Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cerpen Misteri di Stasiun Kalisaga Menjemput Korban Baru Saat Lonceng Terakhir Berbunyi!

Titin Wulandari • Kamis, 25 Juni 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi : Lonceng terakhir di stasiun tua yang menyimpan misteri kelam.(Foto:AI)
Ilustrasi : Lonceng terakhir di stasiun tua yang menyimpan misteri kelam.(Foto:AI)

Radarbanyuwangi.id - Tak banyak orang tahu bahwa sebuah stasiun kecil di jalur lama Pantura pernah menyimpan kisah yang hingga kini masih dibicarakan para petugas kereta malam. Kisah ini bukan sekadar rumor kosong. Cerita ini berawal dari pengalaman seorang petugas sinyal bernama Darman pada tahun 1998.

Saat itu, Darman ditugaskan menjaga stasiun malam seorang diri. Stasiun kecil itu sepi, hanya diterangi lampu kuning redup yang menggantung di sepanjang peron. Tak ada suara selain derit rel besi yang sesekali berbunyi pelan diterpa angin malam.

Malam menunjukkan pukul 23.55 Wib . Kereta terakhir dijadwalkan lewat lima menit lagi. Seperti biasa, sebelum kereta terakhir melintas, lonceng stasiun akan dibunyikan sebagai penanda. Itu adalah prosedur rutin yang sudah dilakukan puluhan tahun.

Baca Juga: Cerpen Horor Pengkhianatan Berujung Maut! Istri Penyihir Membalas Dendam dengan Kutukan Berdarah

Namun malam itu terasa berbeda. Udara mendadak menjadi dingin. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang terasa menusuk hingga ke tulang. Darman mulai merasa tak nyaman.

Ia melihat ke arah ruang tunggu yang kosong, semua bangku kosong, dan tidak ada penumpang satupun, tidak tak ada pedagang dan tak ada siapa pun. Tapi Darman mendengar suara langkah kaki.

Tok… tok… tok…

Suara itu berasal dari ujung peron. Ia menoleh, tapi kosong tidak ada siapa-siapa. Suara langkah itu berhenti. Darman mencoba berpikir logis. Mungkin suara ranting atau benda jatuh tertiup angin. Lalu lonceng berbunyi.

TANG… TANG… TANG…

Dentang pertama normal. Dentang kedua masih normal. Namun pada dentang ketiga, lampu-lampu stasiun berkedip bersamaan.

CETAR… CETAR…

Lalu redup, Darman menelan ludah. Bulu kuduknya berdiri. Saat itulah ia melihat sesuatu di bangku paling ujung ruang tunggu. Ada seseorang yang duduk diam. Padahal sedetik lalu bangku itu kosong. Seorang pria yang berpakaian serba hitam. Topinya menutupi wajah. Tubuhnya tak bergerak sedikit pun.

Darman membeku, dan jantungnya berdetak keras. Ia memberanikan diri mendekat beberapa langkah.“Pak kereta terakhir sebentar lagi datang.” Tak ada jawaban dan pria itu hanya diam.

Darman melangkah lebih dekat. “Pak?” Pria itu perlahan berdiri. Dan gerakannya aneh dan kaku. Seperti tubuh yang dipaksa bergerak. Lalu kepalanya menoleh pelan dan sangat pelan. Saat wajahnya terlihat, kaki Darman hampir lemas.

Baca Juga: Cerpen Horor! Pesan Terakhir dari Kamar Jenazah, Gadis Pemandi Jenazah Mendapat Bisikan Gaib

Pria itu tidak memiliki wajah, tidak ada mata, tidak ada hidung, dan tidak ada mulut. Hanya permukaan kulit pucat rata seperti lilin meleleh.

Darman mundur, tubuhnya gemetar hebat. Pria itu mengangkat tangan. Menunjuk ke arah rel, lalu suara terdengar. Bukan dari mulut, tapi seolah muncul dari udara.

“Kereta terakhir sudah datang”. Bersamaan dengan itu, suara kereta terdengar dari kejauhan. Namun ada yang janggal, tidak ada lampu depan, tidak ada suara klakson. Hanya suara roda besi yang bergesekan dengan rel.

GREEEK… GREEEK…

Sebuah kereta tua perlahan muncul dari kegelapan. Gerbongnya kusam dan penuh karat. Jendelanya hitam, tidak ada logo, dan tidak ada nomor. Kereta itu berhenti tepat di depan peron, pintunya terbuka sendiri.

CIIIT…

Darman terdiam, jantungnya hampir berhenti. Lalu dari dalam gerbong ada puluhan sosok berdiri dan terdiam. Semua menghadap ke arahnya dan semua tanpa wajah. Pria di sampingnya kembali menunjuk ke arah Darman.

“Giliranmu”, suara itu menggema dan Darman menjerit. Ia berlari sekuat tenaga ke ruang control dan mengunci pintu, berdoa sambil gemetar. Di luar, terdengar suara ketukan.

Tok… tok… tok…

Pelan dan teratur, semakin lama semakin keras.

TOK! TOK! TOK!

Darman menutup telinga. Lalu mendengar lonceng kembali berbunyi.

TANG… TANG… TANG…

Baca Juga: Misteri Desa Tanpa Suara Azan, yang Membuat Pendatang Hilang Satu per Satu Saat Magrib

Tiga kali suara lonceng itu dan setelah itu sunyi mencekam. Dan pagi harinya, petugas shift pagi datang dan menemukan Darman dalam kondisi syok berat di ruang kontrol. Wajahnya pucat, matanya kosong. Ia tak pernah benar-benar pulih. Satu-satunya kalimat yang terus ia ulang selama bertahun-tahun adalah, “Jangan jawab jika ada yang memanggil saat lonceng terakhir berbunyi”.

Hingga kini, cerita itu masih beredar di kalangan petugas kereta malam. Konon, pada jam 23.59 Wib, jika lonceng terakhir terdengar lebih dari tiga kali, berarti ada penumpang yang belum turun. Dan mereka masih mencari teman perjalanan berikutnya.(*)

 

TAMAT Cerita ini hanya fiktif belaka. Nama dan tempat kejadian hanya rekaan penulis.

Editor : Titin Wulandari
#cerpen horor #stasiun tua