RADARBANYUWANGI.ID - Setiap tahun, bumi mengalami dua titik penting dalam orbitnya yakni perihelion dan aphelion.
Pada tahun 2025, fenomena aphelion akan terjadi pada 4 Juli 2025 pukul 02.54 WIB, ketika Bumi berada sekitar 152 juta kilometer dari Matahari, jarak terjauh dalam orbitnya. Namun, benarkah fenomena ini menyebabkan cuaca lebih dingin? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Aphelion dan Perihelion?
Dalam astronomi, aphelion adalah titik terjauh suatu benda langit dari Matahari dalam orbitnya, sedangkan perihelion adalah titik terdekatnya. Kedua fenomena ini terjadi karena orbit Bumi berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna.
Mengapa Aphelion Terjadi di Musim Panas?
Aphelion biasanya terjadi pada awal Juli, yang juga merupakan musim panas di belahan Bumi utara.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa musim panas justru terjadi saat Bumi berada paling jauh dari Matahari?
Beberapa faktor penentunya antara lain karena kemiringan suhu bumi dan posisi bumi terhadap matahari.
Musim ditentukan oleh kemiringan sumbu Bumi sebesar 23,5 derajat, bukan oleh jarak ke Matahari.
Sementara itu, pada Juli, belahan utara Bumi lebih condong menghadap Matahari, menyebabkan intensitas sinar matahari lebih tinggi dan durasi siang lebih panjang, maka terjadilah musim panas.
Apakah Aphelion Menyebabkan Suhu Dingin?
Menurut BMKG dan BRIN (eks LAPAN), jarak bumi yang lebih jauh dari Matahari saat aphelion tidak berpengaruh signifikan terhadap suhu atau cuaca di permukaan Bumi. Perbedaan intensitas sinar matahari antara aphelion dan perihelion hanya sekitar 7 persen.
Suhu Bumi lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor klimatologis seperti angin muson (misalnya angin timur dari Australia pada musim kemarau), distribusi daratan dan lautan, hingga kondisi atmosfer lokal. Bukan oleh jarak Bumi ke Matahari.
Jadi, penurunan suhu di Indonesia pada Juli bukan akibat aphelion, melainkan karena angin musim kemarau yang dingin dari Australia.
Apakah Aphelion Menyebabkan Cuaca Ekstrem?
Aphelion bukan penyebab cuaca ekstrem. Menurut para ahli, termasuk dari BMKG, aphelion adalah fenomena rutin tahunan yang tidak berdampak signifikan terhadap iklim global atau cuaca ekstrem.
Klaim bahwa aphelion menyebabkan suhu dingin ekstrim atau menimbulkan penyakit adalah hoaks dan tidak didukung oleh fakta ilmiah.
Fenomena aphelion 2025 merupakan peristiwa astronomi biasa yang menandai posisi Bumi terjauh dari Matahari.
Meskipun terjadi pada musim kemarau di Indonesia, tidak ada korelasi langsung antara aphelion dengan suhu dingin atau cuaca ekstrem.
Pemahaman yang tepat tentang aphelion membantu kita membedakan antara fakta ilmiah dan mitos yang menyesatkan. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.
Editor : Lugas Rumpakaadi