RADARBANYUWANGI.ID - Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Teknik Universitas Jember (UNEJ) berhasil menyelesaikan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Kementerian Riset dan Teknologi dalam program Hibah DPPM 2025.
Program ini menghadirkan solusi inovatif berupa pengadaan sumber daya air melalui sumur bor serta penerapan sensor kelembapan tanah berbasis Internet of Things (IoT).
Inovasi ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman buah naga di Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldelimo, Kabupaten Banyuwangi.
Program ini melibatkan dosen dan mahasiswa UNEJ, yaitu Ir. Saifuridzal, S.T., M.Eng., Ir. Muhammad Trifiananto, S.T., M.T., Ir. Tatang Maulana Maliq, S.T., M.T., Jeremia Charalova Anugerah Maleke, serta Rifqi Bintang Ramadhan.
Tujuannya adalah menjawab permasalahan irigasi yang selama ini dihadapi para petani buah naga.
Mansur, Ketua Kelompok Tani “Murni” Desa Wringinpitu, menjelaskan bahwa petani selama ini bergantung pada sumber air sungai yang tidak menentu.
Saat musim kemarau panjang, mereka harus menggunakan pompa diesel untuk mengambil air sungai atau bahkan membeli air dari truk tangki, yang tentu saja memerlukan biaya tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Ir. Saifuridzal, S.T., M.Eng., selaku ketua tim peneliti, menegaskan bahwa fokus utama program ini adalah menemukan sumber air tanah baru yang potensial agar dapat menekan biaya operasional dan mengatasi ketidakpastian irigasi.
Pada tahap awal, tim melakukan analisis pemetaan potensi air tanah menggunakan metode overlay Sistem Informasi Geografis (SIG) serta uji geolistrik.
Hasilnya menunjukkan bahwa Desa Wringinpitu memiliki potensi akuifer kategori sedang, dengan luasan mencapai 929.277 hektare.
Uji geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger juga menemukan akuifer potensial pada kedalaman 22,21 hingga 38,89 meter.
Data ini sejalan dengan Peta Hidrogeologi dari Direktorat Geologi Tata Lingkungan yang mengklasifikasikan wilayah tersebut sebagai akuifer produktif sedang.
Proses pengeboran sumur kemudian dilakukan hingga kedalaman 37 meter, sesuai prediksi hasil penelitian.
Sumur bor ini mampu menghasilkan debit air 1,38 liter per detik atau setara dengan 5 meter kubik per jam.
Air bersih dari sumur tersebut kini menjadi sumber utama untuk kebutuhan irigasi.
Selain itu, tim pengabdian juga memperkenalkan sensor kelembapan tanah berbasis IoT pada lahan petani.
Teknologi ini memungkinkan petani memantau kondisi tanah secara real-time melalui aplikasi pada ponsel Android.
Hal ini penting mengingat tanaman buah naga membutuhkan pH tanah antara 5,5 hingga 7,0 untuk menyerap unsur hara secara optimal.
Dengan adanya sumur bor dan teknologi sensor IoT, petani buah naga di Desa Wringinpitu kini dapat mengelola irigasi secara lebih efisien.
Teknologi ini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen buah naga.
Editor : Lugas Rumpakaadi