RADARBANYUWANGI.ID - Untuk memperkuat literasi geologi sekaligus mengedukasi masyarakat tentang kekayaan alam Ijen Geopark, komunitas Ijen Geopark Youth bersama Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI) menggelar acara Ngaji Geowisata, Rabu lalu (28/5).
Peserta ngaji adalah mahasiswa, pelajar, komunitas Ijen, dan pegiat lingkungan. Tujuannya untuk menggali geowisata danau di Banyuwangi.
Seminar mengangkat tema “Geopark Ijen: Sedimen Danau Sebagai Arsip Masa Lampau”. Acara ini menghadirkan narasumber utama Dr. Adrianus Damanik, ST, MT, seorang peneliti posdoktoral di Institute of Geological Sciences, University of Bern, Swiss.
Diskusi ini dimoderatori oleh Dr. Firman Sauqi N. ST, MT, yang menjabat sebagai Manajer Divisi Riset di Ijen UNESCO Global Geopark.
Seminar dimulai pukul 14.00 WIB di Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI) yang terletak di Jalan Gajahmada, Banyuwangi.
Pembicara menyampaikan materi lewat zoom. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk memperluas networking dan pengalaman ilmiah langsung dari pakar geologi internasional.
Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Seminar seperti ini bisa menjadi sarana ideal untuk belajar, berdiskusi, dan merefleksikan pentingnya memahami warisan geologi sebagai bagian dari pelestarian alam dan kebudayaan.
Panitia acara Ngaji Geowisata, Marco Wiliam, yang juga merupakan komunitas Ijen Geopark Youth mengatakan, kegiatan ini merupaka acara rutin dari komunitas Geopark Ijen dalam fasilitas edukasi terhadap masyarakat secara umum yang dilaksanakan minimal setiap dua minggu sekali di PIGGI.
Marco menjelaskan alasan komunitas geopark mengangkat isu terkait danau di Kawah Ijen yang danaunya memiliki keunikan dan tidak diketahui publik, terutama dari segi geologinya.
Danau di Kawah Ijen cukup unik dan langka. Selain keindahannya, danau tersebut memiliki tingkat keasaman yang sangat rendah yaitu sekitar 0,1 hingga 0,5.
”Ini yang perlu kita lakukan edukasi kepada publik bahwa selain keindahannya danau tersebut juga menyimpan sisi berbahaya,” ungkap Marco.
Sementara itu, Dr. Adrianus Damanik, ST, MT menyampaikan, danau-danau di Indonesia, khususnya yang berada di wilayah Banyuwangi, menyimpan banyak misteri geologi yang hingga kini belum sepenuhnya terpecahkan.
Keunikan karakter geologis, proses terbentuknya, hingga potensi yang tersimpan di balik keindahannya masih membutuhkan kajian ilmiah yang mendalam.
“Danau bukan hanya soal keindahan alam, tapi juga menyimpan jejak sejarah bumi yang luar biasa. Banyak hal yang belum kita pahami sepenuhnya, terutama di kawasan seperti Banyuwangi,” paparnya.
Adrianus mengajak generasi muda untuk tidak hanya menikmati dan menjaga kelestarian danau, tetapi juga terlibat aktif dalam riset dan eksplorasi ilmiah.
”Pelestarian yang berkelanjutan hanya bisa dilakukan jika didukung dengan pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai ilmiah di dalamnya,’’ jelasnya.
Salah satu peserta Ngaji Geowisata, Firman, yang merupakan mahasiswa biologi tingkat 2 dari Universitas Jember mengungkapkan, seminar kali ini memberikan pengalaman yang berbeda dan sangat berkesan.
”Saya dapat insight baru terkait danau di Banyuwangi. Hal menarik yang saya tangkap tentang keterkaitan antara danau dengan climate (suhu). Dari segi geowisatanya di kupas tuntas sehingga sangat menarik dipelajari,’’ kata Firman. (aif)
Editor : Lugas Rumpakaadi