Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pakar ITB Tegaskan Mobil Listrik Tak Mudah Mogok di Rel Kereta, Gangguan Elektromagnetik Dinilai Terlalu Lemah Pengaruhi Sistem Kendaraan

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 30 April 2026 | 09:31 WIB
Pakar ITB menegaskan mobil listrik tahan gangguan elektromagnetik sehingga kecil kemungkinan mogok di rel kereta. (JawaPos.com)
Pakar ITB menegaskan mobil listrik tahan gangguan elektromagnetik sehingga kecil kemungkinan mogok di rel kereta. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Isu mobil listrik (electric vehicle/EV) yang berpotensi mati mendadak saat melintasi rel kereta api (KA) dinilai tidak berdasar secara teknis. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan bahwa kendaraan listrik modern telah dirancang tahan terhadap gangguan elektromagnetik.

“Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api, karena medan elektromagnetik yang dihasilkan rel terlalu lemah untuk memengaruhi sistem kelistrikan kendaraan,” ujar Yannes, Rabu (29/4/2026), dikutip Antara.

Menurut dia, baik kendaraan listrik maupun mobil berbahan bakar konvensional (ICE) memiliki ketahanan terhadap paparan medan elektromagnetik dari lingkungan sekitar, termasuk rel kereta.

Yannes menjelaskan, setiap mobil listrik modern wajib melewati serangkaian pengujian ketat sebelum dipasarkan. Pengujian tersebut mencakup standar internasional seperti ISO 11451 dan ISO 11452 yang menguji ketahanan terhadap paparan medan elektromagnetik.

Selain itu, terdapat pula ISO 7637 yang menguji sistem tegangan tinggi, serta regulasi UNECE R10 dan standar CISPR yang mengatur emisi radiasi kendaraan.

“Ini adalah regulasi wajib yang harus dipenuhi sebelum kendaraan boleh dipasarkan di banyak negara. Artinya, setiap EV yang dipasarkan secara legal wajib melewati serangkaian pengujian ini,” tegasnya.

Dengan adanya standar tersebut, Yannes menilai kecil kemungkinan gangguan dari rel kereta dapat mematikan kendaraan. Jika hal itu benar terjadi, semestinya sudah terdeteksi sejak tahap sertifikasi.

Sebaliknya, ia menekankan bahwa penyebab mobil listrik mogok di rel lebih rasional berasal dari faktor internal kendaraan. Salah satu yang kerap terjadi adalah melemahnya baterai tegangan rendah 12 volt (aki) yang berperan penting dalam proses awal (booting) sistem kendaraan.

Selain itu, gangguan sensor akibat getaran, hingga aktivasi otomatis fitur keamanan seperti immobilizer juga dapat menyebabkan kendaraan berhenti mendadak.

“Ketika sistem mendeteksi anomali, fitur keamanan steering lock atau immobilizer bisa aktif secara otomatis dan mengunci seluruh sistem kendaraan,” jelas Yannes.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah gangguan pada sistem manajemen baterai (Battery Management System/BMS). Kesalahan dalam membaca arus listrik atau estimasi kapasitas baterai (State of Charge/SOC) dapat memicu sistem mematikan kendaraan secara otomatis.

“Gangguan komunikasi BMS berpotensi menyebabkan kesalahan dalam pembacaan arus listrik atau estimasi SOC yang berujung pada keputusan sistem seperti padam mendadak,” imbuhnya.

Tak hanya itu, kegagalan pada komponen vital seperti inverter atau konverter DC-DC juga dapat menyebabkan hilangnya daya secara tiba-tiba.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#EV Indonesia #gangguan elektromagnetik #teknologi otomotif #rel kereta api #Mobil Listrik