Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dosen dan Mahasiswa Jurusan Pertanian Poliwangi Berhasil Kembangkaan Formulasi Pupuk Kandang Baru untuk Kelompok Tani Bangsring Sejahtera, Wongsorejo

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 26 September 2025 | 22:09 WIB
Sejumlah dosen dan mahasiswa Prodi D4 Teknologi Produksi Ternak Poliwangi memberikan pelatihan pengolahan limbah kandang jadi pupuk organik dengan formulasi baru pada pada Poktan Bangsring Sejahatera.
Sejumlah dosen dan mahasiswa Prodi D4 Teknologi Produksi Ternak Poliwangi memberikan pelatihan pengolahan limbah kandang jadi pupuk organik dengan formulasi baru pada pada Poktan Bangsring Sejahatera.

 

RADARBANYUWANGI.ID - Sejumlah dosen dan mahasiswa dari Jurusan Pertanian Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) melakukan pelatihan pengolahan limbah kandang menjadi pupuk organik kepada Kelompok Tani (Poktan) Bangsring Sejahtera di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, sebagai implementasi hasil penelitian mereka untuk memecahkan permasalahan petani dan peternak setempat.

Sebagai komitmen untuk terus aktif dalam memajukan pertanian khususnya di wilayah Banyuwangi, kali ini tim yang terdiri dari 3 dosen yakni, Dwi Ahmad Priyadi, S.Pt., M.Sc., Meireni Cahyowati, S.Pt.,M.Sc.,  Mohamad Ilham Hilal, S.ST., M.ST. serta dua mahasiswa yakni, Fernado Injar Pangestu serta Danar Adi Darmawan dari Jurusan Pertanian Program Studi (Prodi) Teknologi Produksi Ternak, mereka memberikan suatu terobosan terkait permasalahan yang terjadi pada petani dan peternak di wilayah Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi berupa limbah ternak yang belum teratasi secara baik, seperti limbah kotoran kambing, sapi, ayam, dan limbah pertanian lain (sabut kelapa, bonggol jagung, jerami, sekam padi).

Atas dasar permasalahan tersebut, Tim yang diketuai oleh Dwi Ahmad Priyadi, S.Pt., M.Sc., selaku dosen dari Prodi D4 Teknologi Produksi Ternak Poliwangi menggelar kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organik asal limbah kandang pada Minggu dan Senin kemarin (21-22/9). Dalam pelatihan tersebut, dosen beserta mahasiswa mengedukasi petani dengan memperkenalkan alat pengayak yang dapat digunakan untuk memisahkan kotoran mentah yang halus dan kasar, atau untuk mengayak pupuk jadi sehingga berukuran seragam. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2024 kegiatan berfokus pada pengenalan pembuatan pupuk dan tahun 2025 ini berfokus pada peningkatan kualitas pupuk dengan penerapan formula dan alat baru.

“Alat tersebut (alat pengayak) digunakan untuk memisahkan partikel kasar pada bahan baku seperti batu, kotoran yang menggumpal, atau kotoran kambing yang masih kasar, atau untuk mengayak pupuk yang telah matang dipisahkan dari pengotornya. Sehingga diharapkan petani dapat meningkatkan kualitas pupuknya, “ ujar Dwi Ahmad selaku Ketua tim penelitian tersebut.

Menurut Dwi, perlu ada formula baru pada produksi pupuk ternak yang selama ini dilakukan oleh petani dan peternak Desa Bangsring. Hal ini dikarenakan formula pupuk sebelumnya didesain sangat sederhana dan bergantung pada kuantitas limbah ternak yang dihasilkan. “Formula sebelumnya itu kotoran kambing atau domba yang telah dihaluskan sebanyak 75%, dedaunan kering atau sejenisnya 20%, larutan bakteri 5% (campuran molases 250 g, bakteri EM4 250 g, air 5 liter). Kelemahan dari formula ini ialah sangat ketergantungan dengan ketersediaan kotoran kambing/domba yang menjadi satu-satunya bahan utama, sehingga volume produksi sangat terbatas” tuturnya.

Dwi menekankan bahwa pada formula yang baru, dimasukkan kotoran sapi 25%, kotoran ayam 10%, dan kotoran kambing atau domba yang digunakan menurun menjadi 50%, dan dedaunan kering menurun menjadi 15%, dan akan menghasilkan pH pupuk yang sesuai pada tanaman. “Formula yang baru, secara teori telah memenuhi standar, yakni C/N (jumlah Carbon terhadap Nitrogen) sebesar 25 dimana standar 15-30, dan ber-pH 6,9 atau berada di kisaran pH normal, dan hal tersebut baik untuk tanaman,” Imbuhnya.

Melalui terobosan ini diharapkan mampu meningkatkan optimalisaasi pada pemanfaatan limbah ternak serta membantu menciptakan singeri yang berdampak positif di lingkungan pertanian wilayah Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo dan sekitarnya. “Melalui terobosan alat ini mampu menciptakan kemandirian petani, yaitu dengan diterapkannya prinsip sustainabilitas pada usaha pertanian. Artinya ada integarasi antara pertanian dan peternakan” pungkas Dwi. (cw5/sgt)

Editor : Sigit Hariyadi
#poktan #poliwangi #wongsorejo #banyuwangi