Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Inovasi Dispendik Banyuwangi Tekan Anak Putus Sekolah, Suratno Raih SoJ Awards 2026 Pelopor Pendidikan Inklusif

Sigit Hariyadi • Rabu, 28 Januari 2026 | 22:30 WIB

H Suratno SPd MM, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi.
H Suratno SPd MM, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID - Komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam menjamin hak pendidikan bagi seluruh anak kembali menuai apresiasi.

H Suratno SPd MM, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, dianugerahi Sunrise of Java (SoJ) Awards 2026 sebagai Pelopor Inovasi Penuntasan Anak Putus Sekolah.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kerja panjang dan konsisten dalam memastikan tak satu pun anak Banyuwangi tertinggal dari hak dasar memperoleh pendidikan.

Di bawah kepemimpinan Suratno, Dinas Pendidikan Banyuwangi dinilai berhasil menghadirkan kebijakan yang berpihak pada inklusivitas dan keadilan.

Pendidikan tidak semata dilihat sebagai urusan sekolah, melainkan sebagai tanggung jawab bersama yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, hingga budaya masyarakat.

Menjemput Anak yang Tertinggal

Salah satu fondasi utama keberhasilan tersebut adalah Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh).

Program ini dirancang sebagai upaya aktif untuk menelusuri, mendampingi, dan mengajak kembali anak-anak yang sempat berhenti sekolah agar kembali mengenyam pendidikan.

Lewat Garda Ampuh, Dispendik tidak menunggu anak datang ke sekolah, tetapi justru menjemput mereka ke rumah, ke desa-desa, hingga ke titik-titik rawan putus sekolah.

Anak-anak yang terkendala ekonomi, masalah keluarga, atau persoalan sosial diarahkan kembali ke jalur pendidikan, baik melalui sekolah formal maupun pendidikan kesetaraan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Pendekatan ini membuat pendidikan menjadi lebih manusiawi, fleksibel, dan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Desa Jadi Garda Terdepan Pendidikan

Inovasi lain yang menjadi perhatian adalah Program Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar (Rindu Bulan).

Program berbasis desa ini memastikan seluruh anak usia sekolah tetap mengenyam pendidikan hingga jenjang menengah.

Desa dilibatkan secara aktif sebagai garda terdepan pengawasan pendidikan anak-anaknya.

Program Rindu Bulan diperkuat dengan kebijakan zero dropout, yakni langkah pencegahan agar siswa tidak berhenti sekolah di tengah jalan.

Begitu terdeteksi potensi putus sekolah, intervensi cepat langsung dilakukan.

Mulai dari bantuan ekonomi, pendampingan keluarga, hingga solusi sosial yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Solidaritas Lewat Siswa Asuh Sebaya

Dinas Pendidikan Banyuwangi juga menggulirkan program Siswa Asuh Sebaya (SAS).

Program ini mendorong kepedulian antarsiswa agar saling menjaga dan mendukung keberlangsungan pendidikan teman-temannya. Solidaritas tumbuh dari lingkungan sekolah itu sendiri.

Upaya tersebut dilengkapi dengan berbagai dukungan konkret, seperti bantuan uang saku, fasilitas transportasi, hingga jalur pendidikan alternatif melalui program kesetaraan bagi anak-anak dan warga yang sempat tertinggal pendidikan.

Kolaborasi dan Pendekatan Data

Keberhasilan menekan angka anak putus sekolah tidak lepas dari pendekatan kolaboratif yang diterapkan Dispendik Banyuwangi.

Pemetaan berbasis data dilakukan secara berkala untuk mengidentifikasi anak tidak sekolah (ATS).

Tim kemudian melakukan jemput bola hingga tingkat desa dan keluarga, memastikan setiap anak mendapatkan solusi yang tepat sesuai minat dan kondisi mereka.

“Upaya ini tidak hanya menurunkan angka putus sekolah, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia,” ujar Suratno.

Ia menegaskan, inovasi yang dijalankan Dispendik Banyuwangi menjadi bukti bahwa kehadiran negara di sektor pendidikan harus benar-benar dirasakan hingga lapisan paling bawah.

Dampak Nyata di Lapangan

Hasilnya pun nyata. Data menunjukkan jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Banyuwangi turun drastis.

Dari 11.650 orang pada awal 2024, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 5.481 anak pada November 2025.

Capaian ini mencerminkan efektivitas kebijakan sekaligus kuatnya sinergi antara pemerintah, sekolah, desa, dan masyarakat.

Penghargaan SoJ Awards 2026 yang diterima Suratno menjadi simbol keberhasilan kerja kolektif tersebut.

Lebih dari sekadar prestasi, capaian ini menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah jalan utama memastikan masa depan Banyuwangi tumbuh adil, inklusif, dan berkelanjutan. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#pendidikan inklusif #dinas pendidikan banyuwangi #tekan anak putus sekolah