Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Lewat SAS, Dispendik Dorong Solidaritas sekaligus Cegah Putus Sekolah. Sudah Lebih dari 250 Ribu Siswa Rasakan Manfaatnya

Sigit Hariyadi • Rabu, 30 Juli 2025 | 01:40 WIB
BERBAUR: Bupati Ipuk Fiestiandani berswafoto bersama para pelajar usai peluncuran 3 program pengambangan program SAS dalam rangkaian upacara Hardiknas 2025 di halaman kantor Pemkab Banyuwangi.
BERBAUR: Bupati Ipuk Fiestiandani berswafoto bersama para pelajar usai peluncuran 3 program pengambangan program SAS dalam rangkaian upacara Hardiknas 2025 di halaman kantor Pemkab Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID – Program solidaritas pendidikan bertajuk “Siswa Asuh Sebaya (SAS)” yang dikembangkan Pemkab Banyuwangi tak hanya berhasil mendorong empati dan solidaritas di kalangan pelajar. Lebih dari itu, lebih dari 250 ribu siswa sudah merasakan manfaat program yang digelar sejak 2011 tersebut.

Melalui program SAS, pelajar dari keluarga mampu memberi dana sukarela ke teman sebayanya dari keluarga kurang mampu. Pengelolaannya dilakukan dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa. Sejak diluncurkan pada 2011, hingga menjelang akhir 2024 lalu dana yang berhasil terkumpul sudah lebih dari Rp 27,71 miliar.

Uang yang terkumpul secara periodik dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Seperti untuk beli baju sekolah, sepatu, tas, alat tulis, atau bahkan uang saku bagi siswa yang kurang mampu. Termasuk pula untuk membelikan kacamata hingga sepeda mini agar tidak terlambat datang ke sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi Suratno menjelaskan bahwa program SAS adalah bentuk gerakan sosial dari, oleh, dan untuk siswa yang dilakukan secara langsung di lingkungan sekolah. “Program SAS masih terus berjalan hingga saat ini di semua jenjang pendidikan di Banyuwangi. Ini adalah bentuk kepedulian antarsiswa. Siswa yang mampu membantu teman-teman yang kurang mampu secara ekonomi,” ujarnya.

Suratno menambahkan, program ini bukan hanya memberi manfaat secara materi, namun juga berdampak pada pembentukan karakter sosial siswa. “Tujuan utama SAS adalah untuk membantu siswa yang membutuhkan dengan cepat. Selain itu, program ini juga menumbuhkan jiwa empati di kalangan pelajar dan menekan angka siswa rentan putus sekolah di Banyuwangi,” jelasnya.

Di tingkat sekolah, program SAS telah menjadi kegiatan rutin yang dijalankan secara sukarela oleh para siswa.

Wakil Kepala SMPN 1 Giri Dedi Susanto mengungkapkan bahwa program SAS di sekolahnya berjalan setiap pekan. “Setiap pekan anak-anak menyisihkan sebagian uang jajan mereka. Dana tersebut dikumpulkan siswa SMPN 1 GIRI oleh remaja masjid (remas) sekolah dan dihitung bersama-sama. Ini bentuk solidaritas yang ditanamkan sejak dini,” tuturnya.

Penyaluran bantuan pun dilakukan secara langsung dan cepat. Menurut Dedi, setiap hari ada guru dan siswa yang berjaga di gerbang sekolah untuk menyambut dan mengidentifikasi siswa yang membutuhkan bantuan. “Kalau ada siswa yang datang tanpa perlengkapan sekolah atau menunjukkan tanda-tanda kesulitan ekonomi, uang dari SAS bisa langsung disalurkan. Bantuan biasanya berupa sepatu, tas, alat tulis, dan kebutuhan sekolah lainnya,” terangnya.

Bahkan kata Dedi, dana SAS juga digunakan untuk kifayah atau membantu biaya pemakaman jika ada wali murid yang meninggal dunia. (sgt)

Editor : Sigit Hariyadi
#Dispendik banyuwangi #SAS #banyuwangi