RADARBANYUWANGI.ID - Balai Bahasa Jatim meluncurkan produk terjemahan buku cerita anak dwibahasa di Hotel Mercure Surabaya, Senin (24/11). Yang menggembirakan, bulan ini sebanyak 13 cerita anak berbahasa Oseng resmi dirilis.
Perkembangan literasi berbahasa Oseng di Banyuwangi semakin menggeliat. Para penulis berbahasa Oseng menjadi kekuatan baru dalam program penerjemahan dan penulisan karya sastra daerah yang digagas Balai Bahasa Jawa Timur sejak 2021.
Tahun ini karya-karya mereka mendominasi hasil kurasi dan menandai kebangkitan generasi baru penulis bahasa daerah.
Tahun 2023 hanya tiga buku berbahasa Oseng yang lolos. Tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 13 buku cerita anak.
Tiga belas karya tersebut antara lain Misteri Naga Listrik karya Lisa Dwi Susanti dan Siji, Loro, Telu, Tarik dan Keneng Tundhik karya Andi Sep Kurniawan. Sukamade Akeh Penyune ditulis oleh Lailatul Badriyah, Oh Gedigu Ceritane karya dari Rayhan Rizki Fadhillah, dan Kembang Mawar Duwene Sekar karya dari Nur Aini.
Selanjutnya buku berjudul Paran Hang Kelap-Kelip ditulis oleh Novi Susanti, serta buku Keluwung Ring Kampung Using dan Dandang Dumpil dari M. Sadam Muarif dan Kelemben Mina tulisan dari Ratih Puspa Sari.
Berikutnya Nyanthing Gajah Uling merupakan buku yang ditulis oleh Nur Aini, Jogi Hang Gathek oleh Wahyu Rizki Kurnaini, serta Umah Kemiren merupakan karya Putri Nurul Azizah.
Nur Holipah, satu dari 13 penulis buku merupakan salah satu figur awal yang bergabung dalam program ini sejak 2021 sebagai penerjemah karya sastra berbahasa Oseng.
“Pertama kali saya hanya bertugas sebagai penerjemah karya-karya terdahulu. Namun di 2024, saya juga terlibat sebagai penulis. Alhamdulillah, setiap tahun jumlah penulis berbahasa Oseng semakin banyak,” ungkapnya.
Tahun ini Holipah menerbitkan karya berjudul “Markas Anyare Bayu”, terinspirasi dari anak-anak yang bermain membuat pondok kecil menyerupai rumah adat Oseng di depan rumahnya.
“Saya tumbuh di lingkungan yang masih kental dengan rumah adat Oseng, jadi ide itu sangat dekat dengan kehidupan saya,” ujarnya.
Menulis dalam Bahasa Oseng bukan hal baru bagi Holipah. Ia mulai menulis sejak 2013 saat mengikuti lomba menulis berbahasa Oseng di SMPN 1 Banyuwangi.
Pada tahun 2015 ia mulai aktif menerjemahkan karya Oseng ke dalam Bahasa Indonesia.
“Basic saya menulis cerpen, tetapi menulis cerita anak ternyata jauh lebih sulit. Saya akan terus belajar agar bisa menghidupkan lebih banyak cerita anak berbahasa Oseng,” tambahnya.
Kehadiran para penulis ini bukan hanya ikut melestarikan bahasa Oseng, tetapi juga memperkenalkan budaya Banyuwangi kepada anak-anak melalui cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat lokal.
Penulis lain yang menjadi sorotan adalah Andi Sep Kurniawan, yang tahun ini kembali mencatat prestasi dengan dua karyanya yang lolos kurasi berjudul Siji Loro Telu Tarik dan Keneng Tundhik.
Inspirasi Andi datang dari pengalaman masa kecil dan kehidupan sehari-hari masyarakat Banyuwangi.
“Saya menulis berdasarkan apa yang saya alami sebagai orang Oseng. Banyak nilai dan cerita dari masa kecil yang saya jadikan bahan untuk karya saya,” tuturnya.
Andi mulai menulis berbahasa Oseng sejak 2012 saat dia masih duduk di bangku SMK. Kala itu dia diajak seorang teman mengikuti lomba menulis.
Kini, ia menjadi satu-satunya penulis Berbahasa Oseng yang lolos seleksi pada 2025 oleh Balai Bahasa Jatim.
Pada peluncuran buku dwibahasa di Hotel Mercure Surabaya (24/11), salah satu karyanya bahkan ditampilkan secara kolosal oleh anak-anak berkebutuhan khusus.
”Saya bangga karya saya dibawakan oleh teman-teman berkebutuhan khusus dalam acara tersebut,” ucapnya.
Andi berharap keberadaan buku cerita anak berbahasa Oseng dapat menjadi sarana penting untuk pelestarian bahasa daerah di Banyuwangi.
“Saya berharap bahasa Oseng bisa terus lestari di generasi muda di Banyuwangi. Dengan adanya karya buku cerita anak berbahasa Oseng, semoga semakin membantu anak-anak untuk lebih mengenal bahasa asli Banyuwangi,” ujarnya.
Bulan ini, sebanyak 13 cerita anak Berbahasa Oseng resmi dirilis sebagai bagian dari program penerjemahan dan produksi buku cerita anak dwibahasa 2025 oleh Balai Bahasa Jatim.
Belasan judul ini menjadi yang terbanyak diproduksi dalam satu periode untuk kategori Bahasa Oseng.
Program yang digarap sejak Februari 2025 itu melibatkan 200 tenaga kreatif. Rinciannya, 103 penulis, 50 penerjemah, 41 ilustrator, 12 penelaah, dan 15 penyunting.
Mereka bekerja mengembangkan total 123 judul cerita anak yang menggabungkan unsur Steam dan kekhasan lokal Jawa Timur. (cw5-Dalila Adinda/aif)
Editor : Ali Sodiqin