tahun setelah periode Karnia, dinosaurus mulai menyebar ke berbagai wilayah Pangea. Fosil dinosaurus awal seperti Eoraptor dan Herrerasaurus menunjukkan kelompok ini berkembang pesat setelah fase hujan ekstrem tersebut.
Dominasi penuh dinosaurus memang baru terjadi pada periode Jura. Namun banyak paleontolog menganggap Peristiwa Pluvial Karnia sebagai titik awal kebangkitan mereka.
Tanpa perubahan iklim besar tersebut, dinosaurus kemungkinan tidak akan pernah menjadi penguasa daratan selama lebih dari 160 juta tahun. Hingga kini, jejak Peristiwa Pluvial Karnia masih tersimpan dalam lapisan batuan dan fosil yang membantu ilmuwan memahami bagaimana perubahan iklim dapat mengubah arah evolusi kehidupan di Bumi.
Editor : Lugas Rumpakaadi