RadarBanyuwangi.id - Payung adalah salah satu inovasi legendaris manusia yang telah digunakan sejak lebih dari 4.000 tahun lalu.
Awalnya berfungsi sebagai pelindung dari terik matahari di Mesopotamia dan Mesir kuno, payung berkembang di Cina menjadi alat tahan air berlapis lilin, sebelum menyebar ke Yunani, Romawi, dan akhirnya Eropa Barat pada abad ke-18.
Pada 1710, Jean Marius di Paris menciptakan payung lipat pertama yang kompak, memicu popularitas aksesori ini di seluruh benua.
Seiring waktu, beragam bahan dan mekanisme dari oil‑paper tradisional hingga payung otomatis modern terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan fungsional dan estetika.
Asal Usul Kuno
Payung pertama kali tercatat dalam peradaban Mesopotamia sekitar 2.300 SM, di mana relief Sargon Agung menggambarkan pelayan memayungi raja dengan struktur mirip payung. Di Mesir kuno sekitar 2.450 SM, digunakan flabellum kipas berbentuk payung dari daun palem dan bulu sebagai simbol status bangsawan dalam upacara keagamaan.
Pengembangan di Asia
Di Cina pada 3.500 SM, kerangka bambu dan kanopi kulit hewan dilapisi lilin atau resin untuk menolak air, menciptakan oil‑paper umbrella pertama. Teknik pembuatan berkembang pesat pada periode Heian Jepang, ketika kertas diperhalus dan pewarna ditambahkan untuk kekuatan air yang lebih baik.
Persebaran ke Yunani dan Romawi
Parasol pendahulu payung modern muncul di Yunani dan Romawi antara 700–400 SM dengan sebutan skiadeion, terutama digunakan wanita kaya untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Setelah kejatuhan Romawi, penggunaan payung sempat meredup hingga Abad Pertengahan.
Payung sebagai Mode di Eropa
Pada abad ke-16 di Eropa, parasol dihidupkan kembali di kalangan bangsawan Prancis dan Italia sebagai aksesori fashion. Inovasi besar muncul pada 1 Januari 1710, ketika Jean Marius memperoleh hak istimewa lima tahun untuk payung lipat kompaknya lazim disebut “pocket parasol-umbrella” yang dapat dilipat menjadi tiga segmen.
Evolusi Mekanisme dan Bahan
1. Payung Lipat dan Otomatis
Penemuan payung lipat Jean Marius memicu produksi massal di Paris, sedangkan abad ke-20 melihat hadirnya payung otomatis dengan tombol satu tekan untuk membuka dan menutup.
2. Inovasi Modern
Bahan ePTFE seperti Gore‑Tex® memadukan waterproof dan breathability untuk aktivitas ekstrem, sedangkan payung reverse-close menahan air di dalam saat ditutup, meminimalkan tetesan.
Payung dalam Budaya dan Bahasa
Kata “umbrella” berasal dari Bahasa Latin umbra (“bayangan”), sedangkan “parasol” dari para‑ + sol (“matahari”). Di Inggris, payung kerap disebut “brolly” atau “gamp”—istilah yang muncul dari tokoh Mrs. Gamp dalam novel Martin Chuzzlewit karya Dickens
Editor : Ali Sodiqin