Bupati Ipuk Fiestiandani meresmikan langsung museum yang diinisiasi Thomas Racharto tersebut. Museum yang diberi nama Omahseum ini berlokasi di Jalan Widuri Nomor 21, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah.
Bupati Ipuk sangat mengapresiasi inisiatif Racharto dalam mengoleksi benda bersejarah hingga menjadi museum. Menurut dia, hal tersebut menjadi sarana edukasi dan destinasi wisata baru di Banyuwangi.
”Saya sangat senang atas inisiatif Pak Thomas Racharto dan keluarga. Omahseum ini adalah wujud dedikasi yang penting untuk wahana edukasi dan wisata sejarah bagi siapa saja yang ingin mengenal Banyuwangi,” kata Ipuk.
Ipuk menyebut, pemkab siap untuk mengintegrasikan Omahseum dalam berbagai program promosi pariwisata. Terlebih, letak Omahseum yang berada di jalur wisata menuju Ijen dan Desa Adat Osing Kemiren dinilai sangat strategis.
”Masyarakat bisa menikmati sejumlah museum. Selain di Museum Blambangan dan Museum Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI), juga bisa ke Omahseum,” jelas Ipuk.
Sementara itu, Thomas Racharto selaku pemilik Omahseum mengaku, berbagai koleksi yang tersedia, termasuk benda-benda kuno. Dia mulai mengoleksi benda-benda tersebut sejak 1971. Hingga kini dia telah mengoleksi sekitar 1.200 koleksi benda kuno.
Ribuan artefak Blambangan kuno, seperti lingga, kendi, manik-manik, kitab kuno, keris, pedang, hingga fosil-fosil tersedia di Omahseum miliknya. Namun, dari berbagai koleksi tersebut, ada salah satu yang menarik yakni naskah kuno Lontar Sritanjung.
Lontar Sritanjung merupakan naskah yang diyakini sebagai legenda asal usul nama Banyuwangi. Naskah ini merupakan koleksi langka dan memiliki arti penting bagi sejarah dan kepercayaan masyarakat Blambangan. ”Rencananya ini akan diajukan oleh perpustakaan daerah sebagai Ingatan Kolektif Nasional (Ikon) ke Perpustakaan Nasional,” tandas Thomas. (tar/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries