RADARBANYUWANGI.ID – Hapoel Be’er Sheva datang ke laga pembuka fase liga Liga Europa dengan satu modal penting, kandang. Tetapi ada satu persoalan yang lebih besar. Mereka harus menghadapi Dinamo Zagreb, klub yang jauh lebih terbiasa hidup dalam tekanan pertandingan Eropa.
Pertandingan Hapoel Be’er Sheva kontra Dinamo Zagreb dijadwalkan berlangsung Rabu malam di Superbet Arena-Giulesti. Tuan rumah baru saja mendapatkan suntikan kepercayaan diri setelah menang 2-0 atas Hapoel Petah Tikva di kompetisi domestik. Dinamo Zagreb justru datang dengan luka. Mereka kalah telak 2-4 dari Osijek.
Sekilas, hasil terakhir itu membuat peluang kedua tim tampak berimbang. Namun sepak bola Eropa tidak sesederhana melihat skor pertandingan terakhir. Dinamo memiliki pengalaman yang membuat mereka lebih siap menghadapi pertandingan semacam ini.
Hapoel Be’er Sheva masih mencari kestabilan
Musim lalu menjadi periode penting bagi Hapoel Be’er Sheva. Mereka merebut gelar Ligat ha’Al untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, unggul tiga poin atas Beitar Jerusalem. Gelar tersebut membawa mereka kembali ke jalur kualifikasi Liga Champions.
Perjalanan mereka sebenarnya cukup mengesankan. Hapoel menyingkirkan Vikingur Reykjavik sebelum membuat kejutan dengan mengalahkan Red Star secara agregat 3-0. Tiket menuju fase Liga Champions sudah berada di depan mata. Namun langkah terakhir gagal.
Sabah Baku menjadi penghalang. Hapoel kalah setelah pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu. Mimpi tampil untuk pertama kalinya di Liga Champions pun berubah menjadi tiket ke Liga Europa. Kekecewaan itu kini harus diubah menjadi energi.
Masalahnya, performa Hapoel di awal musim domestik belum meyakinkan. Dari empat pertandingan liga, mereka baru mengemas dua kemenangan.
Enam laga terakhir di semua kompetisi juga menunjukkan grafik yang naik-turun: tiga kemenangan, satu imbang, dan dua kekalahan. Artinya, Hapoel belum benar-benar menemukan ritme yang stabil.
Padahal, mereka punya satu modal yang tidak bisa diabaikan. Tiga pertandingan Eropa yang dimainkan di kandang musim ini seluruhnya berakhir dengan kemenangan. Di situlah harapan mereka bertumpu.
Dinamo Zagreb punya pengalaman yang lebih panjang
Dinamo Zagreb juga gagal mencapai fase utama Liga Champions. Mereka sempat melewati dua babak kualifikasi dengan menyingkirkan FC Thun dan Kauno Zalgiris. Tetapi Viking kemudian menghentikan perjalanan mereka.
Dinamo kalah 1-3 dalam pertandingan tandang setelah sebelumnya hanya bermain imbang pada leg pertama. Kini Liga Europa menjadi panggung berikutnya.
Bagi Dinamo, kompetisi ini bukan sesuatu yang asing. Mereka telah tampil di fase utama Liga Europa beberapa kali dalam enam musim terakhir. Targetnya pun jelas: memperbaiki pencapaian perempat final yang mereka raih pada musim 2020-2021.
Secara domestik, situasinya juga lebih menjanjikan dibanding Hapoel. Dinamo baru mengalami satu kekalahan dari enam pertandingan liga. Mereka berada tiga poin dari posisi teratas dan masih menyimpan satu pertandingan.
Kekalahan 2-4 dari Osijek memang menjadi noda. Tetapi satu hasil buruk tidak otomatis menghapus fondasi performa mereka sejak awal musim. Justru pertandingan itu bisa menjadi alarm bagi lini belakang Dinamo.
Dion Beljo adalah masalah terbesar Hapoel
Ada satu nama yang layak diberi perhatian khusus, Dion Beljo. Striker 24 tahun itu menjadi mesin gol Dinamo musim lalu dengan 31 gol di liga. Produktivitas tersebut ternyata belum berhenti. Pada awal musim ini, Beljo sudah mencetak tujuh gol dan memberikan tiga assist hanya dari lima penampilan di HNL.
Angka itu menjelaskan mengapa Hapoel tidak boleh memberikan ruang terlalu besar di area pertahanan. Beljo bukan sekadar finisher. Ketika Dinamo mampu mengalirkan bola dengan cepat dari lini tengah ke sepertiga akhir, pergerakannya dapat menjadi titik akhir serangan.
Karena itu, duel pertama yang menentukan pertandingan kemungkinan bukan hanya terjadi di kotak penalti. Pertarungannya dimulai dari lini tengah. Jika Hapoel gagal memutus suplai bola kepada Beljo, pertahanan mereka akan menghadapi malam yang panjang.
Hapoel kehilangan dua pemain penting
Tuan rumah tidak turun dengan kekuatan terbaik. Djibril Thialaw Diop dan Eliel Peretz harus menjalani skorsing setelah menerima kartu kuning kedua dalam duel melawan Sabah Baku. Peretz juga baru saja mendapat kartu merah dalam pertandingan Ligat ha’Al.
Situasi Hapoel semakin rumit karena Dan Biton masih menepi akibat masalah jantung. Pemain berusia 31 tahun tersebut merupakan salah satu sumber gol utama setelah mencetak 15 gol liga musim lalu. Roy Levy dan Yoan Stoyanov juga tidak masuk skuad Hapoel untuk kompetisi ini.
Kondisi tersebut membuat Adrian Ugarriza berpeluang menjadi ujung tombak. Di kubu Dinamo, Bruno Goda dipastikan absen karena masih berjuang pulih dari sakit. Daniel Rodriguez juga belum tampil sejak bergabung dari Barcelona.
Robert Mudrazija, Ivan Nevistic, Fran Topic, Noah Nsoki, Aleks Stojakovic, dan Paul Tabinas juga tidak masuk daftar skuad untuk pertandingan ini. Namun kedalaman skuad Dinamo membuat absensi tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan.
Lima duel taktik yang bisa menentukan laga
1. Ugarriza vs dua bek tengah Dinamo
Ugarriza kemungkinan menjadi titik serangan Hapoel setelah absennya Biton. Ia harus mampu menahan bola dan memberi waktu kepada gelandang serta pemain sayap untuk naik. Jika terlalu mudah kehilangan bola, Hapoel akan kesulitan membangun serangan.
2. Beljo vs Miguel Vitor dan Nachmias
Inilah duel paling berbahaya. Beljo sedang panas-panasnya. Hapoel harus menjaga jarak antarlini agar striker Dinamo tidak menerima bola dalam posisi menguntungkan. Satu kelengahan dapat mengubah pertandingan.
3. Lini tengah Hapoel vs Misic
Dinamo kemungkinan berusaha mengontrol tempo dari tengah. Hapoel harus berani melakukan pressing, tetapi jangan sampai garis pertahanan terlalu terbuka. Jika tekanan pertama gagal, Dinamo dapat langsung menyerang ruang di belakang gelandang.
4. Ivanusec dan Zajc mencari celah
Dua pemain di belakang Beljo berpotensi menjadi penghubung utama. Hapoel tidak cukup hanya mengawal striker. Mereka juga harus menutup jalur umpan kepada pemain yang bergerak di antara lini tengah dan pertahanan. Di sinilah disiplin formasi akan diuji.
5. Kandang Hapoel vs pengalaman Dinamo
Tiga kemenangan kandang Hapoel di kompetisi Eropa memberi alasan untuk optimistis.
Tetapi Dinamo memiliki pengalaman yang lebih panjang dalam menghadapi atmosfer pertandingan Eropa. Jika laga berlangsung ketat hingga 60-70 menit, pengalaman itu bisa menjadi pembeda.
Rekor pertemuan memihak Dinamo
Ada fakta lain yang membuat posisi Dinamo lebih nyaman. Dalam empat pertemuan sebelumnya menghadapi klub-klub Israel, Dinamo belum pernah kalah.
Bahkan pada kualifikasi Liga Champions 2018-2019, Dinamo pernah menghancurkan Hapoel Be’er Sheva dengan kemenangan 5-0. Rekor masa lalu memang tidak bisa memenangkan pertandingan. Namun ia menunjukkan bahwa Dinamo bukan lawan yang asing dengan karakter sepak bola Israel.
Prediksi: Hapoel Be’er Sheva 1-2 Dinamo Zagreb.
Hapoel punya alasan untuk percaya diri. Mereka bermain di kandang dan memiliki catatan sempurna dalam tiga pertandingan Eropa kandang musim ini. Tetapi jika pertandingan dibaca lebih dalam, Dinamo mempunyai lebih banyak kartu.
Pengalaman Eropa lebih panjang. Skuad lebih dalam. Performa liga lebih konsisten. Dan yang paling penting, mereka memiliki Beljo yang sedang menikmati periode produktif.
Kekalahan Dinamo dari Osijek memang membuka celah. Namun Hapoel sendiri belum cukup stabil untuk menjadikan hasil itu sebagai jaminan.
Hapoel kemungkinan membuat pertandingan berjalan ketat. Tetapi ketika pertandingan memasuki fase yang membutuhkan ketenangan dan pengalaman, Dinamo Zagreb diprediksi lebih siap mencuri kemenangan. Bagi Hapoel, ini bukan sekadar pertandingan pertama Liga Europa.
Ini adalah kesempatan membuktikan bahwa kegagalan mencapai Liga Champions bukan akhir perjalanan Eropa mereka. Sebaliknya, bagi Dinamo, laga ini adalah kesempatan mengirim pesan bahwa Liga Europa bukan sekadar pelarian setelah gagal di jalur Liga Champions. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi